Universitas Airlangga Official Website

Kisah Mahasiswa FIB Sabet Juara II Lomba Esai Bahasa Jepang 

Dokumentasi pemberian piala dan sertifikat oleh penyelenggara

Sumber: Rifqi Namirah Ash Sholihah

FIB NEWS – Tak henti-hentinya mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga menorehkan prestasi. Kali ini, kabar baik datang dari mahasiswi program studi bahasa dan Sastra Jepang yang berhasil menjuarai lomba esai bahasa Jepang. Rifqi Namiroh Ash Sholihah yang akrab dipanggil Namirah, berhasil menyabet Juara II pada Lomba Esai Habatake! 2025. Lomba yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya tersebut bertempat di SMAN 1 Malang.

Persiapan dan Tantangan

Namirah mengaku ini adalah kali pertamanya mengikuti lomba esai bahasa Jepang selama menjadi mahasiswa. Ia langsung tertarik begitu mendapat informasi mengenai lomba esai tersebut dari komandan tingkatnya.   

“Lomba esai bahasa Jepang ini tulis tangan langsung dan temanya nggak dikasih tau dari awal. Kita baru dikasih temanya di tempat langsung dengan waktu pengerjaan kurang lebih satu jam. Karena sebelumnya belum pernah coba lomba, jadi ingin coba untuk pertama kali,” ungkapnya. 

Bermula dari rasa penasaran, Namirah nekat mengikuti lomba esai yang materinya belum pernah ia pelajari di bangku perkuliahan. Pengetahuan yang masih kurang mengenai teknis penulisan esai serta penggunaan tiga macam karakter (hiragana, katakana, dan kanji, -red) dalam bahasa Jepang menjadi tantangan yang harus dihadapi. Tak menyerah begitu saja, Namirah dengan enam mahasiswa baru lainnya berlatih bersama tanpa pembimbing. 

“Tantangannya dari penulisannya. Huruf Jepang kan ada tiga macam, paling susah mungkin pas menghafal kanji untuk dikeluarkan di esainya. Jadi kita angkatan 2024 itu berenam ikut, berenam itu kita latihan mandiri. Kita saling bikin esai terus nanti saling koreksi,” bebernya. 

Tuang Realita dalam Tulisan

Habatake merupakan ajang unjuk kebolehan pengetahuan bahasa dan budaya Jepang untuk para siswa SMA/SMK/MA dan mahasiswa Se-Jawa Timur. Tahun ini, lomba esai tersebut mengusung tema saya, Jepang, dan Indonesia di masa depan. Mengambil judul “Kepentingan Mengatakan Terima Kasih kepada Orang Lain”, Namirah mengaku terinspirasi oleh budaya maaf dan terima kasih yang masih dipegang erat oleh masyarakat Jepang. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan budaya maaf dan terima kasih di Indonesia yang mulai terkikis. 

Arigatou itu kan sering kita dengar ya kak ya, itulah pertamanya. Karena arigatou itu kata yang pertama kali saya tau dari bahasa jepang dan saya tau artinya jadi ya gitu. Saya menulis tentang perbedaan di Indonesia dan Jepang, serta melihat kemajuan atau perubahan Indonesia di masa depan gimana kalau misalnya kita selalu bisa mengucapkan terima kasih dan minta maaf,” ungkapnya.

Harapan dan Motivasi

Namirah menyadari bahwa ia datang tanpa pengalaman sama sekali. Hal itu membuatnya sempat merasa gugup dan rendah diri, terutama ketika melihat lebih dari 50 orang peserta dari berbagai kampus lain. Namun, perasaan itu tak jua membuatnya menyerah. Bersama 11 mahasiswa lainnya dari FIB UNAIR, ia membuktikan kebolehannya dalam merangkai kata menjadi sebuah tulisan penuh makna. Diiringi doa, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, Namirah berhasil menyulap tulisannya menjadi sebuah pengalaman berharga. 

Sebagai penutup, ia menitipkan pesan inspiratif bagi para mahasiswa lainnya. “Ga usah takut nyoba dulu, kalau ada kesempatan cobain, entah gagal tidaknya kita coba dulu,” pungkas Namirah.

Tulisan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 5 yakni kesetaraan gender.

Penulis: Arina Nida

Editor: Nuri Hermawan