Prof. Dr. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), menunjukkan kiprah nyata akademisi sebagai jembatan antara kampus, pemerintah, dan masyarakat. Dalam rentang waktu 48 jam, ia terlibat aktif dalam tiga forum strategis lintas sektor—dari silaturahmi kepemimpinan hingga pengembangan fiqih lingkungan dan kebijakan publik.
Silaturahmi Strategis: Dari Kepemimpinan ke Arah Baru Pendidikan Tinggi
Pada Rabu (25/6/2025), Prof. Suparto bertemu dengan Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., Rektor UNAIR 2015–2025. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi dan strategi tentang capaian UNAIR yang kini masuk dalam 287 universitas terbaik dunia.
“Pendidikan tinggi tak cukup unggul akademik, tetapi harus berjejaring dan berdaya guna,” ujar Prof. Suparto.
UNAIR melalui Sekolah Pascasarjana terus mendorong integrasi sembilan program studi multidisiplin yang dirancang menjawab tantangan global dan kebutuhan daerah.
Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan dan Kebijakan Publik: Diskusi RPH Surabaya
Kamis pagi (26/6/2025), Prof. Suparto hadir dalam diskusi bersama Direktur RPH Surabaya Fajar Arifianto Isnugroho dan Dr. Andriyanto, SH., M.Kes., CEO dari Andriyanto Law Firm. Isu yang diangkat meliputi:
-
Keamanan dan kehalalan daging
-
Kesehatan hewan
-
Dampak lingkungan RPH
-
Kebijakan publik dan tata kelola SDM
“Sekolah Pascasarjana UNAIR berkomitmen hadir sebagai Creative Problem Solver dalam setiap isu strategis daerah dan nasional,” tegas Prof. Suparto.
Fiqih Lingkungan dan Pengelolaan Sampah: Ketika Agama Bertemu Ekologi
Di hari yang sama, Prof. Suparto menjadi penguji eksternal pada ujian doktor UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yang mengangkat pengelolaan sampah dalam perspektif fiqih lingkungan.
Disertasi ini mengambil inspirasi dari ayat Ali Imran:191, “Rabbana ma khalaqta hadza bathila”, sebagai dasar teologis bahwa tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia, termasuk limbah atau sampah.
“Ini bukti nyata bahwa agama dan sains bisa bersinergi untuk solusi lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Prof. Suparto.
UNAIR Pascasarjana: Kampus Problem Solver, Bukan Menara Gading
Tiga peristiwa tersebut menjadi refleksi dari misi Sekolah Pascasarjana UNAIR: tidak hanya mencetak doktor atau magister, tapi juga menjadi pemecah masalah nyata di tengah masyarakat.
“Kampus harus keluar dari zona nyaman. SDM unggul lahir dari ruang kolaborasi, bukan menara gading,” pungkas Prof. Suparto.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)




