Selama ini publik mengenal Arizal Tomliwafa sebagai pengusaha muda nan necis dengan julukan “Crazy Rich” Surabaya. Namun, pada Sabtu (28/2/2026), pemandangan berbeda terlihat di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR). Bukan sedang memamerkan koleksi mobil mewah, Tom Liwafa berdiri tegak di podium Ujian Doktor Terbuka, menghadapi gempuran pertanyaan dari para guru besar.
Suasana sidang sempat “pecah” saat Wakil Direktur 3 Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., melontarkan pertanyaan kunci: Mengapa seorang pengusaha sukses dan politisi yang sudah “selesai” dengan urusan finansial masih mau bersusah payah mengejar gelar Doktor? Dan mengapa harus di UNAIR?
Mendobrak Stigma “Salah Alamat”
Jawaban Tom Liwafa mengejutkan banyak pihak. Ia dengan lugas membongkar kegelisahannya melihat tren pendidikan tinggi yang seringkali dianggap tidak nyambung dengan realitas lapangan.
“Banyak orang kuliah itu seperti ‘salah alamat’. Belajarnya apa, praktiknya apa. Saya ingin membuktikan bahwa apa yang terjadi di pasar, di gang-gang sempit pelaku UMKM, bisa ditarik ke meja akademik dan menjadi disertasi yang valid,” ujar Tom dengan semangat.
Baginya, gelar Doktor ini adalah alat perjuangan. Ia menyoroti minimnya literasi akademis yang membela nasib UMKM dibandingkan sektor korporasi besar. “Saya ingin memanggil para akademisi: ayo tengok UMKM kita. Jangan hanya teori di atas langit, tapi implementasikan di bumi,” tambahnya.
Pengakuan Mengejutkan: “Hidup Saya Penuh Kegagalan”
Di balik kesuksesan yang terlihat di media sosial, Tom justru membuka luka lama di hadapan dewan penguji. Ia mengaku bahwa rekam jejak pendidikannya jauh dari kata mulus.
“Jujur, hidup saya ini isinya gagal semua. Masuk SD negeri ditolak, SMP ditolak, SMA ditolak, bahkan S1 di ITS pun saya tidak diterima,” akunya jujur.
Keterbukaan ini menjadi daya pikat tersendiri. Tom ingin mengirim pesan kuat kepada jutaan pengikutnya dan generasi muda bahwa kegagalan masa lalu bukanlah vonis mati. Gelar Doktor dari UNAIR ini adalah bukti bahwa “balas dendam” terbaik terhadap kegagalan adalah dengan konsistensi belajar.
Ketakutan pada “Standar UNAIR”
Menjawab pertanyaan mengapa memilih UNAIR, Tom berseloroh tentang reputasi kampus “Kuning” ini yang dikenal angker bagi mahasiswa yang malas.
“Dulu saya sempat takut masuk UNAIR. Takutnya saya bisa masuk, tapi tidak bisa keluar (lulus). Karena di sini terkenal, kalau tidak benar-benar berkualitas, ya tidak akan diluluskan,” candanya yang disambut tawa riuh para hadirin.
Namun, ketatnya standar itulah yang ia cari. Ia ingin gelar Doktornya memiliki bobot integritas yang nyata, bukan sekadar gelar pajangan. Hasilnya tidak main-main; Tom Liwafa dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude.
Menginspirasi Influencer untuk Berilmu
Dengan gelar baru di pundaknya, Tom berharap langkahnya diikuti oleh para praktisi dan influencer lainnya. Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi sukses secara materi harus dibarengi dengan kedalaman ilmu.
Kini, “Crazy Rich” itu resmi menjadi Doktor. Bukan untuk pamer, tapi untuk memastikan UMKM Indonesia punya pembela yang punya nyali di lapangan dan punya dasar kuat di ruang sidang.




