Universitas Airlangga Official Website

Menakar Nafas Panjang UKM Jawa Timur melalui Kepemimpinan Ambidextrous

Sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun, di balik kontribusi besar tersebut, UKM juga menghadapi tantangan serius berupa tingginya tingkat kegagalan usaha akibat keterbatasan kapasitas inovasi dan adaptasi.

Isu krusial ini menjadi fokus dalam Ujian Doktor Terbuka di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Senin (19/1/2026), yang dipimpin oleh Wakil Direktur II Sekolah Pascasarjana UNAIR, Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si. Melalui disertasi berjudul Studi Organizational Innovation pada UKM Jawa Timur: Pendekatan Cross Level, promovendus Muzakki, S.M., M.SM. memaparkan pentingnya kepemimpinan ambidextrous sebagai strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan UKM.

Disertasi ini disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. Nuri Herachwati, Dra. Ec., M.Si., M.Sc. selaku promotor, dengan pendampingan Dr. Muhammad Fakhrudin Mudakkir, S.E., M.Si. dan Dr. Akbar, S.E., M.Si. sebagai ko-promotor.

Menyeimbangkan Eksploitasi dan Eksplorasi

Kepemimpinan ambidextrous merujuk pada kemampuan pemimpin untuk menyeimbangkan dua pendekatan yang sering kali berlawanan. Di satu sisi, pemimpin dituntut mengoptimalkan efisiensi dan stabilitas bisnis yang sudah berjalan (eksploitasi). Di sisi lain, mereka juga harus mendorong pencarian peluang baru melalui inovasi dan pembelajaran berkelanjutan (eksplorasi).

Riset ini melibatkan 931 responden dari 129 industri kecil yang berada di bawah pembinaan Bank BPR (UMKM) Jawa Timur. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan ambidextrous berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan belajar individu dalam organisasi. Ketika karyawan diberikan ruang untuk belajar dan bereksperimen, kapasitas inovasi organisasi tumbuh secara organik dan berkelanjutan.

Temuan ini menegaskan bahwa inovasi tidak lahir secara instan dari kebijakan pimpinan semata, melainkan merupakan akumulasi dari proses belajar individu yang difasilitasi oleh kepemimpinan yang adaptif.

Fleksibilitas Strategis di Tengah Ketidakpastian

Penelitian ini juga menyoroti peran penting fleksibilitas strategis dalam menghadapi dinamika pasar. UKM yang mampu menyesuaikan strategi bisnis dengan cepat terbukti memiliki hubungan yang lebih kuat antara kemampuan belajar dan kapabilitas inovasi.

Sebaliknya, UKM yang bersikap kaku terhadap perubahan cenderung tertinggal, meskipun memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Fleksibilitas menjadi faktor pembeda yang menentukan apakah pengetahuan dan keterampilan dapat benar-benar diterjemahkan menjadi inovasi yang bernilai ekonomi.

Menariknya, variabel kepercayaan terhadap pemimpin (trust in leader) ditemukan tidak cukup kuat dalam memoderasi pengaruh kepemimpinan terhadap kemampuan belajar. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam konteks UKM Jawa Timur, sistem kerja yang jelas, visi kepemimpinan yang konkret, serta ruang pembelajaran yang nyata lebih berdampak dibandingkan kedekatan emosional semata.

Inovasi sebagai Kebutuhan Bertahan Hidup

Dengan pendekatan kuantitatif yang mengacu pada regulasi terbaru Kementerian Koperasi dan UKM, studi ini menegaskan bahwa inovasi organisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Kapabilitas inovasi terbukti berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Bagi Jawa Timur sebagai salah satu pusat UKM nasional, temuan ini menjadi pengingat bahwa transformasi usaha kecil tidak cukup hanya mengandalkan suntikan modal. Perubahan mendasar harus dimulai dari pola kepemimpinan yang mampu memadukan efisiensi, fleksibilitas, dan budaya belajar sebagai sumber keunggulan kompetitif di tengah persaingan global.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)