Otitis adalah peradangan atau infeksi pada telinga hewan yang dapat terjadi pada tiga bagian telinga, yaitu telinga luar (otitis externa), telinga tengah (otitis media), atau telinga dalam (otitis interna). Gejala utama otitis meliputi gatal, kemerahan, bau tidak sedap, keluarnya cairan dari telinga, bengkak, rasa nyeri serta perilaku seperti sering menggelengkan kepala atau menggaruk telinga. Sedangkan pada otitis interna pada umumnya juga disertai dengan gejala neurologi dan penurunan daya dengar hingga hilangnya kemampuan mendengar secara permanen (Maslim dan Batan, 2021).
Hewan kesayangan, terutama anjing dan kucing, rentan mengalami otitis, terutama yang memiliki sistem imunitas yang lemah, alergi, serta telinga panjang dan terkulai (seperti anjing ras Golden Retriever atau Cocker Spaniel). Hewan peliharaan yang sering berenang atau mandi, namun tidak dikeringkan dengan baik juga lebih rentan terkena otitis.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh adanya asing, hipersensitivitas (atopik dan alergi makanan), kelainan keratinisasi (saborrhea idiopatik primer dan hipotiroidisme), penyakit autoimun, kelainan glandula apokrin dan sebasea, adanya infestasi parasit (seperti Otodectes cynotis, Notoedres cati, Otobius megnini), infeksi bakteri (seperti Staphylococcus sp., Streptococcuss p., Proteus spp., Pseudomonas sp.), dan jamur (seperti Malassezia pachydermis) (Islami dkk., 2018). Terjadinya otitis pada hewan kesayangan juga didukung oleh beberapa faktor predisposisi seperti ras hewan, bentuk telinga, kelembapan, produksi serumen (idiopatik), kerusakan telinga (neoplasma, feline polip nasofaring), penyakit sistemik (pireksia, imunosupresi, debilisasi, keadaan katabolik) dan efek pengobatan (trauma dari penggunaan cotton bud, obat topikal yang mengiritasi, pembersihan telinga yang berlebihan).
Otitis dapat terjadi kapan saja, tetapi lebih sering muncul pada musim hujan atau saat kelembapan tinggi karena lingkungan yang lembap mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga diperlukan pemeriksaan dan perawatan telinga hewan secara rutin. Pemeriksaan dan perawatan telinga hewan harus dilakukan setidaknya seminggu sekali, terutama untuk hewan yang rentan terhadap masalah telinga. Pemilik harus segera memeriksakan hewan ke dokter hewan jika melihat tanda-tanda otitis, seperti telinga kemerahan, bau tidak sedap, atau hewan sering menggaruk telinganya untuk diberikan penanganan lebih lanjut.
Terjadinya otitis dapat dicegah dengan melakukan pembersihan telinga secara rutin menggunakan pembersih khusus telinga yang direkomendasikan oleh dokter hewan. Telinga hewan harus dipastikan dalam keadaan kering, terutama setelah mandi atau berenang, untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur akibat kelembaban yang berlebih. Trimming bulu yang tumbuh terlalu panjang di sekitar telinga agar meningkatkan sirkulasi udara dan mengurangi kelembaban di dalam telinga. Pemberian obat anti parasit secara rutin juga diperlukan untuk
mencegah terjaidnya otitis akibat parasit.
Pengobatan otitis dilakukan berdasarkan penyebabnya. Otitis yang disebabkan oleh parasit, dapat diberikan terapi berupa pemberian anti parasit seperti Ivermectin, Salamectin, atau golongan phyrethroid Untuk otitis yang disebbakan oleh infeksi campuran (parasit dan bakteri), terapi yang diberikan adalah pemberian secara topikal yang mengandung antibiotik, antiinflamasi dan antiparasit (Maslim dan Batan, 2021). Sedangkan pada kasus yang parah, pembersihan telinga di klinik hewan atau bahkan tindakan bedah mungkin diperlukan.
Penanganan dan pencegahan otitis pada hewan kesayangan memiliki hubungan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
- SDG 3: Good Health and Well-being
Kesehatan hewan memiliki dampak langsung terhadap kesehatan manusia melalui konsep One Health. Pengendalian infeksi dan penyakit hewan seperti otitis dapat membantu mengurangi risiko zoonosis dan meningkatkan kesejahteraan hewan serta pemiliknya. - SDG 12: Responsible Consumption and Production
Penggunaan obat-obatan veteriner seperti antibiotik harus dilakukan secara bijak untuk menghindari resistensi antimikroba (AMR). Manajemen kesehatan hewan yang baik dapat mendukung praktik penggunaan obat yang bertanggung jawab. - SDG 15: Life on Land
Kesehatan hewan yang terjaga berkontribusi pada keseimbangan ekosistem. Hewan yang sehat akan mengurangi risiko penyebaran penyakit ke satwa liar dan manusia, serta menjaga keseimbangan populasi dalam lingkungan domestik dan alam liar.
(Yulia Triannti Inayah)




