Penulis: Kelompok 3 PKL Folklor Kelas A
Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) kembali menggelar Praktik Kuliah Lapangan (PKL), pada Jumat (24/05). Bertempat di desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kegiatan wajib ini diikuti setidaknya 120 mahasiswa sebagai partisipan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah dosen Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, diantaranya Bapak Listiyono Santoso, Bapak Moch. Jalal, Bapak Abimardha Kurniawan, Ibu Mardhayu Wulan Sari, dan dosen lainnya. Tidak hanya itu, juga ada Ibu Trisna Kumala Satya Dewi selaku dosen Universitas Sebelas Maret.
Acara berlangsung selama dua hari, pada 24-25 Mei 2024. Kegiatan serupa dilakukan setahun silam di lokasi yang sama dengan produk budaya berupa Reog Bulkiyo. Kini, objek yang dihadirkan adalah Serat Ambiya sebagai salah satu warisan kultural di desa setempat. Seluruh mahasiswa dibagi menjadi lima kelompok yang tersebar di lima lokasi berbeda demi menyaksikan dan menyimak langsung pembacaan tembang Macapat Serat Ambiya.
Salah satu lokasi pembacaan adalah rumah Pak Susanto, seorang warga yang turut melestarikan tradisi ini. Pembacaan tembang Macapat Serat Ambiya dimulai pukul 20.00 malam dan berakhir sekitar pukul 02.00 pagi. Serat Ambiya dilantunkan secara khidmat sembari diselingi penjelasan seputar naskah kuno tersebut. Diterangkan oleh Pak Munib selaku salah seorang pembaca Serat Ambiya, bahwa naskah ini berisi sejarah nabi-nabi yang ditulis oleh para sunan terdahulu menggunakan arab pegon. Naskah yang berada di desa Kemloko merupakan turunan, karena naskah aslinya sudah tidak layak baca.
Kembali Pak Munib melanjutkan, Serat Ambiya tidak bersifat tunggal atau hanya ada di desa Kemloko. Serat Ambiya sangat berkemungkinan ada di daerah lain dengan versinya sendiri. Umumnya, perbedaan hanya terjadi pada aspek bahasa, juga rangkaian kata dalam serat. Namun, isinya tetap serupa, yakni mengenai sejarah para nabi. Masing-masing segmen dalam cerita mempunyai lagu tembangnya sendiri, nada atau irama yang digunakan dalam pembacaan diselaraskan dengan isi cerita.
Serat Ambiya dijadikan sebagai tradisi wajib saat ada warga desa Kemloko yang melahirkan. Bayi-bayi yang baru dilahirkan akan dibacakan serat Ambiya setiap malam selama tujuh hari. Kabar tentang kelahiran bayi baru sangat kecil kemungkinan tidak diketahui, sebab pembacaan Serat Ambiya pada malam hari adalah bentuk penyambutan kedatangan bayi baru di desa Kemloko.
Warga desa Kemloko sangat memelihara keberadaan naskah Serat Ambiya dengan memastikan tidak ada lembar halaman yang hilang. Tidak lupa, warga turut mengganti sampul supaya naskah semakin terjaga. Eksistensi serat Ambiya disucikan di tengah merebaknya minat warga terhadap kebudayaan visual, seperti Reog Bulkiyo dan Jaranan. Sehingga, para tetua gencar mencari warga desa yang berhasrat mempelajari Serat Ambiya demi melestarikan tradisi dan kebudayaan desa Kemloko.
Selain naskah Serat Ambiya, terdapat juga sederet kebudayaan dan kesenian lain yang menarik untuk dieksplorasi. Pak Nasrudin, selaku kepala seksi pemerintahan desa Kemloko mengungkapkan kegiatan kebudayaan di desa Kemloko sangat melimpah ruah. Seperti, pelestari Reog Bulkiyo, Reog Sawunggaling yang diiringi kendang kempit, Jedor sholawatan yang dimeriahkan dengan tarian, Diba’an, Campursari, dan Jaranan. Semua pertunjukan ditampilkan saat peringatan hari besar islam, hari besar nasional, dan saat Pisowanan Agung yang merupakan hari jadi desa Kemloko dirayakan dua tahun sekali.




