Di balik kenyamanan popok bayi sekali pakai yang membantu aktivitas jutaan keluarga, tersimpan persoalan lingkungan yang kerap luput dari perhatian. Limbah popok menjadi salah satu jenis sampah domestik yang sulit terurai dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serta ekologis jangka panjang.
Kondisi tersebut pernah dirasakan oleh warga Desa Karangtalun, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Popok bekas yang dibuang sembarangan di pekarangan dan area sekitar rumah sempat menjadi pemandangan yang lumrah. Melihat realitas tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Airlangga (UNAIR) hadir membawa solusi berbasis sains dan pemberdayaan warga.
Melalui pendekatan inovatif, limbah popok yang selama ini dianggap menjijikkan dan berbahaya diubah menjadi kokedama, media tanam artistik yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Ancaman Lingkungan di Balik Limbah Popok
Ketua tim pengabdian, Dr. Wimbuh Tri Widodo, S.Si., M.Si., dosen Program Studi Magister Ilmu Forensik Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa popok sekali pakai merupakan ancaman serius bagi lingkungan.
“Satu lembar popok membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Jika dibakar, dampaknya berpindah menjadi polusi udara. Jika dibuang sembarangan, popok dapat menjadi sumber patogen yang membahayakan kesehatan masyarakat,” ungkapnya dalam kegiatan pengabdian masyarakat, Minggu (1/6/2025).
Permasalahan ini mendorong tim untuk mencari solusi yang tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga desa.
Inovasi Hidrogel sebagai Media Tanam
Solusi tersebut berangkat dari pemanfaatan Superabsorbent Polymer (SAP) atau hidrogel yang terkandung di dalam popok bayi. Bahan ini memiliki kemampuan menyerap dan menahan air dalam jumlah besar, sehingga potensial dimanfaatkan sebagai media tanam.
Tim pengabdian yang melibatkan kolaborasi lintas institusi, termasuk Universitas Negeri Malang dan STIKes Karya Putra Bangsa, mengembangkan teknik pengolahan limbah popok menjadi media tanam kokedama.
Prosesnya diawali dengan sterilisasi popok bekas untuk menghilangkan bakteri dan residu kimia. Hidrogel yang telah dipisahkan kemudian dicampur dengan tanah humus, air kelapa, dan cairan EM4, lalu difermentasi dalam komposter selama tujuh hari.
“Fermentasi menjadi tahap krusial untuk menekan bakteri patogen. Hasil akhirnya aman digunakan dan mampu menjaga kelembapan tanaman lebih lama,” jelas Wimbuh.
Kokedama yang dihasilkan tidak memerlukan penyiraman intensif, sehingga cocok diterapkan di lingkungan rumah tangga desa.
Mengubah Stigma Menjadi Peluang
Tantangan terbesar dalam program ini bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada stigma masyarakat terhadap limbah popok. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan edukatif.
Warga Desa Karangtalun dilibatkan sejak tahap sosialisasi, pengolahan limbah, hingga praktik pembuatan kokedama. Proses ini secara perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, dari sesuatu yang harus dijauhi menjadi peluang usaha yang bernilai.
Integrasi dengan limbah pertanian lokal juga menghasilkan pupuk organik yang berkualitas. Produk kokedama dan pupuk ini tidak hanya menghijaukan pekarangan warga, tetapi juga membuka potensi ekonomi baru berbasis kriya tanaman.
Menjawab Celah Regulasi Pengelolaan Sampah
Program pengabdian masyarakat di Karangtalun menjadi relevan di tengah belum optimalnya regulasi pengelolaan sampah plastik sekali pakai, khususnya popok bayi. Dengan mengusung prinsip Zero Waste melalui pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), inisiatif ini menunjukkan bahwa solusi lingkungan dapat tumbuh dari tingkat desa.
“Target jangka panjang kami adalah kemandirian lingkungan. Desa Karangtalun diharapkan tidak hanya bersih, tetapi juga mampu melahirkan wirausaha baru berbasis pengelolaan limbah,” tegas Wimbuh.
Kisah dari Karangtalun menjadi bukti bahwa dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan empati sosial, limbah yang paling problematik sekalipun dapat diubah menjadi berkah—bagi masyarakat, lingkungan, dan masa depan bumi.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)




