Gagal jantung masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahunnya. Lebih dari 56 juta orang hidup dengan kondisi ini, dan hampir setengahnya tidak bertahan lebih dari lima tahun setelah diagnosis. Meski terapi farmakologis dan intervensi medis terus berkembang, keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada seberapa dini penyakit dapat dikenali dan seberapa akurat progresivitasnya dapat dipantau. Sayangnya, biomarker yang selama ini digunakan seperti Brain Natriuretic Peptide (BNP) dan N-terminal prohormoneBNP (NT-proBNP) sering dipengaruhi oleh faktor usia, obesitas, gangguan ginjal, serta irama jantung abnormal, sehingga tidak selalu mencerminkan tingkat kerusakan jantung yang sebenarnya.
Dalam upaya mencari biomarker yang lebih presisi, perhatian ilmuwan kini tertuju pada microRNA, molekul kecil pengatur ekspresi gen yang berperan penting dalam berbagai proses penyakit. Salah satu yang paling menonjol dalam konteks kardiovaskular adalah microRNA-21 (miRNA-21), yang diketahui terlibat dalam peradangan, pembentukan jaringan parut jantung, serta remodeling struktural miokardium. Untuk menilai secara menyeluruh potensi miRNA-21 sebagai biomarker gagal jantung, kami melakukan kajian sistematis dan meta-analisis terhadap berbagai penelitian primer yang tersedia. Kami mendapatkan sebanyak 14 studi dengan total lebih dari 1.300 partisipan dianalisis, mencakup pasien gagal jantung akut maupun kronis, baik dengan fraksi ejeksi rendah maupun terpelihara. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar miRNA-21 dalam darah pasien gagal jantung meningkat secara signifikan dibandingkan individu sehat, dengan kenaikan rata-rata sekitar 61 persen. Temuan ini konsisten di berbagai negara dan metode pemeriksaan, menegaskan bahwa miRNA-21 merupakan sinyal molekuler yang stabil dan dapat diandalkan sebagai indikator terjadinya kerusakan jantung.
Yang paling menarik, kami menemukan bahwa akurasi diagnostik miRNA-21 tergolong sangat tinggi dengan sensitivitas mencapai 94 persen dan spesifisitas sebesar 90 persen. Nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,97 menggambarkan kemampuan yang hampir sempurna dalam membedakan pasien sakit dari individu sehat. Dalam konteks klinis, angka ini menunjukkan potensi besar miRNA-21 sebagai alat skrining darah yang sederhana namun sangat presisi. Analisis lanjutan juga memperlihatkan bahwa peningkatan miRNA-21 tidak hanya menandai keberadaan penyakit, tetapi juga mencerminkan tingkat keparahan gagal jantung. Pasien dengan kadar miRNA-21 tinggi memiliki risiko 84 persen lebih besar mengalami perburukan status fungsional jantung berdasarkan klasifikasi New York Heart Association (NYHA). Selain itu, kadar tinggi miRNA-21 berhubungan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga dua kali lipat. Temuan ini memperkuat posisi miRNA-21 sebagai biomarker prognostik yang mampu memprediksi perjalanan penyakit, bukan sekadar mendeteksi diagnosis.
Secara biologis, peran miRNA-21 dalam gagal jantung sangat erat dengan proses fibrosis dan remodeling jantung. Molekul ini mengaktifkan jalur Transforming Growth Factor (TGF)-β/SMAD serta Extracellular Signal-Regulated Kinase/Mitogen-Activated Protein Kinase (ERK-MAPK) yang merangsang produksi matriks ekstraseluler berlebihan dan penumpukan jaringan parut di miokardium. Akibatnya, dinding jantung menjadi lebih kaku dan kehilangan elastisitas, sehingga kemampuan memompa darah menurun secara progresif. Proses ini merupakan salah satu mekanisme utama terjadinya gagal jantung kronis, baik pada pasien dengan fraksi ejeksi rendah maupun terpelihara. Menariknya, miRNA-21 dilepaskan ke dalam sirkulasi darah melalui eksosom ketika sel jantung mengalami stres akibat hipoksia, inflamasi, atau tekanan mekanik berkepanjangan. Hal ini membuat kadar miRNA-21 dalam darah menjadi cerminan langsung perubahan struktural dan molekuler yang terjadi di jaringan jantung. Berbeda dengan BNP yang merefleksikan tekanan hemodinamik, miRNA-21 menggambarkan kerusakan biologis yang lebih mendasar. Inilah yang menjelaskan mengapa miRNA-21 sering meningkat lebih awal sebelum gejala klinis berat muncul.
Beberapa studi yang kami analisis bahkan menunjukkan bahwa miRNA-21 mampu mendeteksi remodeling jantung subklinis, ketika pasien belum menunjukkan tanda gagal jantung yang jelas dan kadar BNP masih relatif normal. Kondisi ini membuka peluang besar untuk intervensi dini yang dapat memperlambat atau bahkan mencegah progresi penyakit menuju fase lanjut yang sulit ditangani. Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan sebelum miRNA-21 dapat diintegrasikan secara luas dalam praktik klinis. Hingga saat ini belum ada nilai ambang baku yang menentukan kadar normal dan patologis miRNA-21. Variasi metode pemeriksaan, mulai dari RT-PCR hingga teknologi sekuensing, juga memengaruhi konsistensi hasil antar studi. Selain itu, aspek biaya dan ketersediaan teknologi molekuler masih menjadi kendala di banyak fasilitas kesehatan, khususnya di negara berkembang.
Oleh karena itu, penelitian lanjutan berskala besar sangat diperlukan untuk menetapkan standar pengukuran yang seragam serta menentukan ambang batas klinis yang valid. Dengan standardisasi yang baik, miRNA-21 berpotensi menjadi biomarker rutin yang digunakan bersama BNP dalam pendekatan kedokteran presisi untuk gagal jantung. Secara keseluruhan, temuan meta-analisis ini menegaskan bahwa miRNA-21 merupakan biomarker darah yang sangat menjanjikan untuk deteksi dini, pemantauan progresivitas, dan prediksi prognosis gagal jantung. Molekul ini tidak hanya merefleksikan adanya penyakit, tetapi juga memberikan gambaran tentang tingkat kerusakan jantung dan risiko kematian di masa depan.
Penulis: Dr. Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Diagnostic and prognostic value of circulating microRNA-21 in heart failure: A systematic review and meta-analysis yang dimuat pada jurnal ilmiah Biomolecules & Biomedicine 26(6):912-923
Link artikel asli dapat dilihat pada:
https://www.bjbms.org/ojs/index.php/bjbms/article/view/13164





