Menjadi mahasiswa koasistensi di rumah sakit kedokteran hewan adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan kejutan, tantangan, sekaligus pengalaman berharga yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setiap hari saya menghadapi kasus yang berbeda-beda, mulai dari hewan kesayangan seperti anjing dan kucing, hingga hewan eksotik yang jarang sekali saya jumpai secara langsung. Dari sekian banyak momen, ada satu pengalaman yang begitu membekas dalam ingatan saya, yakni ketika saya mendapat kesempatan menangani seekor merak muda berusia lima bulan yang harus menjalani operasi amputasi akibat fraktur humerus. Pengalaman ini bukan hanya menguji kemampuan klinis saya, tetapi juga membuka mata saya tentang luasnya dunia kedokteran hewan yang sesungguhnya.
Saya masih ingat jelas hari itu, dua pria datang ke poli dengan membawa seekor merak berwarna hujau, bulunya masih muda, tetapi pancaran eksotisnya sudah terlihat jelas. Burung itu tampak tidak aktif, sayapnya lemas, dan gerakannya terbatas. Saat dilakukan pemeriksaan awal, diketahui bahwa merak tersebut mengalami fraktur terbuka pada tulang humerusnya. Sebagai mahasiswa, ini merupakan pengalaman pertama saya mengamnesa kasus merak secara langsung. Rasanya ada campuran gugup dan antusiasme dalam diri saya. Gugup karena ini bukanlah hewan yang biasa saya tangani, antusias karena saya tahu inilah kesempatan untuk belajar lebih banyak.
Proses anamnesa tidak semudah yang dibayangkan. Saya harus menggali riwayat kejadian dari pemilik, bagaimana merak ini bisa mengalami cedera, bagaimana pola makannya, serta bagaimana perawatan yang diberikan sebelum dibawa ke rumah sakit. Saat tangan saya memegang tubuh kecil namun anggun itu, saya bisa merasakan betapa rapuhnya kondisi merak tersebut. Saya menyadari bahwa komunikasi bukan hanya terjadi antara dokter dan pemilik, tetapi juga antara dokter dengan pasien. Dalam hati, saya mencoba menenangkan diri, membayangkan bahwa setiap pertanyaan dan tindakan yang saya lakukan akan membantu merak ini mendapatkan penanganan terbaik.
Ketika hasil pemeriksaan menunjukkan perlunya amputasi, sedih rasanya. Membayangkan seekor burung yang selama ini identik dengan keindahan bulunya harus kehilangan sayapnya terasa begitu berat. Sebagai mahasiswa koas, saya belum pernah membayangkan akan ikut serta dalam prosedur pada merak seperti in, namun di situlah letak tantangannya: dunia kedokteran hewan selalu penuh dengan hal-hal yang tidak terduga. Operasi amputasi itu bukan hanya soal mengangkat bagian tubuh yang rusak, tetapi juga bagaimana memberikan kesempatan hidup baru bagi merak tersebut.Proses operasi berlangsung penuh konsentrasi. Saya mendapat kesempatan untuk ikut andil dalam tahapannya, mulai dari persiapan pra-bedah hingga membantu selama prosedur berlangsung. Membantu langsung dalam proses operasi pengangkatan sayap yang patah oleh dokter operator adalah pengalaman yang benar-benar menegangkan sekaligus menambah wawasan saya. Ada momen ketika saya merasa tidak tega, tetapi saya tahu ini adalah pilihan terbaik bagi pasien. Saya juga belajar bagaimana menjaga kondisi aseptik, bagaimana membantu menyiapkan instrumen, serta bagaimana menjaga kestabilan pasien selama prosedur. Semua detail itu terasa begitu nyata, begitu membekas, karena inilah pertama kalinya saya benar-benar berada di dalam ruang operasi burung eksotik.
