Ketua HIMA, Dosen MKSB, Pembicara, dan Tamu dari UMS
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah | Editor: Lady Khairunnisa Adiyani
FIB NEWS – Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) sukses menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Multiculturalism and Education”. Gelaran acara itu berlangsung di ruang Siti Parwati, Lantai 2, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga pada Sabtu (5/8/2024). Seminar kolaborasi bersama Universiti Malaysia Sabah (UMS) dalam rangka joint class itu, membahas seputar multikulturalisme dalam pendidikan, sekaligus menjadi forum pertemuan bagi akademisi dan mahasiswa internasional.
Kenalkan Budaya Batik
Salah satu bagian acara seminar yang menarik perhatian adalah workshop membatik. Acara tersebut memperkenalkan batik sebagai warisan budaya Indonesia sekaligus membuka wawasan pemahaman lintas budaya. Peserta dari berbagai latar belakang budaya belajar dan merasakan langsung proses kreatif membatik, bersama bimbingan seniman lokal.
Lady Khairunisa Adiyani, S.Hum. selaku ketua HIMA MKSB, menuturkan kegiatan ini menjadi upaya edukasi dan pelestarian seni budaya Indonesia. “Kami memperkenalkan dan mengajarkan proses pembuatan batik kepada mahasiswa UMS yang hadir. Kami berharap dapat memperdalam apresiasi terhadap seni tradisional. Selain itu, membangun kesadaran pentingnya melestarikan warisan budaya di kalangan generasi muda,” ujar awardee fast track ini.
Dalam kesempatan itu, partisipan workshop dari UMS, Dr. Daron Benjamin Loo, mengaku senang mempelajari budaya Indonesia melalui proses kreatif membatik. “Sangat menarik mendengarkan penjelasan dari seorang ahli/pakar batik tentang sejarah batik dan juga tentang proses pembuatan batik. Di situ, kami belajar banyak tentang hal-hal yang penting dalam pembuatan batik lokal. Jadi, ketika saya mendengarkan pemaparan oleh ahli/pakar batik, saya bisa melihat bahwa orang Indonesia sangat bangga dengan warisan budaya lokal mereka, dan itu kita lihat sangat menyenangkan,” ujar dosen senior itu.

Mahasiswa UMS dan UNAIR sedang melakukan proses mencanting batik
Proses Kreatif Membatik
Daron bercerita, selama empat hari berada di UNAIR, ia banyak belajar tentang budaya lokal bersama mahasiswa dan beberapa dosen FIB yang menyambutnya dengan baik. “Ini adalah hari terakhir para mahasiswa dan juga dosen-dosen. Orang-orang sangat ramah, mereka menjaga kami dengan sangat baik dan juga kami belajar banyak tentang budaya lokal. Kami melihat, para mahasiswa UNAIR sangat berdedikasi. Mereka sangat tertarik dengan budaya sendiri, jadi saya berharap pengalaman baik ini juga memotivasi para mahasiswa UMS kami, ketika mereka kembali ke Sabah,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga membagikan pengalamannya belajar membatik yang menurutnya perlu kesabaran, ketelitian, dan kerja keras, serta memperhatikan setiap detail. Ia mengatakan, keempat prinsip tersebut selaras dengan penerapan hidup. “Membatik adalah cara yang baik untuk mengembangkan diri dan menjadi pribadi yang positif,’’ papar Dr. Daron.
Melalui kegiatan ini, Himpunan Mahasiswa MKSB FIB UNAIR berharap dapat memperluas wawasan peserta tentang pentingnya pendidikan multikultural yang adaptif terhadap keberagaman. Kolaborasi antarnegara dalam workshop membatik ini juga menegaskan bahwa seni tradisional dapat menjadi alat yang kuat dalam membangun pemahaman dan apresiasi lintas budaya. Dengan demikian, seminar ini berhasil memadukan pendidikan dengan seni dalam satu kerangka kerja yang selaras dengan tujuan pendidikan global.




