Memperingati Hari Hutan Sedunia 2023
Berita UNAIR Pascasarjana, Selasa 21 Maret 2023 – Hari Hutan Internasional 2023 diperingati pada Selasa, 21 Maret 2023. International Day of Forests atau Hari Hutan Internasional adalah hari internasional yang diperingati pada tanggal 21 Maret setiap tahunnya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan dan pepohonan bagi kehidupan.
Melansir situs Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), International Day of Forests (IDF) atau Hari Hutan Internasional diproklamasikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2012. Hal ini ditetapkan melalui melalui resolusi Majelis Umum PBB pada 28 November 2012.
Hari Hutan Internasional bertujuan untuk merayakan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya semua jenis hutan. Pada setiap peringatannya, negara-negara didorong untuk melakukan upaya lokal, nasional dan internasional untuk mengatur kegiatan yang melibatkan hutan dan pohon, seperti kampanye penanaman pohon.
Jauh sebelum itu, seperti dilansir situs National Today, Hari Hutan Internasional sudha pernah ditetapkan pada sesi ke-16 Konferensi Organisasi Pangan dan Pertanian. Negara anggota memberikan suara untuk menetapkan “World Forestry Day” atau “Hari Kehutanan Sedunia” pada tanggal 21 Maret setiap tahun.
Sejak peresmiannya oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2012, Hari Hutan Internasional diperingati pada tanggal 21 Maret setiap tahunnya sampai sekarang. Tahun ini, PBB mengusung Tema Hari Hutan Internasional 2023 adalah “Forests and health” artinya “Hutan dan kesehatan”.
Tema tahun 2023 ini menyerukan untuk memberi, bukan hanya mengambil, karena hutan yang sehat akan membawa orang sehat. Hutan memberi kita begitu banyak hal untuk kesehatan. Hutan memurnikan air, membersihkan udara, menangkap karbon untuk memerangi perubahan iklim, menyediakan makanan dan obat-obatan yang menyelamatkan jiwa, dan meningkatkan kesejahteraan kita.
Dan pada Airlangga Forum, sebuah acara podcast rutin yang digelar oleh Sekolah Pascasarjana UNAIR bekerjasama dengan Asosiasi Lembaga Penyiaran Publik Lokal (ALPPL) di Jawa Timur, pada edisi ke 80 mengangkat tema Hutan dan Kesejateraan Rakyat mengangkat bahasan tentang hadirnya program yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu Program Perhutanan Sosial.
Dalam acara yang dipancarluaskan ke 22 kabupaten kota ini, dibuka oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Djumadi, MMT. Yang menjelaskan tentang konstruksi program perhutanan social, dimana diharapkan melalui tanggung jawab mengolah lahan kepada LMDH, masyarakat sekitar hutan dan kelompok tani yang ada akan mengangkat dan menggerakkan ekonomi lebih maju.
Ditambahkan secara sertifikat yang diberikan, Provinsi Jawa Timur tertinggi dalam mengeluarkan SK dan ini diapresiasi dengan peghargaan yang diraih, dengan 347 Surat Keputusan, dengan luasan 176 ribu dan petani penggarap nya sekitar 150.990 kepala keluarga.
Yang menggembirakan, program Perhutanan Sosial ini tidak hanya berhenti sampai pada penyerahan sertifikat dan hak kelola selama 35 tahun saja, akan tetapi juga dilakukan pendampingan mulai pertanian hingga pengelolaan produknya, jadi Dinas Kehutanan Jawa Timur menjadi organisator dari beragam lintas sektor, dengan demikian para petani penggarap tidak hanya menjual bahan mentah saja melainkan produk yang memiliki nilai tambah.

Dicontohkan seperti didaerah lumajang, kelompok petani penggarap penghasil porang tidak hanya dijual dalam bentuk umbi akan tetapi sudah dalam bentuk tepung, bahkan ada yang diolah dalam bentuk makanan siap saji seperti bakso dan lainnya, bahkan karena mereka masuk dalam kategori platinum secara olahannya maka sudah masuk pasar ekspor, hal tersebut harus digaris bawahi bahwa tidak sembarang hutan yang bisa masuk dalam program perhutanan social, hanya hutan dengan fungsi produksi yang bisa dilakukan dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur juga tidak sekedar fokus pada ekonomi masyarakat sekita hutan melainkan juga kelestarian ekologi.
Prof. Badri Munir Sukoco, Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR mengapresiasi akan capaian yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, menurutnya program Perhutanan Sosial adalah program yang sangat bagus ditambah keberanian Dinas Kehutanan dalam melakuka orkestrasi lintas sektor sehingga produk yang dihasilkan tidak sekedar berhenti pada bahan mentah melainkan menjadi produk olahan, dirinya mencontohkan seperti Porang bila diubah menjadi beras shirataki maka nilai produknya akan lebih bernilai tambah tinggi dan ini inti dari transformasi.
Hadir pula dalam acara kali ini Prof. Bambang Tjahjadi yang mengatakan bahwa program perhutanan social ini adalah program yang revolusioner dan ini akan lebih terasa dampaknya apabila dilakukan dengan sinergi dan kolaborasi yang apik antar lintas sektor seperti yang disampaikan diatas.
Dr. Arief Hargono, Koordinator Program Studi S2 Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana UNAIR yang merupakan prodi pertama di Indonesia ini menutup dengan pemberdayaan kawasan hutan melalui program perhutanan sosial sangat baik dan harus disambut dengan sungguh-sungguh untuk kesejahteraan masyarakat kawasan hutan, akan tetapi setiap tindakan yang kita lakukan pasti ada resikonya, hal tersebut yang harus kita siapkan untuk mengurangi resiko yang dihadapi.
Salah satunya dengan ketegasan dalam penegakkan aturan mana hutan yang memiliki fungsi hutan produksi, hutan lindung atau hutan konservasi, sehingga para petani penggarap tidak serta merta memanfaatkan hutan dengan seenaknya dan ujung-ujungnya bencana alam yang melanda mulai kebakaran hutan akibat pembukaan hingga banjir dan tanah longsor akibat wilayah resapan ditebang.
Arief
Hutan ttp bisa dimanfaatkan tapi tidak merusak Potensi bencana saat hutan di kelola secara tidak terkontrol, mulai kebakaran hutan UU no24 bencana sesuat Meminimalkan bagaimana
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/




