Enam akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) menjalani perjalanan akademik dan kultural di Kota Mumbai, India, Selasa (13 Januari 2026). Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana sebuah kota metropolitan dunia mampu memadukan sejarah, modernitas, dan nilai-nilai spiritual dalam satu ruang kehidupan.
Rombongan terdiri dari tiga dosen FKH UNAIR, yakni Lita Rakhma Yustinasari, Yeni Dhamayanti, dan Moh. Sukmanadi, serta tiga mahasiswa program magister, Tarshan Sharma Suresh, Ranto Bayu Damanik, dan Fitriani Sultan. Selama satu hari penuh, mereka menelusuri sejumlah landmark penting dan pusat kehidupan masyarakat Mumbai.

Gateway of India
Perjalanan diawali di Gateway of India, ikon sejarah Mumbai yang terletak di tepi Laut Arab. Di lokasi ini, para akademisi menyaksikan langsung dinamika kota yang padat dan multikultural, sekaligus mempelajari peran historis kawasan tersebut sebagai gerbang utama India pada masa kolonial. Tak jauh dari sana, The Taj Mahal Palace Hotel menjadi perhatian berikutnya. Bangunan bersejarah yang telah berdiri lebih dari satu abad ini mencerminkan kejayaan arsitektur klasik Mumbai dan menjadi simbol penting perkembangan kota dari masa ke masa.

Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus (CSMT)
Rombongan kemudian mengunjungi Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus (CSMT), stasiun kereta api bersejarah yang kini menjadi pusat transportasi tersibuk di Mumbai. Aktivitas masyarakat yang berlangsung tanpa henti di tengah bangunan bergaya Victoria memperlihatkan bagaimana warisan sejarah tetap berfungsi di tengah kehidupan modern.
Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC)
Kunjungan juga dilanjutkan ke Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC), kantor pemerintahan kota Mumbai yang masih aktif hingga saat ini.

Bandra–Worli Sea Link
Sisi modern Mumbai ditampilkan saat rombongan melintasi Bandra–Worli Sea Link. Jembatan ikonik ini menyuguhkan panorama laut dan kawasan perkotaan, sekaligus menjadi simbol pembangunan infrastruktur modern di kota tersebut.

Mahalakshmi Temple
Menjelang sore, suasana berubah lebih tenang saat rombongan mengunjungi Mahalakshmi Temple, salah satu kuil Hindu utama di Mumbai. Aroma dupa, lantunan doa, dan lokasi yang berdekatan dengan laut menghadirkan pengalaman spiritual yang khusyuk.

Pir Haji Ali Shah Bukhori (Haji Ali Dargah)
Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke Haji Ali Dargah, situs religi yang berdiri di tengah laut dan dapat diakses melalui jalan sempit. Tempat ini dikenal sebagai simbol toleransi, karena dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi perjalanan observasi budaya, tetapi juga memperkaya perspektif akademisi FKH UNAIR dalam memahami dinamika sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat global. Dalam satu hari, Mumbai memperlihatkan dirinya sebagai kota yang sibuk, beragam, dan sarat makna—sebuah pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam bagi para akademisi Indonesia tersebut.
Penulis: Dr. Moh. Sukmanadi, drh., M.Kes.




