UNAIR NEWS – Sejak penyakit HIV-AIDS kali pertama ditemukan di Indonesia pada 1987 di Bali, hingga saat ini, persebarannya menunjukkan peningkatan yang signifikan. Tercatat, sebanyak 336 kabupaten/kota di antara 498 kabupaten/kota di Indonesia telah tersebar HIV-AIDS.
Pada 2016, jumlah perkara HIV-AIDS di Indonesia mencapai 300.000 kasus. Sementara itu, estimasi jumlah kasus HIV-AIDS telah mencapai 600.000 perkara. Masalah yang kemudian berkembang sehubungan dengan penyakit itu adalah kecenderungan meningkatnya angka kejadian yang diikuti dengan angka kematian yang tinggi. Hal itulah yang menjadi fokus Prof. Dr. dr. R. Heru Prasetyo, M.S., Sp.Park., guru besar baru Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, dalam orasi pengukuhan guru besar pada Kamis (14/12).
Guru Besar Bidang Ilmu Parasitologi Kedokteran itu menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab meningkatnya angka kematian itu adalah kegagalan penanganan karena keterlambatan diagnosis infeksi oportunistik.
”Infeksi oportunistik inilah penyebab (kematian, Red) penderita HIV-AIDS. Bahkan, CDC (Centers for Disease Control and Prevention, badan Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat yang berbasis di DeKalb County, Georgia) telah memutuskan bahwa infeksi oportunistik masuk kelompok new emerging desease,” jelasnya.
Prof. Heru menambahkan, infeksi oportunistik mulai dikenal pada awal kejadian epidemik HIV yang ditandai dengan komplikasi klinik yang sangat berperan sebagai penyebab diare kronis dan peningkatan angka kematian penderita HIV. Sebelumnya, infeksi oportunistik jarang terjadi pada manusia, tapi pada hewan. Kini diketahui telah tersebar di negara berkembang.
Sebanyak 90 persen penderita defisiensi imun mengalami komplikasi diare kronis, terutama disebabkan infeksi oportunistik parasit protozoa Cryptosporidium. Infeksi itu menimbulkan penyakit diare yang disebut Cryptosporidiosis.
”Cryptosporidiosis telah dilaporkan di seluruh dunia. Penderitanya berumur mulai tiga hari sampai 95 tahun,” ujar Prof. Heru.
Cryptosporidiosis pada HIV-AIDS
Prof. Heru menjelaskan bahwa cryptosporidiosis pada penderita HIV-AIDS dengan diare sangat bervariasi secara geografis, terutama di daerah negara berkembang dan wilayah tropis. Prasetyo (2010) melaporkan hasil penelitian terhadap 122 penderita HIV-AIDS yang dirawat inap di UPIPI RSUD Dr. Soetomo Surabaya karena mengalami diare kronis. Terdapat 64 (52,46 persen) spesies feses penderitanya positif parasit Cryptosporidium.
Pada penderita HIV-AIDS, Cryptosporidiosis terjadi karena kontak feses saat anal-oral sex. Prasetyo (2012) mendapatkan data bahwa penderita HIV-AIDS homosexsual berpeluang lebih besar terkena Cryptosporidiosis dari pada yang seks normal.
”Yang perlu diperhatikan pula, Cryptosporidiosis usus pada penderita HIV-AIDS dapat mengalami penyebaran ke paru-paru dan kadang disalahsangkakan sebagai gejala tubekulosis,” kata Prof. Heru.
Potensi Madu
Persebaran Cryptosporidium yang luas, lanjut Prof. Heru, membuat langkah pencegahan menjadi lebih sulit. Perbaikan sanitasi dan hygiene perorangan bisa dilakukan. Terutama yang berisiko tinggi, yaitu individu yang mengalami defisiensi imun. Caranya, membatasi aktivitas sexual dan kontak dengan hewan. Termasuk yang diperlukan ODHA (orang dengan HIV-AIDS).
Selain itu, faktor sosial turut mengurangi potensi yang lebih besar dari ODHA. Prof. Heru mengungkapkan, upaya mengurangi persebaran HIV dan pencegahan infeksi oportunistik pada ODHA selama ini adalah dengan pemberian ARV (Anti Retro Virus).
Sementara itu, madu juga memiliki potensi dalam upaya pencegahan dan pengurangan virus tersebut. Terkait HIV-AIDS, para peneliti di School of Medicine-Washington University telah melakukan penelitian dengan racun sengatan lebah. Hasilnya menunjukkan, sengatan lebah akan menutupi sel T atau limfosit yang merupakan target HIV sehingga virus HIV tak mampu mengenali targetnya.
Prof. Heru mengungkapkan, seperti halnya dalam penelitian tim UPIPI RSU Dr. Soetomo Surabaya pada hewan, madu dapat bertindak sebagai stimulant stem cells usus untuk regenerasi mengganti dan memperbaikinya bila terjadi kerusakan epitel mokusa usus halus. Jadi, pemberian asupan madu tersebut diharapkan juga dapat diterapkan dalam regenerasi penderita HIV-AIDS yang mengalami kerusakan epitel mukosa usus akibat infeksi oportunistik Cryptosporidium.
”Perbaikan epitel mokusa usus ini akan meningkatkan kembali imunitas mokusa usus sehingga dapat membentengi diri dari infeksi oportunistik parasit Cryptosporidium,” tambah Prof. Heru. (*)
Penulis: Feri Fenoria
Editor: Nuri Hermawan





