Universitas Airlangga Official Website

KAA 70, Prof. Akhmad Muzakki: Sinergi Pendidikan Berbasis Nilai Kunci Adaptasi Indonesia di Pusaran Perubahan Dunia

Dalam KAA 70 di UNAIR, Prof. Akhmad Muzakki menegaskan pendidikan berbasis nilai dan sinergi multipihak sebagai kunci adaptasi Indonesia menghadapi perubahan global.

Di tengah derasnya arus disrupsi global dan tuntutan adaptasi yang semakin cepat, sistem pendidikan nasional ditantang untuk tidak hanya melahirkan insan cerdas, tetapi juga manusia berkarakter dan beradab. Gagasan inilah yang menjadi benang merah dalam “70th Anniversary of Spirit Bandung – International Conference of Asia Africa”, yang digelar di Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis (30/10/2025).

Konferensi bertema “Youth Issue for Economic and Sustainable Development” ini menghadirkan Prof. Akhmad Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, sebagai keynote speaker. Dalam paparannya berjudul “Peran Pendidikan Berbasis Nilai Budaya dalam Mengembangkan Kemampuan Beradaptasi dengan Situasi Dunia yang Berubah”, Prof. Muzakki menyoroti pentingnya pendidikan berbasis nilai budaya dalam menghadapi pusaran perubahan global.

Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNAIR, Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D., dan diikuti 150 peserta dari 19 negara, melibatkan akademisi, aktivis sosial, pemimpin komunitas, hingga jejaring ekonomi strategis dunia.
Kegiatan diselenggarakan oleh Konsorsium “70 Years Spirit Bandung”, yang terdiri atas Sekolah Pascasarjana UNAIR, ALIT Indonesia, KADIN Jawa Timur, Gema Sadhana, Said Aqil Siradj Centre (SAS), serta APHMET/BASE.

Mendesain Pendidikan di Era Teknokrasi

Prof. Muzakki membuka sesi dengan pertanyaan reflektif: Bagaimana merancang kebijakan pendidikan untuk pembangunan masa kini dan masa depan?
Menurutnya, kunci adaptasi terletak pada kemampuan pendidikan untuk bergerak lintas waktu—dari masa lalu ke masa depan—tanpa meninggalkan nilai moral dan kearifan budaya.

“Budaya dan pendidikan memiliki hubungan simbiotik. Pola budaya masyarakat akan secara langsung membentuk sistem pendidikannya,” jelas Prof. Muzakki.
“Jika masyarakat cenderung materialistik, maka pendidikannya pun akan mengarah ke sana. Karena itu, penting menanamkan nilai-nilai luhur dalam setiap sendi pendidikan,” tambahnya.

Ia menekankan pendekatan teknokrasi berbasis nilai, di mana kebijakan pendidikan harus diinstitusionalisasi melalui sinergi antara sekolah umum, madrasah, dan pesantren. Pendekatan ini, lanjutnya, memiliki dampak luas terhadap partai politik, pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor bisnis—membentuk karakter kebangsaan yang kokoh dan bermoral.

Sinergi Multipihak: Energi Baru Pendidikan Nasional

Bagi Prof. Muzakki, sinergi adalah fondasi utama kualitas pendidikan. Sinergi bukan sekadar kerja sama formal, melainkan “bekerja bersama” dengan visi dan tanggung jawab yang sama.
Ia menyoroti empat pilar utama sinergi pendidikan: Guru, Orang Tua, Pemerintah, dan Masyarakat.

“Kualitas pendidikan tidak akan optimal jika hanya satu pihak yang bergerak,” ujarnya.
“Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen, terutama orang tua, yang sejatinya adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.”

Sinergi ini, menurutnya, adalah energi sosial yang mampu memperkuat karakter bangsa di tengah derasnya arus globalisasi nilai.

Pesantren dan Madrasah: Pabrik SDM Unggul Berbasis Adab

Salah satu sorotan penting dalam pemaparan Prof. Muzakki adalah peran pesantren dan madrasah sebagai pabrik karakter yang membentuk sumber daya manusia unggul berbasis adab.
“Filosofi ‘الآداب فوق العلم’ atau ‘etika di atas ilmu pengetahuan’ menjadi fondasi kuat sistem pendidikan pesantren,” tegasnya.

Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat. Data menunjukkan, Indonesia memiliki lebih dari 42.433 pesantren dan 87.397 madrasah, sebagian besar berstatus swasta dan berlokasi di Pulau Jawa—menjadi tulang punggung pendidikan berbasis nilai di Indonesia.

Prof. Muzakki juga mengingatkan kembali kontribusi historis pesantren terhadap bangsa, seperti Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari yang melahirkan Hari Pahlawan 10 November, menegaskan bahwa pesantren adalah institusi pembentuk karakter kebangsaan dan nasionalisme.

Dari Bandung ke Panggung Dunia

Sejalan dengan semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-70, Prof. Muzakki mengaitkan nilai-nilai perjuangan masa lalu dengan konteks geopolitik masa kini.
Semangat anti-imperialisme dan solidaritas global yang diwariskan KAA, menurutnya, masih relevan dalam menghadapi isu dunia modern seperti konflik Israel-Palestina dan dinamika blok ekonomi global.

“Indonesia memilih untuk tidak berafiliasi eksklusif pada satu blok, tetapi berpartisipasi aktif di berbagai forum global demi kepentingan nasional dan kemanusiaan,” tegasnya.

Pendidikan Berbasis Nilai sebagai Kunci Adaptasi Global

Paparan Prof. Akhmad Muzakki dalam Konferensi Spirit Bandung di UNAIR menegaskan bahwa kunci adaptasi Indonesia di era disrupsi bukan hanya pada penguasaan teknologi, melainkan pada kematangan etika, spiritualitas, dan nilai-nilai budaya.

Melalui sinergi pendidikan berbasis nilai, Indonesia diyakini mampu menyiapkan generasi muda yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berdaya saing global.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)