Humas FH (11/08/2025) | Fakultas Hukum Universitas Airlangga (FH UNAIR) bekerja sama dengan Serikat Pengajar HAM (SEPAHAM) Indonesia, The Centre for Human Rights, Multiculturalism, and Migration, University of Jember, dan The University of Sydney menyelenggarakan The 8th Conference on Human Rights (8HRC) pada Senin (11/08/2025) hingga Rabu (13/08/2025). Dalam rangkaian kegiatan tersebut, 8HRC juga menghadirkan Academic Writing Workshop in Conjunction with The 8th Conference on Human Rights pada hari Senin (11/08/2025) di ruang 305 Gedung A.G. Pringgodigdo FH UNAIR.
Academic Writing Workshop dipandu oleh Putri Answendy, LL.M. selaku moderator dengan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. João Ilhão Moreira dan Dr. Georgia Antonopoulou. Registrasi peserta dibuka pada pukul 12.30 WIB lalu dilanjutkan dengan pembukaan oleh moderator yang memperkenalkan latar belakang akademik dan profesional kedua narasumber. Dr. João Ilhão Moreira merupakan Associate Director of Centre for Studies on Jurisprudence and Legislation of China and Portuguese-Speaking Countries dan Assistant Professor of Civil Procedure Law at the Faculty of Law, University of Macau. Sementara itu, Dr. Georgia Antonopoulou merupakan Assistant Professor in Commercial Dispute Resolution dan Co-Deputy Head of Education.
Academic Writing Workshop diawali dengan sambutan dari Dr. Georgia Antonopoulou yang menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini bukan semata-mata untuk membahas tips and tricks dalam pembuatan jurnal akademik. Beliau menekankan bahwa setiap karya ilmiah sejatinya lahir dari komitmen untuk menyuarakan gagasan yang berdampak, memberikan solusi atas permasalahan, dan memperluas cakrawala pemikiran sehingga diharapkan kita dapat menuliskan sebuah karya ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Oleh karena itu, proses menulis tidak hanya diukur dari seberapa cepat naskah diselesaikan, tetapi juga dari kualitas, relevansi, dan nilai kemanfaatan yang dikandungnya.
Setelah sesi pembukaan, Dr. João Ilhão Moreira memaparkan materi terkait pemilihan jurnal ilmiah yang tepat untuk publikasi. Ia membandingkan dua basis data akademika terkemuka, yakni Scopus dan Web of Science Core Collection dengan menyoroti perbedaan jumlah jurnal, cakupan bidang, periode liputan, dan kelengkapan bahasa yang dimiliki. Menurutnya, pemahaman atas karakteristik masing-masing basis data menjadi langkah awal yang penting bagi peneliti dalam menentukan target publikasi yang sesuai dengan bidang keahlian dan tujuan penelitian. beliau menjelaskan bahwa Scopus memiliki sekitar 21.950 jurnal dengan berfokus pada physical sciences, health sciences, life sciences, social sciences, dan humanities. Sementara itu, Web of Science Core Collection memuat 13.100 jurnal yang tertuju pada ilmu pengetahuan, teknologi, ilmu sosial, seni, dan humaniora.
Selain itu, Dr. João memaparkan pentingnya memahami indikator kualitas jurnal, salah satunya melalui Impact Factor (IF). Beliau menunjukkan formula perhitungan IF yang didasarkan pada rasio jumlah sitasi terhadap jumlah publikasi dalam periode tertentu. Contoh yang diberikan adalah Nature, yakni pada tahun 2017 memiliki impact fact sebesar 41.577. Menurutnya, peneliti perlu menargetkan publikasi pada jurnal dengan reputasi tinggi namun, tetap mempertimbangkan kesesuaian topik dan peluang diterimanya artikel. Dalam sesi ini, sangat ditekankan bahwa publikasi bukan hanya tentang prestise, tetapi tentang keberlanjutan kontribusi ilmiah. Oleh karena itu, pemilihan jurnal yang tepat harus mempertimbangkan audiens sasaran, kualitas peer review, dan keterjangkauan akses bagi para pembaca.
Pada sesi tanya jawab, salah satu seorang peserta mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana seorang akademisi dapat menghindari kecenderungan menulis jurnal hanya sebagai formalitas namun, tetap mempertimbangkan keberlanjutan kontribusi ilmiahnya. Menanggapi hal tersebut, Dr. João menegaskan bahwa inti dari publikasi akademik bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif atau target kinerja, melainkan menciptakan value yang berdampak jangka panjang. “Setiap artikel yang kita tulis seharusnya menjadi bagian dari diskursus ilmiah yang lebih luas, memberikan wawasan baru, dan membuka ruang untuk penelitian lanjutan,” ujarnya.
Melanjutkan sesi berikutnya, Dr. Georgia Antonopoulou membawakan materi yang merujuk pada “Summary of Chapter 5: Response to Investment Problems”. Beliau menjelaskan bahwa bagian ini memberikan gambaran komparatif antara dua opsi utama yang biasa ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi permasalahan investasi, yakni Option One: Keep and Expand Investment Incentives dan Option Two: Withdraw Investment Incentives. Dalam paparannya, Dr. Georgia menekankan bahwa memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing opsi sangat krusial sebelum menentukan arah kebijakan.
Baca Juga: The 8th Conference on Human Rights 2025 Resmi Dibuka di FH UNAIR, Soroti Tantangan HAM Kawasan Asia di Era Transisi Energi dan Disrupsi Teknologi
Pada Option One, misalnya, pemerintah dapat mempertahankan bahkan memperluas insentif untuk menarik investor baru atau menjaga investor lama tetap bertahan. Namun, ia mengingatkan bahwa strategi ini kerap berisiko mengurangi penerimaan negara jika tidak diimbangi dengan pengawasan dan evaluasi yang ketat. Sementara itu, Option Two menawarkan pendekatan berbeda, yaitu mencabut insentif untuk mendorong investasi yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, walaupun berpotensi mengurangi minat investor dalam jangka pendek. Dr. Georgia menegaskan bahwa topik ini relevan tidak hanya dalam konteks ekonomi makro, tetapi juga dalam lingkup penelitian hukum dan kebijakan publik. Menurutnya, analisis kritis terhadap berbagai model kebijakan, seperti yang ditampilkan pada tabel tersebut, dapat membantu peneliti menyusun argumen akademik yang lebih solid, berbasis data, dan mampu menawarkan rekomendasi yang aplikatif.
Dengan berakhirnya sesi pemaparan kedua narasumber, Academic Writing Workshop ini memberikan wawasan komprehensif bagi para peserta, tidak hanya dalam hal teknis penulisan dan publikasi karya ilmiah, tetapi juga dalam membangun kesadaran akan tanggung jawab akademik untuk menghasilkan penelitian yang berdampak dan relevan. Melalui materi yang disampaikan oleh Dr. João Ilhão Moreira dan Dr. Georgia Antonopoulou, peserta diajak untuk mengintegrasikan ketepatan metodologis, pemilihan media publikasi yang strategis, serta kedalaman analisis dalam menyusun argumen. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi katalis bagi lahirnya karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi standar akademis internasional, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pemajuan Hak Asasi Manusia (HAM).
Penulis : Angelique Novelyn
Editor : Masitoh Indriani




