Universitas Airlangga Official Website

Potensi Jahe Merah dan Temu Kunci sebagai Stimulator Enzim Antioksidan dan Antikanker

Potensi Jahe Merah dan Temu Kunci sebagai Stimulator Enzim Antioksidan dan Antikanker
Ilustrasi Jahe (Sumber: KlikDokter)

Indonesia memiliki banyak tanaman yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai tanaman obat alami, salah satunya adalah rimpang jahe merah (Zingiber officinale) dan temu kunci (Boesenbergia rotunda). Di masyarakat, Z. officinale dan B. rotunda banyak dimanfaatkan sebagai obat batuk, demam, gangguan saluran pencernaan, bronkitis, analgesik, antipiretik, antiinflamasi, dan antibakteri. Masyarakat sering menyebut obat tradisional dengan sebutan “jamu”. Keunggulan penggunaan obat tradisional alami antara lain memiliki efek samping yang relatif aman dibandingkan obat sintetis, harga yang lebih terjangkau, serta ketersediaannya melimpah karena dapat ditanam di kebun atau pekarangan. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa lebih dari 80% kesehatan manusia sangat bergantung pada berbagai obat tradisional, terutama yang berasal dari tanaman obat.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang banyak ditemukan pada Z. officinale adalah minyak atsiri, flavonoid, dan fenolik. Senyawa fenolik yang utama adalah gingerol, shogaol, paradol, zingerol, gingeron, dan polisakarida. Sementara itu, B. rotunda banyak mengandung senyawa kalkon, flavonoid, fenolik, sakuranetin, kardamonin, pinostrobin, dan pandurantin. Gingerol merupakan komponen utama Z. officinale, sedangkan pinostrobin merupakan komponen utama B. rotunda. Penelitian kami terdahulu menemukan bahwa baik ekstrak rimpang Z. officinale maupun B. rotunda mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan berbagai mineral (P, S, K, Ti, Mn, Fe, Cu, dan Zn. Beberapa peneliti menyatakan bahwa kandungan mineral yang terdapat dalam ekstrak tanaman obat berkorelasi dengan aktivitas enzim antioksidan maupun kandungan senyawa fenolik dan flavonoid. Cu, Zn, dan Mn merupakan mineral kofaktor bagi enzim antioksidan superoksida dismutase (SOD), sedangkan P dan K berperan dalam pembentukan senyawa fenolik dan flavonoid.

Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 untuk Z. officinale = 47 mg/mL dan B. rotunda = 67 mg/mL serta kombinasinya (rasio 1:1) sebesar 100 mg/mL. Berdasarkan nilai IC50 tersebut, ekstrak Z. officinale dapat dikatakan memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, sedangkan B. rotunda dan kombinasinya menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat. Perlakuan Pb-asetat menyebabkan peningkatan kadar MDA dan penurunan aktivitas enzim SOD dan CAT di hati secara signifikan dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan lainnya. Stres oksidatif yang disebabkan oleh pemberian Pb-asetat dapat dicegah dengan pemberian senyawa antioksidan eksogen. Senyawa antioksidan diharapkan dapat menangkap radikal bebas dan menetralkan molekul oksidan atau mencegah proses oksidasi molekul lainnya. Perlakuan ekstrak rimpang Z. officinale dan B. rotunda yang banyak mengandung senyawa fenolik dan flavonoid mampu meningkatkan kembali aktivitas enzim SOD dan CAT serta menurunkan kadar MDA di hati secara signifikan. Senyawa fenolik (gingerol, paradol, oleoresin dan shogaol) dan flavonoid (pandurantin, pinostrobin, chalcone, quercetin, catechin dan isoflavonoid) yang terdapat pada Z. officinale dan B. rotunda mampu meningkatkan aktivitas enzim SOD dan CAT serta menurunkan stres oksidatif yang terjadi di hati dan ginjal dengan berbagai cara, antara lain sebagai agen antioksidan, pengatur ekspresi gen, antikanker dan menurunkan kadar NO.

Ekstrak rimpang Z. officinale dan B. rotunda juga berpotensi menghambat proliferasi kultur sel kanker hati (HepG2). Perlakuan Z. officinale secara in vitro pada sel HepG2 memiliki IC50 = 86,94 mg/mL, B. rotunda IC50 = 42,97 mg/mL, sedangkan kombinasi Z. officinale dan B. rotunda memiliki IC50 = 66,10 mg/mL. Berdasarkan nilai IC50, aktivitas antikanker Z. officinale, B. rotunda dan kombinasinya bersifat moderate sitotoksik. Beberapa penelitian melaporkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid mampu mencegah atau mengurangi peroksidasi lipid dan menghambat proliferasi sel kanker dengan menghambat enzim PTK, PKC, NF-ĸB, siklooksigenase, lipoksigenase yang terlibat dalam transduksi sinyal. Dapat memblokir migrasi sel, menghambat pada siklus sel G1 atau G2, menghentikan fase G2/M, menekan proses metastasis dan mengatur ekskresi gen, sehingga menyebabkan apoptosis.

Penulis: Dr. Sugiharto, S.Si., M.Si.

Link: https://www.rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2024-17-8-10

https://doi.org/10.52711/0974-360X.2024.00562

Baca juga: Analisis Klaster Deret Waktu Kenaikan Harga Komoditas Pangan di Indonesia