Peserta Kunjungan Lapangan Seannet sedang mengamati benda-benda koleksi Museum Tjokroaminoto
Penulis: Cahyaning Safitri
Minggu, 12 Februari 2023 peserta SEANNET (Southeast Asia Neighbourhoods Network 2.0) kembali melanjutkan kegiatan. Setelah mengenal Kota Surabaya dan melakukan diskusi di ASEEC Tower Kampus B Universitas Airlangga (UNAIR), hari ini para peserta melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat di Kota Surabaya, yaitu Masjid Jami’ Peneleh dan Rumah Tjokro.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh peserta SEANNET dari berbagai negara di Asia Tenggara dan warga kampung Peneleh yang terlihat sangat antusias untuk menyambut dan mengenalkan sejarah yang ada di dua lokasi tersebut kepada para peserta.
Dalam kegiatan ini, peserta diajak untuk mengenal beberapa hal yang berhubungan dengan sejarah Masjid Jami’ Peneleh dan Rumah Tjokroaminoto.
Saat berada di Masjid Jami Peneleh, peserta dikenalkan dengan sebuah alat yang digunakan sebagai penentu waktu salat pada zaman dulu.
“Masjid Jami Peneleh mampunyai sebuah tanda waktu berupa jam yang digunakan untuk menunjukkan waktu dengan bantuan sinar matahari. Jam tersebut dikenal dengan istilah jam gencet, jam yang digunakan untuk menentukkan jatuhnya waktu salat,” ujar Ketua Takmir Masjid.
Selain menjelaskan alat penentu waktu salat zaman dulu, ia juga menjelaskan secara singkat mengenai sejarah berdirinya Masjid Jami Peneleh dan makna dari ornamen-ornamen yang menghiasi masjid tersebut.
“Masjid Jami Peneleh ini didirikan oleh salah satu Sunan Walisongo, yakni Sunan Ampel. Masjid tersebut berdiri pada abad ke-15 sekitar tahun 1430-1435 karena jumlah komunitas Agama Islam terlalu sedikit dibandingkan dengan komunitas agama-agama lain,” ungkapnya.
Setelah berkunjung ke Masjid Jami’ Peneleh, rombongan peserta SEANNET melanjutkan perjalanan ke museum Rumah Tjokroaminoto, di mana rumah tersebut merupakan saksi bisu dari pergerakan pejuang-pejuang bangsa Indonesia untuk kemerdekaan Indonesia yang langsung dijelaskan oleh Rohman Obet, salah seorang warga di sana dan Tim Seannet Surabaya.
“Museum Rumah Tjokroaminoto merupakan rumah pergerakan dari Tjokroaminoto dan dulunya merupakan rumah kos dari tokoh-tokoh pergerakan, seperti Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, Alimin, dan kawan-kawan. Uniknya, setelah lepas dari rumah kos tersebut, mereka menjadi berbeda aliran. Ada yang menjadi tokoh nasionalis, agamis, dan beberapa menjadi tokoh komunis,” tuturnya.
“Alasan peserta SEANNET datang ke sini adalah untuk melihat sejarah pergerakan dari warga-warga kampung pada zaman dulu. Selain itu juga untuk melihat bahwasanya tempat ini berakhir menjadi museum dan sedikit lebih privat. Di mana sebelumnya warga dapat memanfaatkan rumah ini untuk beberapa kegiatan sosial, sekarang menjadi lebih sulit. Dan hal tersebut tidak sejalan dengan sejarah hidup rumah ini, di mana sebelumnya menjadi rumah pergerakan,” sambung Obet. (*)