Namun, pengalaman tidak berhenti sampai di meja operasi. Justru tahap pasca-operasi memberikan kesan yang lebih mendalam bagi saya. Saya ikut serta dalam perawatan luka, mulai dari membersihkan area sayap yang diamputasi, melakukan pembalutan perban dengan hati-hati, hingga memastikan tidak ada perdarahan atau infeksi yang muncul. Setiap kali mengganti perban, saya berusaha melakukannya dengan lembut, seakan memahami bahwa pasien ini sudah melalui rasa sakit yang begitu besar. Selain itu, saya juga bertanggung jawab membantu pemberian pakan berupa ulat dan terapi obat-obatan pasca operasi. Saat melihat merak itu lahap makan meskipun kondisinya belum stabil, ada rasa haru yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Saya merasa benar-benar menjadi bagian dari proses pemulihannya. Pengalaman bersama pasien merak itu membuka pikiran saya bahwa kedokteran hewan bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa, tetapi juga tentang memberikan kualitas hidup yang lebih baik meskipun dengan keterbatasan yang ada. Saya belajar tentang arti keberanian, baik dari sisi pasien yang berjuang untuk bertahan hidup, maupun dari sisi dokter yang berani mengambil keputusan besar demi kebaikan pasien. Sebagai mahasiswa, saya juga belajar tentang tanggung jawab: bahwa setiap tindakan yang saya lakukan, sekecil apapun, memiliki dampak terhadap kesejahteraan hewan yang saya rawat.
Selain merak, saya juga mendapat pengalaman menarik saat menerima pasien sulcata di poli. Kasus ini tidak kalah menantang, karena melibatkan beberapa individu sekaligus. Tiga ekor sulcata kecil dengan nama yang unik Jabal, Lintang, dan Bima dibawa oleh pemiliknya jauh-jauh dari luar kota dengan keluhan urates dari ketiga sulcate itu hanya keluar sedikit. Saat itu, saya berkesempatan melakukan pemeriksaan radiografi (x-ray) pada ketiganya. Betapa terkejutnya saya ketika hasil radiografi menunjukkan adanya bladder stone pada dua ekor di antaranya. Sulcata-sulcata itu masih kecil, namun sudah mengalami masalah urologi yang cukup serius.
Melakukan pemeriksaan fisik pada kura-kura berbeda sekali dengan hewan lain seperti anjing atau kucing. Saya harus belajar cara memegang yang benar, bagaimana memeriksa pernapasan, dan bagaimana menilai kondisi kloaka. Ketika melakukan x-ray, ada rasa antusiasme tersendiri karena ini pertama kalinya saya terlibat langsung dalam pemeriksaan radiografi reptil. Hasil yang menunjukkan adanya batu kandung kemih membuat saya semakin sadar bahwa hewan eksotik juga rentan mengalami penyakit kompleks yang membutuhkan penanganan serius.
Saya merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan emas ini. Tidak semua mahasiswa bisa mengalami langsung penanganan kasus eksotik yang kompleks. Saya berharap ke depannya saya dapat lebih banyak lagi menangani pasien eksotik, sehingga pengalaman dan wawasan saya semakin luas. Dunia kedokteran hewan tidak hanya melulu tentang hewan kesayangan seperti anjing dan kucing, tetapi juga mencakup hewan liar, satwa langka, dan hewan eksotik yang masing-masing memiliki tantangan tersendiri.
Pengalaman ini sejalan dengan SDGs (Sustainable Development Goals):
- SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera): dengan mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan hewan, secara tidak langsung kita turut berkontribusi pada kesehatan masyarakat melalui pendekatan One Health.
- SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): sebagai mahasiswa kedokteran hewan, pengalaman langsung ini memperkaya pengetahuan dan kompetensi klinis saya.
- SDG 15 (Ekosistem Daratan): merawat satwa eksotik dan langka berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati serta pengelolaan satwa liar yang bertanggung jawab.
Bagi saya, kasus-kasus ini bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik—tetapi sebuah perjalanan transformatif yang mengajarkan ketekunan, keberanian, dan kepedulian. Dari seekor merak yang kehilangan sayapnya hingga kura-kura sulcata dengan batu kandung kemih, saya belajar arti sejati dari kepedulian. Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya pada profesi yang saya pilih dan memperdalam komitmen untuk menjadi dokter hewan yang tidak hanya mendukung kesehatan hewan, tetapi juga tujuan yang lebih luas terkait keberlanjutan dan kesejahteraan global.
Penulis: Gita Angelina R W




