Universitas Airlangga Official Website

Potensi Oksida Grafena sebagai untuk Kemasan Makanan yang Aman

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kemasan makanan aktif (active packaging) adalah jenis kemasan inovatif yang dirancang untuk berinteraksi langsung dengan isi kemasan untuk memperpanjang umur simpan, menjaga kualitas, dan meningkatkan keamanan makanan dengan cara menghilangkan atau melepaskan zat tertentu, berbeda dari kemasan biasa yang hanya berfungsi sebagai pelindung fisik. Teknologi ini bekerja dengan cara aktif, seperti menyerap oksigen atau uap air, melepaskan pengawet alami atau antioksidan, dan mengendalikan etilen untuk memperlambat pematangan.  Kemasan makanan aktif bekerja dengan cara menghilangkan komponen yang merusak, seperti penyerap Oksigen untuk mencegah ketengikan dan perubahan warna pada produk kering (misalnya keripik), penyerap uap air untuk menjaga kerenyahan makanan kering, penyerap etilen sehingga memperlambat pematangan dan pembusukan buah serta sayuran. Selain itu kemasan makanan aktif juga melepaskan zat yang bermanfaat, misalnya antimikroba alami untuk mencegah pertumbuhan bakteri, antioksidan untuk melindungi dari oksidasi, dan pelepas Karbon Dioksida yang berfungsi sebagai pengawet pada kopi dan minuman.

Permintaan kemasan makanan aktif terus meningkat pesat seiring dengan pencarian industri makanan akan strategi yang lebih efektif untuk memperpanjang umur simpan, mempertahankan kualitas, dan menjamin keamanan makanan melebihi batasan bahan kemasan konvensional. Kemasan tradisional sering kali mengalami masalah seperti permeabilitas gas yang tinggi serta aktivitas antioksidan atau antimikroba yang terbatas. Hal ini mendorong eksplorasi solusi berbasis nanoteknologi untuk meningkatkan kualitas kemasan. Salah satu kandidat menjanjikan dalam inovasi ini adalah grafena oksida (GO), yang menarik perhatian besar karena strukturnya yang unik. GO terdiri dari lembaran tipis atom yang dihiasi dengan gugus yang mengandung oksigen, serta memiliki luas permukaan yang sangat besar. Karakteristik ini memungkinkan GO untuk memperkuat matriks polimer, meningkatkan kekuatan mekanik, stabilitas termal, dan sifat penghalang, sekaligus memberikan bioaktivitas multifungsi. Bukti eksperimental menunjukkan bahwa GO memiliki efek antimikroba melalui beberapa mekanisme, seperti disrupsi membran mikroba, pembentukan spesies reaktif oksigen (ROS), dan gangguan pertukaran nutrisi. Selain itu, kapasitas antioksidannya memungkinkan GO untuk menangkal radikal dan menghambat oksidasi lipid. Berbagai aplikasi telah ditunjukkan pada komposit nanopolimer, pelapis permukaan, dan sensor pintar, di mana GO tidak hanya memperkuat bahan kemasan tetapi juga berfungsi sebagai indikator kesegaran untuk makanan mudah busuk seperti daging, produk susu, buah-buahan, dan ikan. Namun, meski memiliki banyak keuntungan, masih terdapat tantangan yang perlu diatasi, seperti masalah toksisitas, risiko migrasi partikel, dan kurangnya regulasi internasional yang harmonis. Oleh karena itu, penelitian di masa depan perlu menekankan pada penilaian toksikologis yang komprehensif, pendekatan sintesis yang ramah lingkungan dan dapat diskalakan, serta integrasi dengan polimer biodegradable. Mengatasi kekurangan-kekurangan ini dapat menjadikan GO sebagai platform yang aman, berkelanjutan, dan inovatif untuk kemasan makanan aktif dan cerdas generasi mendatang. Dengan kemajuan yang berkelanjutan dalam teknologi kemasan, diharapkan produk makanan yang lebih segar dan aman akan tersedia bagi konsumen, membantu mengurangi limbah makanan dan meningkatkan kualitas hidup. Ke depan, kolaborasi antara ilmuwan, industri, dan pembuat kebijakan akan menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi grafena oksida dalam bidang kemasan makanan.

