Pada tanggal 5-6 Juli 2024, rangkaian acara Peneleh Festival 2024 menggelar Peneleh Heritage Walk. Acara ini dibuka dengan penyampaian materi oleh Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR), Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A., yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai sejarah Kampung Peneleh.
Sejarah Kampung Peneleh Melintasi Zaman
Kampung Peneleh memiliki sejarah panjang yang mencakup berbagai periode, mulai dari masa pra-kolonial, masa Islamisasi, masa kolonial, masa revolusi kemerdekaan, hingga masa kini. Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan Kampung Peneleh bermula, jejak-jejak arkeologis dan memori arsip menunjukkan bahwa kampung ini telah ada sejak zaman Majapahit.
Masa Pra-Kolonial (Abad XV)
Pada masa pra-kolonial, Kampung Peneleh telah menjadi bagian dari peradaban Majapahit. Bukti arkeologis berupa sumur Jobong dan terakota yang ditemukan pada penggalian di gang Pandean I menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni dan digunakan sebagai lahan pertanian sejak tahun 1430 Masehi. Selain sumur dan terakota, ditemukan pula artefak berupa fragmen keramik, gerabah, bata, serta tulang hewan dan manusia.
Masa Islamisasi
Kampung Peneleh menjadi bagian penting dari penyebaran Islam di Surabaya. Raden Rahmat atau Sunan Ampel singgah di Peneleh dan memilih lokasi ini untuk mendirikan masjid. Masjid Jami’ Peneleh yang didirikan pada abad XV masih berdiri hingga kini sebagai salah satu situs sejarah penting. Kampung Peneleh juga dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi beberapa tokoh penting.
Masa Kolonial
Pada masa kolonial, Peneleh menjadi lokasi pemakaman (Kerkhof) bagi pejabat Belanda dan Eropa, termasuk Gubernur Jenderal Pieter Markus. Pemakaman Belanda di Peneleh dibangun pada tahun 1847 dengan konsep Garden Cemetery, yang menampilkan ragam hias dan tatanan monumental yang mengubah kesan muram pemakaman.
Masa Revolusi Kemerdekaan
Kampung Peneleh memiliki peran penting dalam masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh menjadi pusat pergerakan dan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh pergerakan seperti Soekarno, Semaoen, Muso, dan Tan Malaka. Soekarno, yang kemudian menjadi Presiden pertama Indonesia, lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Pandean, Peneleh.
Masa Kini
Saat ini, Kampung Peneleh merupakan kawasan dengan masyarakat yang beragam dari berbagai suku dan etnis. Pasar Buah Peneleh yang ramai sejak akhir abad XIX telah menjadi bagian dari sejarah kampung ini. Meski pasar buah telah ditutup oleh pemerintah kota pada tahun 2007, kondisi masyarakat kampung tetap mempertahankan tradisi kuliner dengan penjaja makanan yang mudah dijumpai di sekitar kampung.
Peneleh Festival 2024 melalui Peneleh Heritage Walk mengajak kita untuk menelusuri sejarah panjang Kampung Peneleh yang “pinilih” dalam setiap zaman. Kampung ini bukan hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan bangsa dari masa ke masa.




