Universitas Airlangga Official Website

Wawasan Baru dari Banyuwangi: Mahasiswa MMB UNAIR Soroti Inklusivitas dalam Penanganan Bencana

Banyuwangi, 13 September 2025 – Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Jawa Timur dan Festival Nasional PRB 2025 di Grand Watu Dodol, Banyuwangi, menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman sekaligus merumuskan strategi penanganan bencana di Indonesia. Acara ini dihadiri berbagai kalangan, termasuk mahasiswa Magister Manajemen Bencana (MMB) Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Kartika Kinasih Azizah Setyari, yang memberikan perspektif segar mengenai inklusivitas dalam kebencanaan.

Belajar Langsung dari Praktisi

Kartika, mahasiswi semester pertama MMB UNAIR, mengaku bahwa keterlibatannya dalam acara ini menjadi pengalaman berharga.
“Sebagai mahasiswa baru, saya belum memiliki banyak pengalaman praktis di bidang kebencanaan. Acara ini menjadi kesempatan emas untuk belajar langsung dari para tokoh dan praktisi yang berpengalaman,” ujarnya.

Ia menekankan, pembelajaran lapangan melengkapi teori yang dipelajari di kelas, sekaligus membuka wawasan baru terkait strategi mitigasi yang lebih inklusif.

Inovasi Inklusif untuk Semua Kalangan

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Kartika adalah pertemuannya dengan komunitas GERKATIN (Gerakan Kesejahteraan untuk Tuna Rungu Indonesia).
“Mereka aktif mengikuti pelatihan kebencanaan. Kebersamaan ini membuka wawasan saya bahwa kesiapsiagaan bencana harus melibatkan semua kalangan tanpa terkecuali,” jelasnya.

Menurutnya, akses informasi yang inklusif sangat penting agar kelompok rentan tidak tertinggal dalam proses mitigasi dan evakuasi. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci terciptanya strategi pengurangan risiko bencana yang tepat sasaran.

Desa Tangguh Bencana: Strategi Pembangunan Berkelanjutan

Dalam sesi tematik, Kartika terinspirasi oleh paparan Dwi Rudi Hartoyo dari Kementerian Desa yang menjelaskan klasifikasi desa dari kategori sangat tertinggal hingga mandiri.
“Penjelasan tersebut menunjukkan pentingnya klasifikasi desa agar penguatan ketangguhan bisa sesuai dengan kondisi masing-masing,” kata Kartika.

Ketika ditanya daerah yang paling mendesak untuk diperkuat mitigasinya, ia menyebut Kabupaten Lumajang, khususnya kawasan Gunung Semeru yang rawan erupsi, banjir bandang, dan aliran lahar. “Dengan memperkuat mitigasi melalui sistem peringatan dini, tata ruang, dan peningkatan kapasitas masyarakat, risiko kerugian bisa ditekan,” tegasnya.

Mahasiswa Pascasarjana sebagai Agen Perubahan

Sebagai bagian dari kampus berdampak, Kartika menegaskan komitmennya untuk berkontribusi nyata.
“Saya ingin mengembangkan pengetahuan dari forum PRB ini menjadi program edukasi dan pendampingan masyarakat,” paparnya.

Ke depan, ia berencana menginisiasi sosialisasi manajemen risiko bencana di tingkat desa serta membantu pemerintah menggunakan data dan indeks desa dalam perencanaan kebijakan yang lebih tanggap.

Langkah ini sejalan dengan komitmen UNAIR untuk menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus berperan aktif dalam pembangunan masyarakat. Dengan semangat inklusivitas, mahasiswa Pascasarjana UNAIR diyakini mampu menjadi motor penggerak kesiapsiagaan bencana yang lebih adil dan berkelanjutan.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
(Instagram, YouTube, Facebook, LinkedIn, Twitter, Spotify, TikTok)