Berita UNAIR Pascasarjana, Kamis, 10 April 2025 – Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, kompleksitas, kekacauan, dan kontradiksi menjadi ciri zaman yang disebut “post-normal.” Istilah ini, yang dipopulerkan oleh Ziauddin Sardar, menggambarkan masa transisi di mana ortodoksi lama mulai runtuh, sementara yang baru belum sepenuhnya terbentuk. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi menghadapi tantangan dan peluang besar untuk beradaptasi. Prof. Dato’ Seri Ir. Dr. Zaini Ujang, Ketua Malaysia Qualification Agency dan mantan Naib Canselor Universiti Teknologi Malaysia (2008-2013), saat memberikan kuliah Strategic Leadership pada Rabu, 9 April 2025 di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, menawakan pandangan visioner tentang bagaimana pendidikan tinggi harus berevolusi di era post-normal.
Jika zaman klasik ditandai dengan “Saya berpikir, maka saya ada,” dan era modern dengan “Saya maju, maka saya ada,” maka era post-normal mengusung paradigma baru: “Saya berbagi, maka saya ada.” Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, di mana fakta tidak lagi mutlak, nilai-nilai diperdebatkan, taruhannya tinggi, dan keputusan mendesak, pendidikan tinggi tidak bisa lagi bertahan dengan model lama. Contoh nyata seperti perubahan iklim menjadi cerminan situasi post-normal: mendesak, penuh ketidakpastian, dan melibatkan ekspektasi beragam dari berbagai pemangku kepentingan.
Pendidikan tinggi pun menghadapi dinamika serupa. Ada urgensi untuk bertindak cepat dalam menyusun kerangka baru, ketidakpastian dalam hasil akademik, dan harapan yang saling bertentangan dari pelajar, industri, serta pemerintah. Di sini lah pendidikan tinggi harus menemukan relevansinya kembali.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)




