Syahrur Marta Dwi Susilo, S.S., M.A., Ph.D, resmi menjabat sebagai Dekan FIB UNAIR periode 2025-2030 (Foto: Istimewa).
Dekan Baru FIB Siapkan Strategi Peningkatan Studi dan Alumni
FIB NEWS – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) resmi memiliki dekan baru. Jabatan tersebut kini diemban oleh Syahrur Marta Dwi Susilo, S.S., M.A., Ph.D., yang siap membawa semangat baru dalam pengembangan pendidikan dan tata kelola program kerja FIB. Dalam wawancara eksklusif bersama Humas Muda, ia memaparkan sejumlah rencana strategis yang akan menjadi fokus utama selama masa kepemimpinannya.
“Dua program yang menjadi konsentrasi untuk segera dilakukan implementasi adalah terkait masa studi mahasiswa yang terlalu panjang dan mendorong peningkatan daya saing alumni,” tegas Syahrur.
Ia kemudian menilai bahwa lamanya masa studi mahasiswa berakibat pada lulusan yang tak lagi kompetitif. Menurutnya, perlu adanya evaluasi lanjutan khususnya dalam persoalan sistem tugas akhir bagi mahasiswa. “Ini harus dibenahi bahwa tugas akhir itu tidak harus skripsi,” jelasnya.
Syahrur pun menyebut, adanya Permendikbud yang memungkinkan skripsi alternatif, justru membuat mahasiswa bisa menghasilkan karya atau proyek yang setara, asalkan aspek analitiknya dapat terpenuhi. “Bahkan nanti skripsi, bisa jadi saya batasi tidak perlu semua mahasiswa menulis skripsi. Karena menulis skripsi itu butuh kemampuan tersendiri. Jadi yang lain, ya, sudah buat karya atau alternatif lainnya,” sambung Syahrur.
Selain itu, program prioritas kedua adalah meningkatkan rata-rata gaji alumni. Ia mengungkapkan bahwa rata-rata gaji alumni FIB masih tingkat Minimum Kerja (UMK). “Untuk mengatasi hal tersebut, alumni perlu dibekali kemampuan berdikari dan kewirausahaan, mengingat lapangan kerja dan persaingan yang ketat,” ujarnya.
Atasi Tantangan Non-Akademik Lewat Konseling
Lebih lanjut, Syahrur juga menyoroti tantangan non-akademik seperti isu kesehatan mental dan tekanan persaingan yang dapat turut memengaruhi proses studi mahasiswa. Dekan telah periode 2025-2030 itu menyiapkan langkah strategis untuk mengatasinya.
“Ini hal penting yang perlu disikapi sebelum membahas aspek lainnya. Dalam waktu dekat, mungkin sekitar satu hingga dua bulan ke depan, kami akan menghadirkan layanan bimbingan konseling,” ungkapnya.
Layanan tersebut rencananya akan beroperasi di Unit Layanan Fakultas agar mudah diakses oleh mahasiswa. “Nantinya, mahasiswa bisa langsung datang tanpa perlu kebingungan menghubungi hotline atau prosedur lain yang rumit. Cukup datang dan sampaikan, ‘saya ingin konseling’,” jelasnya.
Melalui langkah tersebut, ia berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif sehingga mahasiswa tidak merasa sendirian dan dapat kembali menumbuhkan semangat untuk berprestasi.
Kesempatan Lakukan Perbaikan
Syahrur lantas memaknai jabatan dekan sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus kesempatan untuk berkontribusi lebih luas bagi pengembangan fakultas. “Jabatan ini adalah kesempatan untuk melakukan perbaikan,” lanjutnya.
Ia menilai, kepemimpinan di tingkat fakultas memberikan peluang yang lebih besar untuk menghadirkan perubahan dan inovasi yang berkelanjutan. “Menjadi dekan berarti memiliki ruang dan tenaga yang lebih luas untuk memperbaiki banyak hal, termasuk memperbaiki diri saya sendiri,” tutur Syahrur.
Inisiatif perbaikan yang diusungnya itu sejalan dengan semangat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dalam mendukung capaian target Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 mengenai pendidikan berkualitas.
Penulis: Ainnur Ayu Nanda Agustin.
Editor: Nur Khovivatul Mukorrobah




