Humas FH (04/06/25) | Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga melalui tim delegasi Masyarakat Yuris Muda Airlangga (MYMA) berhasil mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 dalam kompetisi Ubaya Law Fair 2025. Dengan mengusung karya tulis ilmiah bertema “Sampah Antariksa yang Mengancam Keamanan dan Kedaulatan Negara Indonesia”, tim yang dipimpin oleh Raymond Tjionardes dan beranggotakan Nadirah Dinta Ardiyanti, Raisha Putri Maharani, serta Inez Maria Nuna Larantukan ini sukses memikat perhatian juri melalui analisis mendalam dan solusi inovatif yang mereka tawarkan.
Raymond Tjionardes, sebagai ketua delegasi menjelaskan bahwa karya tulis timnya berfokus pada fenomena sampah antariksa yang kian mengkhawatirkan seiring perkembangan teknologi dan komersialisasi ruang angkasa. “Kami mengangkat isu utama di era new space, di mana semakin banyak industri yang menjadikan ruang angkasa sebagai domain bisnis mereka. Akibatnya, sampah antariksa terus bertambah, membuat ruang angkasa semakin penuh,” ujar Raymond.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara berkembang di bidang teknologi antariksa menghadapi tantangan besar karena belum memiliki teknologi memadai untuk mengatasi ancaman ini. “Kami membahas bagaimana menjaga kedaulatan Indonesia di tengah ancaman sampah antariksa yang dapat mengganggu keamanan nasional, seperti risiko tabrakan satelit atau gangguan komunikasi,” tambahnya. Pendekatan tim MYMA yang menggabungkan perspektif hukum internasional dan solusi berbasis kedaulatan negara menjadi kunci keberhasilan mereka memenangkan kompetisi ini.
Kemenangan tim MYMA tidak lepas dari peran besar Prof. Dr. Aktieva Tri Tjitrawati, S.H., M.Hum., sebagai dosen pembimbing delegasi MYMA FH UNAIR. Prof. Eva memberikan wawasan mendalam mengenai hukum ruang angkasa dan ancaman sampah antariksa, yang menjadi landasan kuat bagi tim untuk menyusun argumen serta solusi dalam karya tulis mereka. Bimbingannya yang inspiratif dan berbasis keilmuan menjadi pendorong utama kelancaran proses penulisan tim.
Keberhasilan ini tidak diraih tanpa rintangan. Raymond mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi timnya adalah manajemen waktu dan tenaga. “Brainstorming adalah hal yang penting, tetapi riset mendalam sering kali memicu perbedaan pendapat di antara anggota tim,” ungkapnya. Namun, sebagai ketua delegasi, Raymond berhasil menjaga semangat tim tetap terjaga. “Saya selalu mengingatkan tim bahwa kita berjuang bersama sejak awal. Menjadi pemenang memang sulit, tapi dengan niat dan semangat, kita bisa membayar harga itu,” ucapnya.
Baca Juga: Diah Anggraerni Nurkhalisa Sabet Juara 1 Mawapres UNAIR 2025, Siap Tembus Tingkat Nasional
Raymond berbagi pesan inspiratif kepada mahasiswa FH UNAIR. “Jangan pernah takut untuk mencoba, baik itu berpartisipasi dalam kompetisi maupun mengembangkan ide-ide kalian dalam karya tulis ilmiah. Apapun latar belakangmu seperti moot court, debat, atau lainnya, bermimpilah setinggi langit. Ide-ide besar itu akan tertuang dengan baik dalam karya tulis jika kalian berani memulai,” pesannya.
Kemenangan tim MYMA di Ubaya Law Fair 2025 bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga bukti bahwa isu-isu global seperti sampah antariksa dapat dianalisis secara mendalam dari perspektif hukum untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa hukum lainnya untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam diskursus hukum internasional.
Penulis: Jessica Ivana Haryanto
Editor: Masitoh Indriani




