Universitas Airlangga Official Website

FLUTD pada Kucing

Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) adalah kondisi umum yang memengaruhi saluran kemih bagian bawah pada kucing. Penyakit ini dapat terjadi pada berbagai usia, tetapi lebih sering ditemukan pada kucing muda hingga dewasa, terutama yang memiliki gaya hidup sedentary, kelebihan berat badan, serta mengalami stres akibat perubahan lingkungan atau rutinitas.

FLUTD dapat bersifat obstruktif atau non-obstruktif. Penyebab utama meliputi feline idiopathic cystitis (FIC), penyumbatan uretra, urolithiasis, infeksi saluran kemih, serta faktor lingkungan dan nutrisi.

Kasus FLUTD di RSHP Universitas Airlangga

Pada 9 Januari 2024, seekor kucing mix domestik jantan berusia 4 tahun dengan berat 4 kg dirawat di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) Universitas Airlangga. Kucing ini mengalami kesulitan buang air kecil sejak pagi, lemas, tidak mau makan dan minum, serta memiliki riwayat stranguria dan pemasangan kateter sebelumnya. Pemeriksaan menunjukkan suhu tubuh sedikit meningkat (39,5°C), pulsus 144 kali/menit, frekuensi respirasi 108 kali/menit, vesica urinaria besar dan keras, serta abdomen kembung.

Penanganan dan Terapi

Penanganan pertama melibatkan pemasangan kateter dan flushing vesica urinaria. Selain itu, diberikan terapi farmakologis berupa: Obat penetral asam lambung dan mengurangi gas dalam saluran pencernaan, obat herbal berbahan dasar daun tempuyung dan kejibeling yang berfungsi melarutkan batu ginjal dan mencegah pembentukan kristal kalsium oksalat,  antibiotik, obat anti infeksi saluran kemih, antihistamin, dan suplemen.

Selain terapi obat, dilakukan penjemuran pagi, fisioterapi, serta terapi laserpuncture sebanyak tiga kali dalam seminggu. Setelah empat hari, kateter dilepas karena kucing mulai dapat buang air kecil sendiri meskipun masih dalam bentuk tetesan.

Kasus FLUTD pada kucing ini memiliki relevansi dengan beberapa target SDGs, khususnya:

  1. SDG 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik Penyakit FLUTD pada kucing tidak hanya berdampak pada kesejahteraan hewan tetapi juga pada pemiliknya. Dengan perawatan yang tepat dan edukasi bagi pemilik hewan, kejadian FLUTD dapat dicegah dan dikendalikan, sehingga meningkatkan kesejahteraan hewan peliharaan.
  2. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Faktor nutrisi, terutama konsumsi makanan kering tinggi magnesium dan rendah air, berkontribusi terhadap FLUTD. Edukasi pemilik hewan tentang pola makan sehat dapat membantu mengurangi insidensi penyakit ini.
  3. SDG 15: Ekosistem Darat Kesehatan hewan berkontribusi terhadap keseimbangan ekosistem. Penyakit seperti FLUTD dapat menjadi indikator perubahan lingkungan dan kesejahteraan hewan domestik dalam sistem perkotaan.

FLUTD merupakan penyakit yang sering terjadi pada kucing dan dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan hewan. Penanganan yang tepat, termasuk terapi medis, perubahan pola makan, serta pengelolaan stres, sangat penting dalam pengobatan dan pencegahan penyakit ini. Selain itu, pengelolaan FLUTD juga memiliki relevansi dengan beberapa tujuan SDGs, terutama dalam aspek kesejahteraan hewan, konsumsi yang bertanggung jawab, dan kesehatan ekosistem secara keseluruhan.

Penulis: Naufal Syarifudin