Foto Ilham Baskoro Ketika mempresentasikan risetnya di SUTERA 2025 Sumber: Istimewa
Surabaya, Agustus 2025 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Airlangga. Ilham Baskoro, mahasiswa program fast track Magister Kajian Sastra Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR berhasil menyabet gelar Finalis Anugerah Andi Aziz atau Finalis Riset Terbaik Bidang Budaya dalam ajang bergengsi Seminar Antarabangsa Susastera, Bahasa dan Budaya Nusantara (SUTERA) 2025.
Konferensi internasional yang diselenggarakan di Hotel Le Erawan, Phang Nga, Thailand pada 7–8 Agustus 2025 ini diikuti oleh akademisi, peneliti, serta budayawan dari berbagai negara Asia Tenggara. SUTERA 2025 merupakan kolaborasi antara Universiti Malaysia Perlis, Universiti Kebangsaan Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, serta Fahad Wittayathan School Thailand.
Riset Folklore Jadi Sorotan
Mahasiswa yang akrab dipanggil Baskoro mempresentasikan risetnya berjudul: “Folklore as Cultural Memory: Unveiling Local Wisdom and Cultural Identity in the Historical Narratives of Parang Village, Karimunjawa.”
Dalam risetnya, Baskoro mengangkat cerita rakyat masyarakat Pulau Parang sebagai memori budaya masyarakat yang dianalisis dari sudut pandang antropologi. Dari deretan riset budaya dari profesor dan peneliti senior internasional, karya Baskoro justru menjadi sorotan utama berkat pendekatannya yang segar, tajam, dan memberikan prespektif baru dalam konteks global.
“Bagi saya, menjadi finalis anugrah riset terbaik dalam forum sebesar SUTERA 2025 bukan hanya soal prestasi pribadi, tetapi juga kesempatan untuk membawa kekayaan budaya Indonesia, khususnya tradisi masyarakat Pulau Parang Karimunjawa, ke panggung internasional,” ujar Baskoro.
Membuka Potensi Budaya ke Ranah Global
Baskoro juga berharap capaian ini dapat menjadi pemantik mahasiswa lainnya untuk tidak takut membawa potensi budaya Indonesia di ranah global.
“Tentu sangat membanggakan rasanya meski masih berstatus mahasiswa tapi sudah berhasil menunjukkan bahwa kekayaan folklore Nusantara memiliki nilai mendunia. Tradisi yang sering dianggap remeh atau usang, ternyata bisa menjadi pintu masuk untuk memahami identitas budaya dan bahkan membranding budaya kita di ranah global,” Pungkasnya.
Keberhasilan ini sejalan dengan visi FIB UNAIR dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi di forum internasional, sekaligus mengukuhkan posisi UNAIR sebagai perguruan tinggi berkelas dunia.




