UNAIR NEWS – Menulis dalam bahasa asing bukanlah hal yang mudah. Apalagi dalam sebuah kompetisi yang menguji kemampuan berpikir dan mengungkapkan gagasan dengan struktur bahasa yang tepat. Nihongo Sakubun Taikai atau Lomba Esai Bahasa Jepang ini terlaksana pada hari Minggu (9/2/2025) di SMA Negeri 1 Malang oleh Konsulat Jenderal Jepang Surabaya, Japan Foundation, JASSO, dan MGMP Bahasa Jepang Kota Malang. Kurang lebih 50 peserta mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa Timur terlibat dalam perlombaan ini.
Dua mahasiswi program studi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Airlangga (UNAIR), Kanessa Ade Fahrani (angkatan 2022) dan Rifqi Namiroh Ash sholihah (angkatan 2024) berhasil memeroleh juara 1 dan juara 2 dalam perlombaan esai tersebut. Mereka sama-sama menghadapi tantangan besar dalam perjalanan meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda.
Persiapan Matang
Lomba ini bukan sekadar menulis esai biasa, melainkan membutuhkan persiapan yang matang. Namiroh bercerita bahwa ia dan teman-temannya yang masih ichinensei (mahasiswa tahun pertama) harus berlatih sendiri karena belum mendapatkan kelas sakubun (mengarang dalam bahasa Jepang). Mereka berdiskusi untuk menentukan tema, mengatur tenggat waktu, dan mengoreksi tulisan satu sama lain. Kendala terbesar yang mereka hadapi adalah menulis kanji, karena sudah lama tidak berlatih secara intens. Yang menjadi tantangan dalam perlombaan ini adalah tema esai baru akan diumumkan sesaat sebelum lomba dimulai.

Bagi Namiroh, kabar kemenangan datang sebagai kejutan yang besar. “Sudah yakin ada banyak Kanji yang salah tulis, kok tetep bisa masuk juara, ya?” ungkapnya dengan rasa heran. Meskipun awalnya tidak terlalu berharap, ia tetap mencoba karena dorongan teman-temannya.
Hal serupa juga dialami oleh Kanessa, yang awalnya sudah pasrah dengan hasil tulisannya. Namun, saat mendengar namanya diumumkan sebagai pemenang, ia sempat blank sejenak sebelum akhirnya merasakan kegembiraan bercampur malu saat harus maju ke depan. Sementara itu, Kanessa lebih fokus mengulang kembali materi Kanji yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga selalu diingatkan oleh kenalannya untuk tetap berpegang pada konsep utama dan harapan yang ingin disampaikan dalam esainya.
Mencari Ide dan Susun Kata
Masuk ke dalam ruangan lomba, rasa nervous tidak bisa terhindarkan. Namiroh bahkan sempat terdiam selama 20 menit hanya untuk mencari ide dan menyusun kata-kata. Namun, setelah menemukan alur yang tepat, ia bisa menulis dengan lancar hingga akhir. Waktu yang terbatas menjadi tantangan tersendiri, namun akhirnya ia berhasil menyelesaikan esainya dengan baik.
Bagi Kanessa, kunci untuk mengatasi rasa nervous adalah dengan mengesampingkan perasaan tersebut selama menulis. “Kalau nervous terus, itu akan mengganggu ide pemikiranku,” imbuhnya. Ia memilih untuk fokus menulis terlebih dahulu dan baru merasakan nervous setelah lomba berakhir.
Kemenangan ini membuka peluang baru bagi kedua pemenang. Keduanya mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti lomba lagi, tentu saja dengan persiapan yang lebih matang, terutama dalam menulis kanji agar tidak mudah lupa. Selain itu mereka ingin mendapatkan kesempatan untuk mencari kompetisi yang lebih kompetitif guna mengukur sejauh mana kemampuannya berkembang.
Perjalanan kedua pemenang ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak datang begitu saja. Dibutuhkan usaha, latihan, dan keberanian untuk mencoba. Meski menghadapi berbagai tantangan, mereka tetap berjuang dan akhirnya meraih hasil yang membanggakan. Semoga kisah mereka bisa menjadi inspirasi bagi siapa pun yang ingin mendalami bahasa Jepang dan mencoba tantangan baru.
Penulis: Yogi Dharmawan
Editor: Yulia Rohmawati





