UNAIR NEWS – Menjawab tantangan industri maritim yang kompetitif, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu bersama alumni. Bertajuk “Peluang dan Transformasi Karier Generasi Muda dalam Industri Perikanan dan Kelautan Modern”, kuliah tamu tersebut berlangsung pada Selasa (2/6/2026) di Auditorium Candradimuka GKB Kampus MERR-C. Acara ini membedah strategi menembus pasar global sekaligus kemandirian finansial sejak bangku kuliah.
Melalui kuliah tamu bersama alumni, FPK mengajak mahasiswa mengubah pola berpikir untuk berani mendobrak zona nyaman dan jeli melihat potensi ekonomi biru (blue economy). Dua alumni FPK, Muhammad Cesar Briliandi SPi MSc dan Muhammad Syarif Satriyo Samudra SPi dihadirkan di hadapan para mahasiswa sebagai teladan dan inspirasi.
Menembus Batas Karier Global
Cesar yang kini sukses menjadi marine biologist di Maldives memaparkan kisah perjuangannya yang tidak instan. Masuk lewat jalur Mandiri FPK UNAIR, ia mengaku sempat merasa salah jurusan. Namun, kesadaran akan besarnya pengorbanan finansial orang tua menjadi titik balik baginya untuk bertahan hingga lulus.
Keputusan untuk bertahan memicu lompatan besar hingga ia berhasil menembus studi S2 di Taiwan dan kini sukses bekerja sebagai marine biologist. Berkat performa kerjanya, ia mendapatkan berbagai sertifikasi menyelam profesional tingkat tinggi secara cuma-cuma.
“Dari Open Water saya dilatih ke Assistant Instructor secara gratis. Padahal kalau bayar sendiri bisa menghabiskan biaya yang sangat besar. Sekarang pekerjaan saya memandu turis dan juga influencer besar lewat special trip bertarif tinggi,” ujarnya.
Di balik kesuksesan itu, Cesar juga ingin para mahasiswa FPK untuk memandang lebih luas jangkauan karier. “Ingat, laut kita itu luas sekali. The world doesn’t end in Java or Surabaya. Hidup kalian tidak akan berakhir cuma di Surabaya atau Jawa saja,” tegas Caesar.
Mentalitas Juang dan Peluang Bisnis
Sementara itu, Satriyo menyoroti pentingnya pola pikir taktis melihat peluang komersial perikanan. Seperti pemanfaatan rumput laut Gracilaria verrucosa untuk perputaran uang cepat atau inovasi Keramba Jaring Apung pintar berbasis IoT. Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan berbagai dana hibah kompetisi kampus sebagai inkubator bisnis yang aman.

“Manfaatkan status kalian sebagai mahasiswa untuk aktif ikut P2MW, PKM, atau hibah bisnis. Di sinilah tempat eksperimen terbaik. Kalaupun rugi atau gagal, kalian tidak kehilangan modal sendiri karena didanai negara. Yang paling krusial, kuasai skill dan kunci dulu akses pasarnya sebelum mulai produksi,” urainya.
Sejak kuliah, Satriyo mulai merintis karier sebagai wirausahawan. Jatuh bangun mengembangkan bisnis sudah pernah ia alami hingga terbentuk ketahanan mental yang menjadi modal utama menghadapi realitas pasar dan mafia industri.
Ketahanan mental dan daya juang Satriyo juga terbentuk dari pengalaman hidupnya. Kenangan pahit saat ia kehilangan sang ayah di bangku SMA menjadi motivasi kuat untuk terus berkembang. Selain itu, kondisi memprihatinkan dari teman-teman di sekelilingnya juga menjadi tamparan sekaligus pengingat bagi Satriyo untuk tidak pernah lelah berjuang.
“Kuatkan mental kalian, bisnis harus kuat mental! The greatest form of poverty is laziness tingkat kemiskinan tertinggi adalah kemalasan. Kesuksesan lima tahun ke depan tergantung apa yang kamu lakukan hari ini,” ungkap Satriyo.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan. D
Editor: Yulia Rohmawati





