Riwayat Penyakit
Pada tanggal 2 Desember 2024, seekor Kucing Betina berumur 3 tahun dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan Unair (RSHP) dengan keluhan Nafsu makan mulai menurun, kondisinya tampak lemas , Muntah yang disertai Diare sejak 2 hari yang lalu, dengan riwayat sudah dilakukan vaksinasi dan obat cacing secara rutin. Pemeriksaan fisik berupa pengukuran Temperature/Pulsus/Respiratori/ 39,2 °C/150/60.
Apasih Gastroenteritis itu?
Gastroenteritis merupakan salah satu penyakit pada kucing yang menimbulkan gejala klinis berupa muntah disertai diare. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, termasuk alergi makanan, parasit usus, dan infeksi bakteri maupun virus pada saluran pencernaan kucing. Hal tersebut juga membuat kondisi kucing akan mengalami penurunan berat badan,
penurunan nafsu makan, dehidrasi.
Kenapa kucing dapat terkena Gastroenteritis?
Resiko kucing dapat terkena gastroenteritis bisa disebabkan oleh beberapa factor berikut ini :
- Diet: Perubahan pola makan secara tiba tiba dapat memicu gangguan gastrointestinal. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan saluran pencernaan kucing untuk beradaptasi
dengan makanan baru sehingga kucing kesulitan untuk mencerna makanan baru. - Infeksi : Infeksi pada saluran pencernaan dapat disebabkan oleh bakteri seperti E. coli, Salmonella sp. , selain itu juga bisa disebabkan oleh virus Panleeukoponia yang dapat
menyebabkan diare berdarah. - Parasite: Parasit yang berada di saluran pencernaan kucing juga dapat menyebabkan muntah dan diare salah satunya Toxocara sp. Selain itu juga ada beberapa cacing dan
protozoan pencernaan juga dapat menyebabkan diare. - Toxin: Adanya toxin yang berada dalam saluran pencernaan juga dapat menyebabkan gastroenteritis, toxin tersebut dapat berupa bahan kimia, tanaman beracun atau makanan
yang sudah basi juga dapat menyebabkan gastroenteritis.
Kapan sih kucing tersebut harus dibawa ke dokter hewan?
Kucing dengan gejala muntah dan diare yang lebih dari 24 jam harus segera dikonsultasikan kepada dokter hewan. Selain itu apabila selama 24 jam tersebut kondisi kucing sudah tampak lesu dan kondisinya sudah tidak aktif seperti biasanya, anda harus segera membawanya ke dokter hewan.
Bagaimana treatmen yang dilakukan ?
Terapi dilakukan secara simptomatis. Terapi yang pertama diberikan adalah dengan pemberian antiemesis yang mampu  menghambat histamin dan reversibel pada reseptor histamin H2 di
sel parietal lambung. Hal itu dapat menghambat sekresi asam lambung dan volume lambung serta menurunkan konsentrasi ion hidrogen. Pemberian obat antiemesis diberikan 30 menit sebelum makan. Selain itu Kucing tersebut juga diberikan obat resep berupa antibiotik, antihistamin, probiotik. Obat resep tersebut diberikan selama 5 hari.
Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), penyakit ini memiliki keterkaitan dengan beberapa aspek pembangunan berkelanjutan, seperti kesehatan hewan, keamanan pangan, pengelolaan limbah, serta kesejahteraan lingkungan dan masyarakat. Berikut beberapa SDGs yang relevan dalam pembahasan gastroenteritis pada kucing:
1. SDG 3: Good Health and Well-being
Gastroenteritis dapat menyebabkan dehidrasi, malnutrisi, dan infeksi sekunder pada kucing, yang berdampak pada kesejahteraan hewan secara keseluruhan. Penyakit ini juga berisiko menular ke hewan lain, terutama dalam lingkungan dengan kepadatan kucing yang tinggi seperti shelter atau rumah dengan banyak kucing. Pencegahan dengan vaksinasi, pemberian obat cacing secara rutin, dan pola makan yang sehat sangat penting dalam menjaga kesehatan kucing serta mengurangi risiko penyebaran penyakit.
2. SDG 6: Clean Water and Sanitation
Salah satu faktor penyebab gastroenteritis adalah kontaminasi bakteri dan parasit dalam makanan dan air yang dikonsumsi kucing. Infeksi bakteri seperti Salmonella dan E. coli sering kali berasal dari air yang tidak bersih atau makanan yang sudah terkontaminasi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan air minum dan makanan kucing sangat penting untuk mencegah penyakit ini. Selain itu, pengelolaan limbah dari kucing yang terinfeksi harus dilakukan dengan baik untuk mencegah penyebaran patogen di lingkungan sekitar.
3. SDG 12: Responsible Consumption and Production
Kesehatan pencernaan kucing sangat dipengaruhi oleh pola makan dan kualitas makanan yang diberikan. Perubahan diet yang tiba-tiba atau pemberian makanan yang tidak sesuai dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Oleh karena itu, penting bagi pemilik hewan untuk memahami prinsip pemberian makanan yang bertanggung jawab, termasuk penggunaan bahan pangan berkualitas dan pemberian makanan secara bertahap saat mengubah pola diet kucing. Selain itu, menghindari makanan basi atau terkontaminasi dapat mencegah risiko gastroenteritis akibat toksin atau infeksi bakteri.
4. SDG 15: Life on Land
Parasit gastrointestinal seperti Toxocara sp. tidak hanya berdampak pada kesehatan kucing, tetapi juga memiliki risiko zoonosis bagi manusia. Infeksi parasit ini dapat menyebar melalui feses yang tidak dikelola dengan baik di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengelolaan sanitasi dan limbah kucing yang baik sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta mencegah penyebaran penyakit yang dapat berdampak pada manusia dan hewan lain.
5. SDG 17: Partnerships for the Goals
Pengendalian penyakit gastroenteritis pada kucing memerlukan kolaborasi antara dokter hewan, pemilik hewan, komunitas pecinta kucing, serta organisasi kesehatan hewan. Program edukasi terkait nutrisi yang baik, vaksinasi, serta kebersihan lingkungan dapat membantu mengurangi angka kejadian gastroenteritis pada kucing. Selain itu, kerja sama antara akademisi dan praktisi dokter hewan dalam penelitian serta pengembangan terapi gastroenteritis sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pengobatan dan pencegahan penyakit ini.
Penulis: Lingga Dwi Pratama




