NERS NEWS – (Jum’at, 18 Juli 2025) – Mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan bertema Deteksi Dini Hiperbilirubin Pada Bayi: Penyuluhan di Ruang PERINA Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya.
Kegiatan ini berlangsung di Poli Anak Rumah Sakit Universitas Airlangga, dan dihadiri oleh orang tua pasien yang tengah menunggu pelayanan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang deteksi dini bayi hiperbilirubinemia dan memberikan informasi pada orang tua untuk segera mencari pertolongan medis saat terdapat tanda-tanda hiperbilirubinemia.
Penyuluhan ini dipandu oleh Anadia selaku moderator dan didampingi oleh Ibu Iqlima selaku dosen fasilitator dan Ners Widia selaku CI klinik. Kegiatan dibuka dengan sapaan hangat dari pemateri, Rika Vanigrahanti, yang menyampaikan, “Hari ini kita akan membahas salah satu masalah yang sering terjadi pada bayi baru lahir, yaitu kuning atau dalam istilah medis disebut hiperbilirubin.”
Pemateri menjelaskan bahwa hiperbilirubin adalah kondisi meningkatnya kadar bilirubin dalam darah bayi, yang ditandai dengan perubahan warna kulit dan mata menjadi kuning. Rika Vanigrahanti menekankan pentingnya deteksi dini, “Jika kuning terlihat hingga telapak tangan dan kaki, atau bayi tampak lesu dan malas menyusu, segera bawa ke pelayanan kesehatan.” Pemateri lainnya, Abdul Hakim, menambahkan “pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu dengan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), menyusui sesering mungkin (8-12 x/hari), rutin kontrol ke posyandu atau puskesmas, dan deteksi golongan darah” katanya.
Respon Positif dari Peserta
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari peserta. Beberapa peserta menunjukkan ketertarikan dengan tampak aktif bertanya. Seorang ibu bertanya, “Apakah hiperbilirubin disebabkan karena ASI tidak keluar? soalnya banyak pengalaman jika ASI tidak keluar diberikan susu formula.”
Rika Vanigrahanti menjawab, “Benar, Bu. Salah satu penyebab hiperbilirubin bisa karena bayi tidak cukup mendapat cairan, terutama jika ASI belum keluar lancar. Namun, ia juga menegaskan bahwa ASI tetap menjadi prioritas karena kandungan ASI lebih lengkap dan lebih baik dari susu formula. Jadi jika masih dalam kondisi hamil, bisa dilakukan perawatan payudara dan konsumsi makanan yang membantu produksi ASI.” Ners Widia selaku CI klinik juga menambahkan bahwa “Jika ASI yang keluar sedikit, harus tetap diupayakan untuk diberikan dengan sering yaitu setiap 2 jam sekali dan jika kuning pada bayi tidak berkurang bisa segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.”
Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan keluarga dapat lebih sigap mengenali tanda-tanda hiperbilirubin dan segera mencari pertolongan medis. Deteksi dini menjadi kunci mencegah dampak fatal seperti keterlambatan tumbuh kembang hingga gangguan saraf.
Penulis: Kelompok D2.1/Gelombang 4/Stase Anak
Editor: Nasya Puspita A (Airlangga Nursing Journalist)




