UNAIR NEWS – Perhimpunan Praktisi Profesi Kesejarahan (P3K) mengadakan sosialisasi bagi seluruh civitas akademika Universitas Airlangga (UNAIR) bertajuk Sosialisasi dan Pelantikan Pengurus Perhimpunan Praktisi Profesi Kesejarahan. Sosialisasi tersebut berlangsung pada Kamis (13/4/2023), dalam rangka pelantikan anggota P3K dan pengenalan peluang serta perluas dunia profesi bagi praktisi kesejarahan.
Erlina Wiyanarti dan Ery Sandra, dua dari empat narasumber dalam sosialisasi tersebut mengenalkan peluang serta perluas dunia profesi bagi sejarawan. Ia mengenalkan profesi kesejarahan di museum, dan Ery mengenalkan sejarah di ruang digital.
Erlina, pengelola dan praktisi museum menyampaikan bahawa museum perlu pengelola dan teknis profesional. Hal tersebut menjadi salah satu peluang bagi praktisi kesejarahan untuk bergerak dan berkarir di lembaga tersebut.
“Di museum itu idealnya memerlukan tenaga teknis yang profesional, seyogyanya harus memiliki standar profesi yang teruji dan tersertifikasi,” jelasnya.
Museum, sambung Erlina, memerlukan tenaga profesional berupa kurator, edukator, konservator, dan registar. Berdasarkan sebelas tahun pengalamannya mengelola museum, ia melihat bahwa ada perbedaan kualitas ketika museum ditangani oleh tenaga praktisi yang memiliki pemahaman kesejarahan dengan yang tidak.
“Saya lihat misalnya tenaga kurator di museum yang pernah saya kelola itu ketika dikelola oleh seorang yang tidak memiliki background sejarah, koleksi ketika di kurasi dan dipamerkan ruhnya seperti mekanis. Kemudian ketika ada kesempatan untuk diganti oleh tenaga yang memiliki background kesejarahan, itu betuk-betul merubah. Narasinya menjadi lebih hidup,” paparnya.
Hal yang sama juga terjadi pada posisi yang lain seperti edukator dan konservator yang juga memerlukan tenaga profesional. Maka dari itu, Erlina berpandangan bahwa musum memerlukan suatu standard bagi pengelolanya.
“Dari pengalaman itulah saya mengajukan bahan untuk diskusi bagaimana tenaga teknis di museum itu juga perlu standar profesi yang jelas dan terukur, bahkan terhargai dalam bentuk sertifikat profesi,” pungkasnya.
Sementara itu, pembicara kedua Ery Sandra menyampaikan bahwa sejarawan memiliki peluang besar di ruang digital. Dunia kesejarahan telah merambah dan terus berkembang mengikuti zaman yang sudah serba digital.
“Di media Kompas TV dan Metro TV yang sudah mengarah ke arah digital, itu sebenarnya banyak sekali program yang membutuhkan kemampuan para sejarawan. Kemarin sempat ditutup program sejarah, sekarang akan dibuka program dokumenter sejarah,” ujarnya.
Manfaatkan Teknologi
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sejarah bahkan bisa memperluas kiprahnya di teknologi terbaru. Salah satu seperti teknologi yang sedang tren saat ini, yakni metaverse dan AI. “Bahkan yang terbaru metaverse juga saya dengar mau mengarah ke arah sejarah juga, membangun dan mengkonstruksi sejarah. Begitupun dengan AI yang paling baru,” imbuhnya.
“Pertanyaannya, kenapa para sejarawan hanya terlihat di dunia pinggiran? Misalnya di dunia media, lulusan sejarah paling hanya tiga yang bisa beradaptasi dan masuk dunia tersebut.”
Ery menyayangkan bahwa banyak lulusan ilmu sejarah tidak mencoba untuk mengeksplorasi lebih jauh di dunia profesional. Ia berharap lulusan sejarah mampu untuk berkiprah, bahkan menjadi sentral. (*)
Penulis: Muhammad Badrul Anwar
Editor: Nuri Hermawan
Baca Juga: Prospek Lulusan Ilmu Sejarah Tersebar di Berbagai Profesi





