FH News (17/02/2026) | Tahun baru Imlek atau Chinese New Year diperkirakan sudah ada sejak 14 SM. Perayaan Imlek merupakan momentum refleksi, harapan, dan kebersamaan yang telah dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri perayaan Imlek merupakan simbol penghormatan, kebangkitan identitas budaya, dan pengakuan negara terhadap etnis Tionghoa sebagai bagianidentitas Indonesia yang multikultural.
Tahun baru Imlek secara nasional telah ditetapkan pada tahun 2002 lalu ditetapkan sebagai hari libur nasional Imlek di Indonesia pada tahun 2003. Momentum ini kembali dirayakan di Indonesia tepatnya pada hari Selasa, 17 Februari 2026 dengan mengangkat tema “Harmoni Imlek Nusantara”. Imlek bukan hanya sekadar peringatan bagi komunitas Tionghoa, tetapi menjadi bagian dari lanskap kebudayaan Indonesia yang majemuk.
Di Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga, keberagaman merupakan praktik nyata yang terus dilaksanakan baik oleh sivitas akademik maupun para mahasiswa. Haidar Adam, S.H., LL.M, Dosen Hukum Tata Negara FH UNAIR, mendefinisikan harmoni dalam perbedaan sebagai upaya menciptakan ruang yang dapat diakses semua orang tanpa batasan latar belakang budaya. Hal ini tercermin dari komposisi mahasiswa FH UNAIR yang semakin beragam, termasuk peningkatan jumlah mahasiswa dari etnis Tionghoa.
Dalam konteks perayaan tahun baru Imlek 2026, Haidar Adam berpendapat bahwa harmoni dalam konteks ini adalah menghormati sehingga tidak boleh ada pembatasan dan represi terhadap ekspresi kebudayaan. Beliau menyampaikan bahwa penghormatan terhadap kultur lain tidak harus dengan terlibat langsung dalam perayaannya karena terdapat beberapa batasan di masing-masing agama atau budaya dan dalam konteks Hak Asasi Manusia (HAM) hal itu diperkenankan. “Tetapi dalam sopan santun kebangsaan, dukungan juga menjadi penting apalagi terhadap kelompok minoritas untuk menunjukkan keberpihakan. Minoritas dalam hal ini bukan sekadar jumlah tetapi juga pengaruh,” ujarnya.
Haidar Adam menuturkan bahwa Indonesia sendiri pernah mengalami pembatasan mengenai ekspresi budaya bagi etnis Tionghoa khususnya pada masa Orde Baru dengan alasan harus dilakukannya asimilasi. Kebijakan tersebut menyebabkan keterasingan di negeri sendiri, meskipun etnis Tionghoa telah turut berjuang melawan kolonialisme. “Kontribusi mereka tercatat jelas dalam sejarah Indonesia, seperti keterlibatan tokoh Tionghoa dalam sidang BPUPKI yang meletakkan dasar fundamental konstitusi Indonesia sehingga tidak ada alasan untuk melabeli bangsa Tionghoa untuk tidak menjadi bagian dari bangsa ini,” tegasnya.
“Spirit Imlek menjadi reflektif untuk mengingat bahwa terdapat kultur yang dulu sempat direpresi yang seharusnya menjadi bahan bakar perwujudan persatuan saat ini. Menjadi bahan yang sangat bagus untuk memupuk keberagaman dan di titik ini semangat itu bisa dimunculkan kembali,” ucap Haidar Adam. Beliau menegaskan bahwa dari perayaan Imlek bisa menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang bersifat kolaboratif khususnya dalam menyelesaikan masalah negara seperti masalah korupsi, tunjangan sosial, lingkungan, dan ekonomi karena dalam tradisi Imlek ada ungkapan untuk mendoakan kesejahteraan bagi yang lain.
Haidar Adam menjelaskan bahwa kegiatan BEM maupun BSO telah menjadi wadah berbagai acara lintas budaya dan agama sehingga hal tersebut bisa menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. “Perlu diingat bahwa keharmonisan dibangun melalui ruang perjumpaan yang terus-menerus guna menghancurkan tembok prasangka. Kegiatan tersebut pun mendapat dukungan penuh dari pihak fakultas,” ungkapnya.
Baca Juga: Optimalisasi E-Resources, Strategi Cerdas Mahasiswa FH UNAIR Menembus Standar Akademik Global
Sebagai institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM, FH UNAIR terus berkomitmen menciptakan ruang aman bagi seluruh sivitas akademika tanpa memandang latar belakang etnis, agama, atau budaya. Perayaan Imlek menjadi pengingat bahwa harmoni sejati lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari penghormatan dan penghargaan terhadap perbedaan.
Happy Chinese New Year!
Penulis: Inez Maria Nuna Larantukan
Editor: Masitoh Indriani




