Universitas Airlangga Official Website

Bedah Ulang-Alik Fiksi dan Realitas dalam Sosiologi Sastra

Potret Ghanesya Hari Murti saat memaparkan materi pada kuliah tamu bertajuk Ulang Alik Fiksi dan Realitas pada Kamis (21/11/2025)

FIB NEWS – Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Ulang Alik Fiksi dan Realitas pada Kamis (21/11/2025) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Ghanesya Hari Murti M Hum, Dosen FIB Universitas Jember sebagai narasumber yang memaparkan hubungan erat antara karya sastra dan konteks sosial yang melahirkannya.

Dalam pengantarnya, Ghanesya menyampaikan bahwa tema ini dipilih untuk menanggapi anggapan umum bahwa karya sastra tidak dapat dijadikan rujukan penelitian sosial. Padahal, menurutnya, banyak karya sastra yang merekam peristiwa besar, perubahan sosial, hingga ketegangan antar kelas yang terjadi pada masa tertentu. “Sastra tidak lahir dari ruang kosong. Ia melekat pada konteks zamannya dan merekam denyut masyarakat,” ujarnya.

Sastra dan Struktur Sosial

Pada sesi pemaparan, Ghanesya menjelaskan bahwa sosiologi sastra melihat karya sastra sebagai produk budaya yang dipengaruhi kondisi sosial dan historis. Ia mencontohkan Les Misérables yang menggambarkan stigma sosial terhadap mantan narapidana, atau cerita Malin Kundang yang memperlihatkan legitimasi struktur matrilineal dalam budaya Minangkabau.

Menurutnya, fiksi kerap berulang kembali pada realitas. “Ada gambaran fiksional yang akhirnya membentuk cara pandang masyarakat. Malin Kundang misalnya, menjadi dasar legitimasi tradisi merantau,” jelasnya.

Ghanesya juga menyinggung karya-karya Indonesia seperti Salah Asuhan dan novel-novel Ahmad Tohari yang merekam problem pangan, kelas sosial, dan dinamika masyarakat desa. Baginya, karya sastra sering lebih jujur dalam merekam pengalaman sosial dibanding dokumen resmi.

Dari Raymond Williams hingga Lucien Goldmann

Lebih jauh, Ghanesya memaparkan pandangan beberapa pemikir sosiologi sastra. Raymond Williams menekankan sastra populer sebagai cerminan pengalaman masyarakat. Sementara Goldmann melihat novel sebagai bentuk kesadaran kolektif sebuah kelas sosial yang berhubungan dengan struktur ekonomi.

Ia menyoroti konsep reifikasi yang membuat relasi antar manusia berubah menjadi relasi bernilai ekonomi. Hal ini, menurutnya, juga tercermin dalam berbagai narasi populer yang mengusung tema mobilitas sosial dan pesona kelas menengah.

Menutup sesi, Ghanesya mengajak mahasiswa untuk lebih kritis membaca teks sastra sebagai dokumen sosial. “Fiksi dan realitas selalu bersinggungan. Justru di ulang-alik itulah kita bisa melihat perubahan masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan kuliah tamu ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 dan 17, yaitu Quality Education dan Partnership for the Goals.

Penulis: Tsabita Nuha Zahidah

Editor: Fania Tiara Berliana M