Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (IPKMV), Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Drh. Ainaya luthfi Anindya, telah berhasil menyelesaikan dan mempertahankan tesisnya dalam ujian tesis yang dilaksanakan pada 29 Januari 2025. Penelitian yang diangkat menyoroti keberadaan parasit Cysticercus fasciolaris pada tikus di wilayah Surabaya, yang memiliki dampak penting terhadap kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
Ujian tesis tersebut dipimpin oleh Prof. Muchammad Yunus, drh., M.Si., Ph.D selaku ketua sidang. Adapun dosen pembimbing dalam penelitian ini adalah Prof. Dr. Lucia Tri Suwanti, drh., M.P. dan Dr. Mufasirin, drh., M.Si. yang secara konsisten memberikan arahan ilmiah sejak tahap perencanaan hingga penyusunan hasil penelitian. Sidang berlangsung lancar dengan diskusi akademik yang mendalam, dan Drh. Ainaya dinyatakan lulus setelah mampu mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya dengan baik.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya populasi tikus sebagai hewan liar di wilayah perkotaan, termasuk Surabaya. Tikus dikenal sebagai reservoir berbagai agen penyakit, baik bakteri, virus, maupun parasit, yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Salah satu parasit yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah Cysticercus fasciolaris, yaitu stadium larva dari cacing pita Taenia taeniaeformis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa temuan Cysticercus fasciolaris pada tikus di Surabaya tergolong cukup tinggi. Parasit tersebut ditemukan terutama pada organ hati tikus, dengan ukuran dan tingkat infestasi yang bervariasi. Tingginya angka temuan ini mengindikasikan bahwa siklus hidup parasit masih berlangsung aktif di lingkungan perkotaan, yang melibatkan tikus sebagai hospes perantara dan kucing sebagai hospes definitif.
Lebih lanjut, Cysticercus fasciolaris bersifat zoonosis, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Meskipun manusia bukan hospes utama, paparan telur cacing dari lingkungan yang terkontaminasi dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi kurang baik. Oleh karena itu, keberadaan parasit ini tidak hanya menjadi permasalahan veteriner, tetapi juga isu kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Dalam pemaparannya, Drh. Ainaya menjelaskan bahwa tingginya infestasi Cysticercus fasciolaris pada tikus sangat berkaitan dengan faktor lingkungan, seperti pengelolaan sampah yang belum optimal, kepadatan pemukiman, serta tingginya interaksi antara tikus, kucing, dan manusia. Kondisi tersebut menciptakan ekosistem yang mendukung keberlangsungan siklus hidup parasit secara berkelanjutan.
Sebagai bentuk kontribusi ilmiah dan praktis, Drh. Ainaya luthfi Anindya memberikan sejumlah saran penanggulangan. Upaya yang disarankan meliputi pengendalian populasi tikus melalui perbaikan sanitasi lingkungan, pengelolaan sampah yang baik, serta penerapan sistem pengendalian hama yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Selain itu, pengawasan terhadap populasi kucing, khususnya kucing liar, perlu dilakukan karena kucing berperan sebagai sumber penyebaran telur cacing melalui feses.
Edukasi kepada masyarakat juga menjadi poin penting dalam penanggulangan penyakit zoonosis ini. Masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan, serta menghindari kontak langsung dengan hewan liar. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia dapat ditekan secara signifikan.
Penelitian ini memiliki relevansi yang kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-3 (Good Health and Well-being) yang menekankan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan bagi semua. Upaya pencegahan penyakit zoonosis seperti Cysticercus fasciolaris merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini juga berkaitan dengan SDGs ke-11 (Sustainable Cities and Communities) melalui upaya menciptakan lingkungan perkotaan yang sehat, bersih, dan aman dari risiko penyakit.
Tidak hanya itu, aspek pengelolaan lingkungan dan sanitasi yang disoroti dalam penelitian ini sejalan dengan SDGs ke-6 (Clean Water and Sanitation), yang menekankan pentingnya akses terhadap sanitasi layak dan pengelolaan limbah yang baik. Dengan lingkungan yang bersih dan terkelola, rantai penularan parasit zoonosis dapat diminimalkan.
Ketua sidang, Prof. Muchammad Yunus, drh., M.Si., Ph.D menyampaikan apresiasi atas penelitian yang dinilai memiliki nilai strategis dalam mendukung pendekatan One Health, yaitu integrasi kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Sementara itu, para dosen pembimbing berharap hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi pengambilan kebijakan serta penelitian lanjutan di bidang kesehatan masyarakat veteriner.
Dengan selesainya ujian tesis ini, Drh. Ainaya diharapkan mampu berkontribusi secara nyata dalam pengembangan ilmu dan praktik kesehatan masyarakat veteriner, sekaligus mendukung pencapaian SDGs melalui pengendalian penyakit zoonosis di lingkungan perkotaan. Penelitian ini menjadi bukti nyata bahwa peran akademisi sangat penting dalam menjawab tantangan kesehatan global secara berkelanjutan.
Mufasirin
Dosen Divisi Parasitologi FKH UNAIR




