Fraktur mandibula atau juga bisa disebut patah tulang rahang bawah merupakan suatu kondisi diskontinuitas mandibula. Perawatan pada fraktur mandibula bertujuan untuk merekonstruksi posisi anatomi yang sesuai dan mengembalikan fungsi pengunyahan pada pasien. Tahapan perawatan pada fraktur mandibula meliputi beberapa tahapan yaitu reduksi, reposisi, imobilisasi dan rehabilitasi. Yang pertama adalah Reduksi yang merupakan proses reposisi fragmen fraktur ke posisi anatomi semula, yang dapat dilakukan dengan teknik terbuka dan tertutup. Reduksi terbuka dilakukan dengan operasi besar untuk membuka daerah yang terlibat fraktur sehingga lebih invasive, dan kemungkinan cedera saraf atau pembuluh darah serta infeksi pasca operasi lebih besar. Reduksi tertutup dilakukan tanpa menggunakan operasi, sehingga tidak membuka bagian tubuh yang terlibat fraktur atau luka, tetapi mempunyai komplikasi pasca operasi seperti atrofi otot, kerusakan jaringan periodontal dan mukosa, gangguan bicara, dan gangguan nutrisi.
Dalam penentuan akhir rencana pengobatan, kelebihan, kekurangan, dan risiko setiap pengobatan serta risiko komplikasi harus didiskusikan secara memadai dengan pasien dan wali pasien. Dari kedua pilihan perawatan reduksi diatas perlu dilakukan studi untuk membandingkan hasil perawatan reduksi terbuka dan fiksasi internal (Open Reduction Interna Fixation atau disingkat dengan ORIF) dengan perawatan reduksi tertutup dalam penatalaksanaan fraktur parasimfisis mandibula.
Dua studi kasus dilakukan pada pasien dengan diagnose fraktur parasimfisis mandibula. Secara klinis, setiap pasien mengalami perpindahan mandibula dan gangguan oklusi dan pengunyahan sebelum dilakukan terapi.
Penatalaksanaan pada kasus mempertimbangkan usia pasien dan klasifikasi dari patah tulang mandibula. Satu pasien menerima ORIF, dan pasien lainnya menerima perawatan reduksi dengan reposisi bertahap. Maloklusi setelah pengobatan tidak ditemukan pada kedua kasus.
Sehingga pada studi 2 kasus ini dapat disimpulkan Reduksi terbuka direkomendasikan pada fraktur parasimfisis yang mengalami displaced. Apabila teknik reduksi terbuka tidak dapat dilakukan, maka teknik tertutup dapat menjadi alternatif, terutama pada fraktur parasimfisis non-displaced atau minimal displaced.
Penulis : Annisa Fardhani, Andra Rizqiawan, Indra Mulyawan, Ganendra Anugraha
Link/Judul Jurnal :
Comparison outcome of open and close reduction treatments for parasymphysis mandibular fractures





