UNAIR NEWS – Sebagian masyarakat belum menyadari bahwa tren fast fashion memiliki dampak negatif bagi lingkungan. Menyikapi hal ini, Komunitas Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan webinar Airlangga Entrepreneur Club bertajuk Level up Green Activity: Ecoprint Canang Sari untuk Aksi, Bisnis, dan Alam Nusantara. Kegiatan ini terselenggara secara daring melalui Zoom Meeting pada Minggu (29/6/2025).
Webinar ini menghadirkan narasumber tunggal yakni Arry Budiawan SE, Founder Ecoprint Bali. Dalam kesempatan itu, Arry menjelaskan tentang slow fashion sebagai tren busana yang ramah lingkungan. Salah satu contoh slow fashion adalah batik ecoprint, sebuah batik yang motifnya terbuat dari bahan organik berupa daun dan bunga.
Konsep Slow Fashion
Lebih lanjut, Arry mengatakan bahwa slow fashion memiliki sejumlah keunggulan, terutama dari segi kualitas. “Slow fashion itu produknya long lasting dan organik. Bahkan, ketika kita sudah tidak suka lagi dengan warna ataupun motifnya, kita bisa melakukan proses recoloring secara natural,” ujarnya.
Dengan menawarkan keunggulan tersebut, slow fashion menyumbang dampak positif terhadap lingkungan. Di antaranya, mengurangi limbah tekstil yang menyebabkan polusi air, menghemat energi dan air dalam proses produksi, serta menurunkan emisi karbon berkat proses produksi yang berskala kecil dan lokal.
Selain itu, slow fashion juga mendorong iklim wirausaha yang sehat. Arry mengungkap bisnis slow fashion ini melibatkan banyak pihak dalam prosesnya.
“Dalam kegiatan yang membutuhkan jumlah orang banyak, kita bisa hire tetangga terdekat. Ini menciptakan siklusnya sendiri dan sangat beretika, di mana banyak perusahaan besar yang saat ini mulai mengurangi jumlah karyawannya, tetapi justru perusahaan kecillah yang mendukung ekonomi Indonesia saat ini,” ucapnya.
Konsep slow fashion yang berkelanjutan dan berbasis komunitas ini sejalan dengan prinsip green economy, sebuah bisnis yang menguntungkan tetapi ramah lingkungan. “Prinsip green economy ini tidak sesusah yang dibayangkan. Cobalah belajar ke luar, lihat lingkungan sekitar. Apa yang ada di lingkungan sekitar yang bisa kita manfaatkan, sebenarnya sangat banyak,” tutur Arry.
Ecoprint Canang Sari
Sebagai bentuk nyata dari pemanfaatan positif lingkungan sekitar dalam mewujudkan green economy, Arry mencetuskan produk ecoprint canang sari. Ia menjelaskan bahwa canang sari adalah upakara (perlengkapan) harian umat Hindu di Bali sebagai persembahan kepada Tuhan dalam bentuk rasa syukur dan penghormatan.
Namun, canang sari yang sudah selesai digunakan sering kali tidak diolah dengan baik, sehingga menjadi sampah berserakan di berbagai sudut Bali. “Walaupun canang sari adalah limbah organik, tetapi ia tidak akan terproses secara maksimal di TPA. Hal ini sebab kapasitas TPA di Bali sudah overload, di mana dipenuhi dengan sampah plastik, fashion, dan organik ini sudah berbaur menjadi satu,” paparnya.
Dengan alasan itu, Arry menggagas pembuatan batik ecoprint menggunakan canang sari. Harapannya, banyak masyarakat mulai terinspirasi dalam memanfaatkan limbah menjadi produk yang bernilai jual. “Canang sari ini banyak value-nya. Dalam proses natural die, canang sari akan menghasilkan palet warna yang banyak karena elemennya terdiri dari banyak bunga,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Ragil Kukuh Imanto





