Apa itu FLUTD?
Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) adalah gangguan non-spesifik yang menyerang kandung kemih hingga uretra pada kucing. Gejala klinis FLUTD bervariasi tergantung pada lokasi urolit. Beberapa gejala umum yang sering muncul meliputi pollakiuria (sering buang air kecil dalam jumlah sedikit), stranguria (kesulitan buang air kecil), anuria (tidak bisa buang air kecil), dan hematuria (adanya darah dalam urin).
Sebagian besar kasus FLUTD disertai dengan obstruksi uretra, yang lebih sering terjadi pada kucing jantan dibandingkan betina. Diagnosis FLUTD dilakukan melalui pemeriksaan fisik, observasi gejala klinis, serta pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG), analisis darah, dan urinalisis untuk memastikan tidak ada penyakit lain yang memiliki gejala serupa.
Anamnesa dan Signalement
Seekor kucing jantan domestik berusia 7 tahun datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan pada tanggal 27 November 2024 dengan keluhan lemas, muntah cairan bening, sulit buang air kecil yang disertai darah, tidak mau makan dan minum, serta riwayat kateterisasi lima bulan sebelumnya. Kucing ini juga mengalami kesulitan buang air besar.
Pemeriksaan Fisik dan Tindakan Medis
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa hidung dan mukosa mulut tampak pucat, dengan tanda peradangan pada gusi bagian belakang sisi kanan dan kiri. Turgor kulit normal, berat badan 4,5 kg, suhu tubuh 38,3°C, heart rate 144 kali/menit, dan respiratory rate 60 kali/menit. Setelah konsultasi dengan dokter penanggung jawab, kucing diberikan injeksi antibiotik, antiinflamasi, serta vitamin C. Kateterisasi dilakukan untuk mengeluarkan urin yang tertahan, dan infus Ringer Laktat diberikan untuk mengatasi dehidrasi akibat kurangnya asupan cairan.
Pengobatan FLUTD
Terapi yang diberikan meliputi:
- Injeksi antibiotik setiap pagi dan sore untuk mengatasi infeksi bakteri.
- Pemberian hematopoietik untuk membantu pembentukan sel darah merah.
- Anti-inflamasi untuk meredakan peradangan.
- Vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Obat oral untuk mendukung fungsi ginjal dan kandung kemih.
- Flushing kateter dengan NaCl setiap pagi dan sore untuk memastikan tidak ada sumbatan.
Perawatan ini dilakukan sejak 28 November 2024. Pada hari kedua, kucing mulai menunjukkan perbaikan, seperti mulai makan dan minum sendiri serta berkurangnya darah dalam urin. Infus dilepas pada 29 November 2024, dan terapi injeksi diganti menjadi obat oral. Kateter dilepas pada 1 Desember 2024, tetapi karena urin masih berwarna kemerahan, kateterisasi ulang dilakukan pada 3 Desember 2024. Setelah diberikan terapi tambahan, pada 4 Desember 2024 urin sudah normal dan kucing diperbolehkan pulang dengan terapi lanjutan selama lima hari di rumah.
Keterkaitan dengan SDGs
Kasus FLUTD pada kucing tidak hanya menjadi permasalahan kesehatan hewan tetapi juga berhubungan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain:
- SDG 3: Good Health and Well-being
Penyakit pada hewan peliharaan dapat berdampak pada kesejahteraan pemiliknya. Dengan penanganan yang tepat, kesejahteraan kucing dan pemiliknya dapat ditingkatkan. - SDG 6: Clean Water and Sanitation
Salah satu faktor risiko FLUTD adalah kualitas air minum yang buruk. Penyediaan air bersih untuk hewan peliharaan merupakan langkah penting dalam mencegah penyakit ini. - SDG 12: Responsible Consumption and Production
Pemilihan pakan yang tepat dan keseimbangan diet sangat penting dalam pencegahan FLUTD. Edukasi kepada pemilik hewan tentang konsumsi pakan yang bertanggung jawab membantu mengurangi risiko penyakit ini.
Melalui edukasi, pengelolaan kesehatan hewan yang lebih baik, serta peningkatan kesadaran akan faktor-faktor yang mempengaruhi FLUTD, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih sehat bagi hewan peliharaan serta kesejahteraan yang lebih baik bagi pemiliknya.
Penulis: Anik Wahyuningsih




