Universitas Airlangga Official Website

Kendaraan Listrik dalam Perkembangan EBT

Narasumber pertama menyampaikan materi, Indria wahyuni, dalam webinar lingkungan pada Sabtu (10/6/2023) (Foto: Shafa Aulia R, SS Zoom)
Narasumber pertama menyampaikan materi, Indria wahyuni, dalam webinar lingkungan pada Sabtu (10/6/2023) (Foto: Shafa Aulia R, SS Zoom)

UNAIR NEWS – Pemerintah Indonesia memiliki target mencapai net zero emission (NZE) atau nol emisi karbon pada tahun 2060 mendatang. Komitmen Indonesia untuk mewujudkan net zero emission di antaranya adalah peningkatan dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dan penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi.

Potensi yang Indonesia miliki untuk mewujudkan target tersebut menjadi pembahasan webinar oleh BSO Pecinta Alam Tanda Kehormatan (PATAKA) Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Webinar yang berlangsung pada Sabtu (10/6/2023) menghadirkan dua narasumber yaitu Indria Wahyuni SH LLM PhD (Pusat Studi EBT Fakultas Hukum UNAIR) dan Wahyu Eka Setyawan (Direktur WALHI Jawa Timur).

Materi diawali oleh narasumber pertama yaitu Indria wahyuni. Dalam penyampaiannya ia mempertanyakan apakah kendaraan listrik adalah penyelesaian terbaik untuk negara ini dan sudahkah Indonesia siap mewujudkannya. Indri menjelaskan bahwa sebenarnya kendaraan listrik adalah solusi dan salah satu jalan untuk menangani krisis iklim yang kita hadapi ke depan, dari hal ini transisi energi merupakan hal penting yang diperlukan ke depan.

“Apakah kita bisa transisis energi? Jawabannya bisa. Namun kecepatannya tergantung kita. Mau yang radikal langsung secara mengubah fossil, pada negara kita Indonesia sangat baik dengan adanya target new renewable di tahun 2060 mendatang,” terang Indri perihal energi baru terbarukan.

Munculkan Pertanyaan

Komitmen super Indonesia untuk mencapai target net zero 2060 memunculkan pertanyaan lain terkait apa yang Indonesia punya untuk pengembangan mobil listrik? Indri menjelaskan bahwa Indonesia jelas memiliki potensi besar.

“Kita jelas punya potensi. Negara kita itu super kaya. Semoga kekayaan ini menjadi blessed bukan menjadi cursed. Negara kita punya maritim dengan segala macamnya. Kedua, kita punya nikel. Tentunya dengan ini kita punya target ekonomi yang tinggi,” ungkap Indri.

Indri juga menjelaskan bahwa Indonesia sudah memiliki hukum tertulis pada Perpres Nomor 55 Tahun 2019 mengenai korelasi antara kendaraan listrik dengan pengurangan emisi. Ia menegaskan bahwa yang menjadi fokus tidak semata-mata pada kekayaan, tapi harus dipikirkan dampak kepada masyarakat dan lingkungan.

“Kita belum memikirkan dampak kepada masyarakat dan lingkungan. Contohnya kesiapan infrastuktur. Stasiun pengisian kendaraan listrik di negara kita belum tersedia dengan baik,” ungkap Indri.

Tak jauh berbeda dengan Indri, Wahyu Eka Setyawan menyampaikan materi terkait kendaraan listrik dan komitmen transisi energi. Wahyu menyampaikan bahwa komitmen transisi energi ini pengembangan kendaraan listrik termasuk di dalamnya.

Wahyu kemudian menjelaskan alasan kendaraan listrik sebagai wujud target mencapai net zero emission. “Mengapa kendaraan listrik? Karena emisinya tiga kali lebih rendah dari mobil konvensional. Ke depannya tentu ada prediksi peningkatan kendaraan listrik di Indonesia. Hal ini sangat disambut pemerintah Indonesia,” ungkap Wahyu.

Munculkan Dilema

Tak hanya itu, Wahyu mengungkapkan dilema yang ia tangkap dan harus dipikirkan bersama. “Akan jadi pertanyaan ketika produksi kendaraan listrik kita besar namun pembangkit listrik kita masih dari batu bara,” jelas Wahyu.

Alternatif rekomendasi menurut Wahyu tentu Indonesia ini harus konsekuen dengan emisi. “Kita perlu memikirkan energi apa yang dibutuhkan kemudian. Energi tidak melulu listrik. Kita memiliki energi lainnya,” terang Wahyu.

Di akhir, Wahyu menegaskan terkait alternatif energi harus konsekuen dengan kebijakan, tidak menguntungkan beberapa orang saja. Menurutnya, butuh komitmen yang jelas untuk negara ini.

“Kita membutuhkan komitmen dan eksistensi untuk transisi energi, bukan melarikan diri ataupun solusi palsu untuk memerangi perubahan iklim,” ungkapnya. (*)

Penulis: Shafa Aulia Ramadhani

Editor: Binti Q. Masruroh