Otto Hasibuan: Budaya Hukum Jadi Simpul Mati Reformasi Polri, Solusi Konkret Dinanti
Anggota Tim Reformasi Kepolisian Republik Indonesia, Prof. Dr. Otto Hasibuan, S.H., M.M., MCL., menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam reformasi Polri tidak lagi berada pada aspek regulasi atau struktur organisasi. Persoalan utama justru terletak pada budaya hukum dan moralitas kepemimpinan di tubuh Polri.
Hal tersebut disampaikan dalam Keynote Speech pada Diskusi Publik dan Penyampaian Aspirasi Reformasi Kepolisian Republik Indonesia di Gedung ASEEC Tower Kampus B Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis, 27 November 2025. Otto Hasibuan hadir bukan untuk memberikan materi akademik, melainkan untuk mengumpulkan masukan konkret dari masyarakat sipil dan akademisi sebagai bahan rekomendasi kepada Presiden.
Budaya Hukum Sebagai Tantangan Terbesar
Menurut Prof. Otto Hasibuan, dua dari tiga pilar sistem hukum sudah terpenuhi:
-
Legal Substance – aturan dan perundang-undangan Polri sudah lengkap.
-
Legal Structure – organisasi kepolisian dan lembaga pendukung seperti Kompolnas sudah tersedia.
Namun, persoalan tetap muncul karena pilar ketiga, yakni budaya hukum (legal culture), belum berjalan optimal. Ia mencontohkan masih adanya praktik tidak etis seperti dugaan suap dalam proses rekrutmen Akpol yang mencerminkan tantangan budaya organisasi.
“Legal structure sudah selesai, legal substance sudah selesai. Tapi legal culture yang menjadi persoalan besar kita,” tegas Otto Hasibuan.
Tiga Masalah Utama dalam Reformasi Polri
Dalam paparannya, Otto menyampaikan bahwa publik menginginkan perubahan mendasar dalam tubuh Polri. Tiga isu utama tersebut mencakup:
1. Pergeseran dari Pola Komando ke Pola Pelayanan
Polri dituntut untuk menempatkan pelayanan publik sebagai orientasi utama, bukan hanya mengikuti garis komando secara kaku.
2. Loyalitas Moral Menggantikan Loyalitas Struktural
Menurut Otto, integritas dan keteladanan harus menjadi pondasi etos kerja aparat kepolisian.
3. Kolaborasi dan Inovasi Menggantikan Pola Senioritas
Budaya senioritas dinilai menghambat percepatan inovasi. Reformasi membutuhkan perubahan cara berpikir yang lebih adaptif.
Transformasi Dimulai dari Moral Leadership
Prof. Otto menegaskan bahwa budaya organisasi hanya dapat berubah ketika pimpinan memberikan teladan.
“Budaya tidak akan pernah berubah tanpa keteladanan pimpinan. Kepemimpinan adalah fondasi transformasi.”
Ia menambahkan bahwa moral leadership harus tercermin dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya dalam materi pelatihan. Pemimpin yang menjaga integritas, transparansi, dan kejujuran akan mendorong organisasi untuk bergerak maju.
Sebaliknya, ketika pimpinan gagal memberikan teladan, organisasi akan stagnan dalam budaya lama.
UNAIR Diminta Beri Solusi Komprehensif
Dalam forum tersebut, Otto Hasibuan meminta agar peserta tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga memberikan solusi konkret dan terukur. Semua masukan akan diolah dalam sidang pleno Tim Reformasi sebelum menjadi rekomendasi resmi untuk Presiden.
“Kesempatan pembentukan tim reformasi oleh Presiden adalah momentum emas. Kita semua punya andil dalam menentukan arah masa depan Polri,” tutupnya.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)




