Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa FIB Mengusung Program Pengolahan Sampah

Foto bersama anak-anak desa dan kelompok KKN BBK 5 UNAIR Begaganlimo serta hasil BEB 

FIB NEWS – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) merupakan bentuk realisasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui KKN BBK 5, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) mengusung program Bikin Ecobrick (BEB) yang dapat menjadi salah satu pemanfaatan sampah plastik dan membuatnya sebagai kerajinan ecobrick. Program ini diselenggarakan di Desa Begaganlimo, Gondang, Mojokerto pada Kamis (23/1/2025). 

Bikin Ecobrick (BEB)

BEB merupakan program kerja lanjutan dari yang sebelumnya, yaitu bebersih sungai. Sampah anorganik, terutama sampah plastik dari sungai dan pemakaian sehari-hari dikumpulkan, dipilah, lalu dibuat kerajinan ecobrick menjadi pot bunga. Pemilahan sampah plastik dilakukan oleh seluruh anggota kelompok dan beberapa warga serta dibantu oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya yang sedang KKN juga di desa tersebut.

Reda Damar Abdillah, selaku ketua kelompok sekaligus penanggung jawab program kerja menyampaikan bahwa ada alasan terkait diusungnya BEB. “TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang ada di setiap kecamatan hanya berjumlah dua, oleh karena itu masyarakat memilih membuang sampah ke sungai. Namun, dampaknya terkadang mengenai desa di bawahnya. Jadi, program ini diusung agar masyarakat memiliki opsi selain membuang sampah ke sungai dengan mengubah sampah menjadi barang yang memiliki nilai guna,” jelasnya. 

Proses pembuatan kerajinan Ecobrick

(Sumber: Tim dokumentasi kelompok KKN BBK 5 UNAIR Begaganlimo)

Reaksi dan Harapan

BEB mendapat dukungan antusiasme dari masyarakat setempat. Mereka bahkan ikut berpartisipasi dalam pengerjaan program kerja tersebut, walaupun ada juga yang enggan. Selain itu, anak-anak juga turut andil dalam pembuatan ecobrick. 

“Beberapa mendukung untuk bersih-bersih dan berpartisipasi, beberapa enggan karena sampah yang ada di sungai itu juga sampah mereka. Jadi terasa menjadi hal yang sia-sia karena mereka akan buang kesitu lagi. Ecobrick juga cukup disambut antusias oleh anak-anak karena mereka sudah pernah membuatnya dan mereka membuatnya lagi bersama-sama yang terasa seperti bermain jadi asik aja,” tutur Damar. 

Dengan adanya program BEB ini, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengolah sampah yang dimulai dari diri sendiri dan diakhiri dengan sistem pengolahan sampah di TPS dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Selain itu, pengolahan sampah ini diharapkan meluas ke tingkat yang lebih tinggi tidak hanya di tingkat desa saja. 

Program pengolahan sampah Bikin Ecobrick (BEB) ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 17, yaitu partnership for the goals.

Penulis: Natania Ajeng Nafisa Putri

Editor: Fania Tiara Berliana Marsyanda