UNAIR Pascasarjana – Simposium Membangun Kemandirian Bangsa: Saatnya hadirkan Karya Ilmiah Unggul untuk Kemajuan Bangsa
Berita UNAIR Pascasarjana, 22 Des 2022 – Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Rabu 21 Desember 2022, menggelar acara Simposium bertema “MEBANGUN KEMANDIRIAN BANGSA : INOVASI DAN TEKNOLOGI KESEHATAN, di ASEEC tower, kampus B UNAIR.
Prof. Dr. Rudi Purwono Wakil Direktur bidang Akademik, Mahasiswa dan Alumni yang memiliki latar belakang dunia ekonomi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa menurut survei bank dunia tentang apa yang menjadi perhatian khusus dunia adalah covid 19, inflasi, resesi, perang rusia ukraina, dan perubahan iklim, dan melalui prodi multidisiplin diharapkan kita menjadi solusi bagi masa depan dunia.
Acara yang digelar di ruang majapahit dan dihadiri ratusan dari beragam sekolah tinggi ilmu kesehatan dan Fakultas kedokteran se Jawa Timur ini menghadirkan 2 pembicara utama yaitu Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU., Dewan Pengarah Riset dan Inovasi Nasional dan Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si. Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi dan Community Development, Universitas Airlangga dengan moderator, Wakil Direktur 3 Assoc Prof Suparto Wijoyo.
Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU, sebagai Dewan Pengarah Riset dan Inovasi Nasional, sebagai pembicara pertama menitik beratkan dunia pendidikan tinggi harus mulai membudayakan karya ilmiah unggul, karena menurutnya secara data di lapangan dari 100 inovasi yang di lakukan oleh kampus, 98% mati sia-sia dan hanya 2% yang diterima oleh dunia industri.
Dirinya mengkritisi saatnya Indonesia merubah framing berpikirnya, bukan hilirisasi tapi melainkan hulunisasi, sehingga inovasi dilahirkan berdasar permasalahan yang terjadi dilapagan, kita harus mencontoh keberhasilan Korea dan China, dimana mereka berangkat dari melihat dan membaca permasalahan yang dialami lalu ditarik ke dalam dunia akademisi dan menghasilkan inovasi yang solutif termasuk dalam hal industri sehingga saat ini mereka bisa unggul di dunia.
Permasalahan yang selalu terjadi tapi hingga kini tidak pernah terselesaikan, seperti hadirnya pertanyaan kenapa kita harus impor apakah kita tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, jawabannya, mampu akan tetapi harganya lebih mahal ketimbang impor, contoh riil, kita selalu dengar Indonesia memliki garis pantai terpanjang akan tetapi harga garam kita, bila kita beli dari PT. GARAM biaya produksinya 18 rupiah, sedangkan bila impor dari India 8 rupiah sudah sampai jakarta, begitu juga gula dari vietnam yang luasnya tak lebih dari pulau madura akan tetapi mampu mencukupi pasar asean bahkan dunia.
Ditambahkan BRIN hadir sebagai regulator dari penelitian-penelitian yang dihadirkan oleh dunia kampus, sehingga tidak tumpang tindih seperti dahulu, dimana ketika 1 kampus fokus penelitian tentang A maka yang lain harus berbeda, sehingga tidak akan menghasilkan penelitian yang sia-sia.
Hadir pula sebagai pembicara, Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi dan Community Development yang menjelskan tentang sejarah dan bagaimana vaksin merah putih di ciptakan, termasuk serta hingga mendapat nama khusus dari Presiden Republik Indonesia yaitu INAVAC.
Pada sesi kedua, Tiga koordinator Program Studi menjelaskan keunggulan dan kehebatan dari masing-masing Prodi, dimulai dari Prof. Theresia Indah Budhy, KPS Imunologi, Dr.Ni Made Sukartini KPS Magister Ekonomi Kesehatan, Dr. Arief Hargono, KPS Manajemen Bencana, Dr. Andriyanto Ketua Peminatan S2 PSDM, Pemberdayaan Perempuan.
Sebagai pamungkas dari acara, para peserta yang memadati ruang acara, dipersilahkan untuk mengunjungi area open house dimana dihadirkan 15 booth dari beragam prodi dan peminatan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)
https://pasca.unair.ac.id/digital-platform/




