Universitas Airlangga Official Website

Studi UNAIR: Pabrik SKT Sampoerna di Blitar dan MPS di Bojonegoro Tingkatkan Kesejahteraan serta Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Sosial

Berita UNAIR Pascasarjana, Sabtu, 10 Mei 2025  –  SURABAYA – Kehadiran fasilitas produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) milik PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) di Blitar dan Mitra Produksi Sigaret (MPS) SKT di Dander, Bojonegoro, Jawa Timur, terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menyerap tenaga kerja secara signifikan.

 

Menurut ”Studi Dampak Ekonomi dan Sosial Fasilitas Produksi PT HM Sampoerna Tbk. Plant Blitar dan Mitra Produksi Sigaret Dander” yang dilakukan oleh Universitas Airlangga (UNAIR) pada 2024, kedua pabrik SKT tersebut tidak hanya memberikan peluang kerja dengan upah kompetitif dan tunjangan sosial, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan sosial jangka panjang. Hal ini terutama terlihat dalam akses pendidikan, pemberian jaring pengaman sosial, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan masyarakat sekitar.

 

Peningkatan Kesejahteraan dan Penghasilan

 

Studi UNAIR menemukan bahwa mayoritas pekerja SKT di Blitar dan Bojonegoro, sekitar 86,8%, telah memiliki pengalaman kerja sebelumnya. Setelah bergabung dengan pabrik SKT Sampoerna di Blitar dan MPS Sampoerna di Dander, rata-rata pekerja mengalami peningkatan penghasilan sebesar 12,5% dibandingkan pekerjaan sebelumnya.

 

Upah rata-rata pekerja SKT Sampoerna di Blitar berada pada Rp2,60 juta per bulan, naik 10,20% dibandingkan pekerjaan sebelumnya, sementara upah rata-rata pekerja di MPS Dander sebesar Rp2,20 juta per bulan atau naik 12,09% dari pekerjaan sebelumnya.

 

Jika dibandingkan dengan data upah pekerja di sektor industri pengolahan berdasarakan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS), upah karyawan SKT di kedua fasilitas juga masih lebih tinggi.  Data Sakernas terkait besaran upah di sektor industri di Kota Blitar tercatat sebesar Rp1,63 juta, sementara Kabupaten Bojonegoro Rp2,09 juta.

 

”Selain upah yang lebih baik, para pekerja SKT juga mendapatkan tunjangan sosial seperti BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, tunjangan lembur, dan Tunjangan Hari Raya (THR). Kehadiran tunjangan ini memberikan keamanan sosial bagi pekerja sekaligus meningkatkan keuangan rumah tangga,” kata General Manager Executive Learning Hub (ELH) Sekolah Pascasarjana UNAIR, Zuyyinna Choirunnisa.

 

Penurunan Pengangguran Perempuan

 

Industri SKT juga memberikan solusi nyata terhadap penyerapan tenaga kerja perempuan dengan upah dan jaminan sosial yang lebih baik. Sebanyak 88% dari karyawan di pabrik SKT adalah perempuan, yang membantu mengurangi tingkat pengangguran perempuan di Kota Blitar dan Kabupaten Bojonegoro yang relatif tinggi.

 

Industri SKT juga mampu menyerap tenaga kerja dari berbagai latar belakang pendidikan. Sebanyak 73% pekerja SKT berpendidikan minimal SMA sederajat, sementara 27% lainnya lulusan perguruan tinggi. ”Ini menunjukkan bahwa industri SKT memberikan peluang kerja yang inklusif, tidak hanya bagi mereka dengan pendidikan tinggi, tetapi juga bagi kelompok yang berpendidikan lebih rendah yang sering kali kesulitan mendapatkan pekerjaan formal di sektor-sektor lain,” terang Zuyyinna

 

Salah Satu Peran Kunci dalam Pertumbuhan Ekonomi Daerah

 

Kehadiran fasilitas produksi SKT juga berdampak positif pada masyarakat sekitar. Sebanyak 68% responden dari masyarakat sekitar pabrik menyatakan bahwa keberadaan pabrik memberikan pengaruh besar terhadap keberhasilan usaha mereka. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti warung makan, toko kelontong, dan jasa lainnya mengalami peningkatan omzet dan jumlah pelanggan berkat aktivitas pabrik. Temuan ini sejalan dengan hasil riset Universitas Airlangga, yang menyimpulkan bahwa dampak ekonomi berganda dari keberadaan pabrik SKT adalah 3,8 kali lipat. Artinya, dari setiap Rp1.000 yang berasal dari pabrik SKT, akan tercipta perputaran ekonomi sebesar Rp3.800.

 

”Pabrik SKT Sampoerna di Blitar dan MPS Sampoerna di Dander menjadi penyedia lapangan kerja bagi ribuan orang, mayoritas adalah perempuan, dan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi pekerja serta masyarakat di sekitar pabrik,” kata Zuyyinna.

 

Sebaliknya, penurunan aktivitas pabrik atau penutupannya dapat mengancam terjadinya Pemutusan Hubungn Kerja (PHK) bagi para pekerja hingga menurukan omzet dan pendapatan bagi UMKM di sekitar pabrik yang dapat berdampak negatif pada perkekonomian lokal. ”Oleh karena itu, keberlangsungan operasional fasilitas produksi SKT memainkan peran penting dalam mendorong perkembangan ekonomi masyarakat sekitar dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Zuyyinna.

 

Selain itu, regulasi yang ketat, tingginya pengenaan cukai tahunan, dan perubahan preferensi konsumen dewasa adalah tantangan signifikan yang dihadapi oleh industri tembakau, termasuk SKT. Faktor-faktor ini menjadi penentu penting bagi kelangsungan dan masa depan industri ini.

 

Sebagai informasi, pabrik SKT Sampoerna di Blitar adalah salah satu fasilitas produksi SKT milik Sampoerna, sementara MPS Dander merupakan salah satu MPS yang dimiliki dan dioperasikan oleh mitra Sampoerna. MPS Dander dimiliki oleh Koperasi Karyawan Redryng Bojonegoro (Kareb) melalui PT Kareb Alam Sejahtera dan diresmikan pada 30 Januari 2024.

 

Hingga akhir 2024, Sampoerna tercatat memiliki 9 fasilitas produksi, termasuk 6 fasilitas produksi SKT, dan bermitra dengan 43 MPS yang tersebar di Pulau Jawa, yang menyerap lebih dari 90.000 karyawan, baik langsung maupun tidak langsung.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)