Universitas Airlangga Official Website

KOMPETENSI KEPEMIMPINAN DAN EMOTIONAL INTELLIGENCE KEPALA RUANG DALAM MENINGKATKAN KINERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT

NERS NEWS – Kinerja perawat dapat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien, termasuk reputasi rumah sakit. Selain itu, kualitas pelayanan kesehatan juga dipengaruhi oleh model kepemimpinan keperawatan kepala ruang. Kepemimpinan kepala ruang merupakan unsur kepemimpinan awal pada tata kelola unit ruang rawat inap dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tata kelola ruang rawat inap yang baik akan turut meningkatkan kinerja organisasi rumah sakit secara keseluruhan. Keberhasilan kepala ruang dalam aspek kepemimpinan dan juga tata kelola unit ruang rawat inap tidak lepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi. Pada dasarnya unit pelayanan di rawat inap merupakan miniatur rumah sakit yang dituntut untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Dibutuhkan berbagai dukungan baik internal maupun eksternal agar kepemimpinan kepala ruang dapat berjalan sebagaimana visi dan misi organisasi, sehingga setiap target yang ditetapkan dapat tercapai dengan baik.

Teori kompetensi kepemimpinan (Mumford et al., 2007), teori kinerja (Gibson et al., 1997), dan teori emotional intelligence (Goleman, 1996) menggambarkan bahwa faktor individu, faktor psikologi, faktor organisasi, faktor pemimpin mempengaruhi kepemimpinan keperawatan kepala ruang dan kinerja perawat. Selain itu, kepemimpinan kepala ruang yang dikombinasikan dengan emotional intelligence juga dapat meningkatkan kinerja perawat (task performance, organizational citizenship behavior, dan counterproductive behavior). Penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. H. Koesnadi Bondowoso yang melibatkan 138 responden dan ditentukan secara acak. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh signifikan dan kontribusi positif faktor psikologi dengan kontribusi sebesar 38,2%, dan faktor pemimpin dengan kontribusi sebesar 39,2% terhadap kepemimpinan keperawatan kepala ruang berbasis emotional intelligence. Selanjutnya, terdapat pengaruh signifikan dan kontribusi positif faktor individu dengan kontribusi sebesar 15,5%, faktor psikologi dengan kontribusi sebesar 33,9%, faktor organisasi dengan kontribusi sebesar 19,6%, faktor pemimpin dengan kontribusi sebesar 22,4%, serta kepemimpinan keperawatan kepala ruang berbasis emotional intelligence dengan kontribusi sebesar 17,3% terhadap kinerja perawat. Selain itu, tidak ada pengaruh signifikan faktor individu, dan faktor organisasi terhadap kepemimpinan keperawatan kepala ruang berbasis emotional intelligence.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan. Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga melalui Prodi Magister Keperawatan dengan salah satu taglineInnovation in Caring & Morality”, selalu berupaya menjaga kualitas lulusan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan berbagai inovasi dalam keperawatan serta tetap menjaga aspek moralitas dalam pelayanan kepada masyarakat. Penguatan pada faktor psikologi, dan faktor pemimpin akan meningkatkan kepemimpinan keperawatan kepala ruang berbasis emotional intelligence pada kompetensi kepemimpinan kepala ruang (cognitive skill, interpersonal skill, business skill, dan strategic skill) dalam meningkatkan kinerja perawat (task performance, organizational citizenship behavior, dan counterproductive behavior). Meningkatkan kinerja perawat dapat dilakukan dengan memodifikasi beberapa faktor tersebut, terutama melalui kepemimpinan keperawatan kepala ruang berbasis emotional intelligence karena memberikan dampak yang lebih baik kepada organisasi dalam meningkatkan kinerja perawat.

Temuan baru yang dihasilkan adalah pengembangan Model Kepemimpinan Keperawatan berbasis emotional intelligence sebagai upaya meningkatkan kinerja perawat. Model ini merupakan model integrasi pendekatan kepemimpinan keperawatan kepala ruang berbasis emotional intelligence yang digunakan untuk meningkatkan kinerja. Model kepemimpinan keperawatan kepala ruang dikembangkan dengan pendekatan emotional intelligence telah menghasilkan kinerja perawat yang lebih baik melalui optimasi kapasitas kepemimpinan kepala ruang pada aspek cognitive skill, interpersonal skill, business skill, dan strategic skill. Penting sekali diperhatikan bahwa peningkatan peran dan kompetensi kepemimpinan kepala ruang perlu adanya penguatan pada aspek emotional intelligence, berupa kemampuan self-awareness, social awareness, self- management, dan relationship management.

Penulis : Sonny Gunawan, S.Kep., Ns (Prodi Magister Keperawatan FKp Universitas Airlangga Angkatan XV)
Editor : Risky Nur Marcelina (Airlangga Nursing Journalist)

DAFTAR REFERENSI

Gibson, J. L., Ivancevich, J. M., & Donnelly, J. H. (1997). Organizations: Behavior, Structure, Processes. Irwin. https://books.google.co.id/books?id=qOXzKYhzv8kC

Goleman. (1996). Itelligence Why It Can Matter More Than Iq. In Emotional Intelligence why it can matter more IQ (Vol. 53, Issue 9).

Mumford, T. V., Campion, M. A., & Morgeson, F. P. (2007). The leadership skills strataplex: Leadership skill requirements across organizational levels. The Leadership Quarterly, 18(2), 154–166. https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2007.01.005