Industri makanan modern menghadapi sejumlah tantangan besar dalam menjaga umur simpan, keamanan, dan kualitas produknya. Masalah ini semakin diperparah dengan proyeksi peningkatan populasi dunia menjadi 9,7 miliar orang pada tahun 2050 serta permintaan yang terus meningkat terhadap makanan siap saji yang diperkirakan mencapai lebih dari $486 miliar secara global pada tahun 2023. Kemasan makanan selama ini berfungsi sebagai penghalang pasif untuk mempermudah distribusi dan mencegah kontaminasi fisik. Namun, tuntutan modern mendorong kebutuhan akan kemasan yang dapat secara aktif berinteraksi dengan produk dan lingkungannya untuk mencegah pertumbuhan mikroba, mengurangi kerusakan, dan mempertahankan kualitas sensorik makanan. Konsep ini dikenal sebagai kemasan aktif. Kemasan plastik sintetis masih sering digunakan karena biaya yang murah, ringan, dan mudah ditangani. Meskipun demikian, sejumlah keterbatasan mengurangi efektivitasnya. Misalnya, plastik kemasan menyumbang lebih dari 36% dari total penggunaan plastik global, dengan permeabilitas oksigen yang cukup tinggi dan risiko migrasi bahan kimia pada suhu di atas 70 °C. Selain itu, kemasan plastik tradisional kurang memiliki sifat antimikroba dan antioksidan, yang membuat perlu untuk menambahkan pengawet secara langsung ke produk makanan, yang dapat menimbulkan efek kesehatan negatif dan penolakan dari konsumen. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, nanoteknologi muncul sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan kinerja kemasan. Dengan menggunakan bahan pada skala nano, kualitas mekanik, penghalang, dan fungsional kemasan dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan fleksibilitas atau transparansi. Salah satu bahan yang menonjol dalam dua dekade terakhir adalah grafena oksida (GO). GO merupakan turunan grafena dua dimensi yang mengandung gugus fungsional oksigen yang memudahkan dispersibilitas dalam polimer dan modifikasi kimia.

Karakteristik unik GO menjadikannya pilihan yang menarik untuk kemasan aktif. Penambahan GO ke dalam matriks polimer telah terbukti meningkatkan kekuatan tarik dan ketahanan sobek. Data eksperimen menunjukkan bahwa penambahan 0,5% GO ke dalam kitosan meningkatkan perpanjangan saat putus, serta kekuatan material, sambil mengurangi permeabilitas uap air secara signifikan. Dalam film PBAT, 1% GO berhasil menurunkan permeabilitas oksigen hingga 70.1%. Selain itu, film berbasis GO dapat mengurangi jumlah koloni Salmonella dan E. coli hingga 99.9% dalam waktu 24 jam. Secara fungsional, GO menunjukkan aktivitas antimikroba melalui induksi stres oksidatif, disrupsi membran sel, dan interaksi biomolekul. GO juga melindungi makanan dari oksidasi lipid berkat kemampuannya dalam menangkal radikal bebas. Inovasi terbaru bahkan menunjukkan bahwa kemasan kertas yang dilapisi GO dapat meningkatkan kekuatan tarik dan memberikan ketahanan terhadap minyak dan air tanpa menggunakan bahan berbahaya, sambil tetap dapat terurai. Meskipun potensi GO dalam kemasan makanan menjanjikan, masih ada kekhawatiran terkait toksisitas dan keamanannya. Beberapa penelitian melaporkan bahwa paparan GO di atas ambang tertentu dapat menyebabkan stres oksidatif dan sitotoksisitas pada kultur sel mamalia. Oleh karena itu, sebelum GO dapat digunakan secara luas, diperlukan analisis toksikologis yang menyeluruh dan pertimbangan regulasi yang cermat. Biaya produksinya yang tinggi dan terbatasnya teknologi manufaktur skala industri juga menjadi tantangan.

Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/unveiling-the-potential-of-graphene-oxide-as-a-multifunctional-pl/fingerprints/