Potret Daniel saat Mempresentasikan Esai di Depan Dewan Juri
FIB NEWS – Program studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mencatat prestasi mahasiswanya dalam bidang kepenulisan esai. Daniel Trisakusumo berhasil meraih juara 3 dalam Lomba Esai Nasional Tingkat Mahasiswa Gema Literasi Nasional 2026.
Perlombaan tersebut diselenggarakan oleh BEM-KM Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan. Berlangsung secara daring, acara tersebut sukses terselenggarakan pada 19-24 Juli 2026.
Daniel mengungkapkan bahwa keputusannya ikut berkompetisi lahir dari keinginan untuk merespons krisis manajerial pendidikan dalam program Sekolah Rakyat (SR). Di samping itu, ia menyadari bahwa kompetisi BEM-KM INSYA Bangkalan ini merupakan wadah yang tepat untuk menyalurkan gagasan kritis serta solutif dari sudut pandang pemuda.
Ia membawa esai ilmiahnya yang berjudul “Membebaskan Sekolah Rakyat dari Operational Gridlock: Formulasi Trilogi sebagai Manifesto Gerakan Pemuda atas Krisis Manajerial Pendidikan”. Dalam paparannya, ia menjelaskan inspirasi naskah ini bersumber dari laporan evaluasi resmi pemerintah terkait pelaksanaan awal Sekolah Rakyat, regulasi Perpres No. 120/2025, serta fenomena kebuntuan tata kelola di lapangan.
“Di tengah tingginya angka anak putus sekolah, timbul kebuntuan operasional (operational gridlock) pada pelaksanaan Sekolah Rakyat,” jelasnya.
Lebih lanjut, sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, ia terdorong menganalisis akar masalah krisis manajerial ini dan merumuskan solusi interdisipliner berbasis gerakan pemuda dan teknologi (civic-tech). Sebagai langkah pertama, ia melakukan studi literatur dan kompilasi data sekunder terkait angka anak tidak sekolah serta menganalisis kelemahan birokrasi Sekolah Rakyat. Selanjutnya, ia turut merumuskan tiga pilar solusi, yakni Peer-Mentorship, platform Kawal Sekolah Rakyat, dan Kurikulum Vokasi Kontekstual.
Di sisi lain, Daniel mengeluhkan adanya tantangan dalam mengolah anomali data di lapangan. Dalam hal ini, kasus guru dan siswa yang mundur menjadi perhatian. Ia berupaya agar anomali data tersebut tidak menjadi kritik destruktif semata.
“Harus dikonstruksikan menjadi argumen ilmiah yang solid dan menawarkan skema konversi SKS Diktisaintek Berdampak sebagai solusinya,” sambungnya.
Sebagai hasilnya, ia sangat bersyukur dapat meraih posisi akhir ketiga dalam perlombaan. Pencapaian tersebut membuktikan bahwa analisis kritis berbasis data yang ia susun dalam esainya diakui oleh dewan juri, serta memberi ruang bagi isu krisis manajerial Sekolah Rakyat untuk terus digaungkan.
Menurut Daniel, prestasinya tersebut memperkuat kapasitas berpikir kritis, menguji gagasan ilmiah di tingkat nasional, dan memperdalam pemahaman terhadap krisis kebijakan publik. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UNAIR mampu bersaing di panggung nasional.
“Tidak hanya berkutat pada masa lalu, tetapi juga mampu menggunakan kacamata analitisnya untuk merumuskan solusi konkret atas masalah nasional kontemporer,” tegasnya.
Terakhir, ia bertekad untuk mengembangkan riset ilmiah dengan menjadikan esai ini sebagai batu loncatan. Harapannya, ia dapat mengikuti kompetisi serupa di masa mendatang. Selain itu, ia berencana menggelar forum Mentorship & Mentoring sebagai ruang pendampingan bagi rekan mahasiswa dalam menyusun esai kritis berbasis data.
“Tujuannya agar makin banyak mahasiswa yang berani berkompetisi di tingkat nasional,” pungkasnya.
Dengan demikian, prestasi Daniel telah mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yakni quality education.
Penulis: Nihayatul Adzkiya Ahmad
Editor: Pudja Safana Dwi Putri




