Hari Senin, 15 September 2025, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan akademik kami selama koasistensi di RSHP Unair. Pada hari itu, dilaksanakan ujian praktik bedah ovariohisterektomi sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan divisi ini. Sejak pagi, kami memperisapkan peralatan dengan sterilisasi alat, persiapan kucing dengan dipuasakan dari pagi, mencukur lokasi untuk dilakukan insisi, serta memasang infus. Meski sudah sering mempelajari teknik dan prosedurnya melalui teori maupun latihan, berada di ruang ujian dengan pasien di meja operasi tetap memberikan ketegangan bagi kami yang akan melaksanakan ujian.
Operasi dilakukan mulai pukul 09.00 dan diawasi oleh penguji bedah kami. Kami sekelompok yaitu Anggi, Ge, Gebi, Tesya, dan Yusuf telah membagi peran kami masing-masing untuk menjalankan bagian yang akan kami kerjakan nantinya. Proses dimulai dengan persiapan aseptic, mulai dari sterilisasi area operasi, persiapan instrumen, hingga prosedur scrub tangan yang harus dilakukan sesuai standar. Saat mengenakan gaun bedah dan sarung tangan steril, kami mempraktikkan kembali prosedur penggunaan yang benar yang pernah disampaikan saat tramed bedah awal. Ketika insisi pertama dilakukan pada linea alba, kami memperthatikan ketelitian dan kestabilan tangan, dan pemahaman anatomi dalam tindakan ini dan melakukannya dengan hati-hati.
Selama operasi berlangsung, ada beberapa tantangan kecil yang kami hadapi, misalnya saat mengidentifikasi ovarium dan memastikan ligasi dilakukan dengan benar agar tidak terjadi perdarahan. Kami bekerjasama, fokus, serta mengingat arahan yang pernah diberikan dosen pembimbing saat kami demo bedah sebelumnya. Kami berhasil menyelesaikan tahapan tersebut dengan baik. Proses penjahitan dinding abdomen dan kulit menjadi tahap akhir dan kami selesaikan sesuai pembagian kami masing- masing juga dengan baik.
Ketika operasi selesai, kami membersihkan area sekitar bekas jahitan dan menutup dengan kasa steril dan hypafiix. Setelah kondisi kucing stabil kami memberikan perawatan pasca operasi ke kucing Lontong secara bergantian setiap harinya. Satu hari setelah kami ujian, kami memberikan hasil laporan kegiatan kami ke penguji bedah kami.
Ujian ini bukan hanya sekadar penilaian keterampilan bedah, tetapi juga sebuah perjalanan kami setelah belajar teori, latihan keterampilan dasar, demo bedah, hingga kesiapan mental menghadapi situasi nyata. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa seorang dokter hewan tidak hanya dituntut baik dalam teknik, tetapi juga harus memiliki ketenangan, rasa tanggung jawab, serta kepekaan terhadap keselamatan pasien.
Kegiatan ujian praktik ini sejalan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs):
- SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera – meningkatkan kualitas layanan kesehatan hewan yang juga berdampak pada kesehatan masyarakat melalui konsep One Health.
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas – pembelajaran berbasis praktik nyata yang mendukung kompetensi mahasiswa kedokteran hewan.
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab – penerapan standar penggunaan obat, bahan medis, dan pengelolaan operasi yang bertanggung jawab.
- SDG 15: Ekosistem Daratan – menjamin kesejahteraan hewan sebagai bagian dari keberlanjutan ekosistem domestik dan lingkungan.
Penulis: Anggi Karolina Boru Saragih




