Universitas Airlangga Official Website

Produksi Daphnia magna dengan Kaldu Ayam dan Kotoran Ayam

Foto by detikFood

D. magna adalah filter feeder yang memakan bakteri, ragi, ganggang uniseluler, puing-puing, dan bahan organik terlarut. D. magna dewasa dengan ukuran 2-3 mm dapat menangkap partikel berukuran 60-140 mikron, sedangkan D.magna muda kurang dari 1 mm dapat menyaring partikel kecil berukuran 20-30 mikron. D. magna memilih untuk menyerap partikel makanan dengan memisahkan bahan yang tidak dapat dimakan dengan cakar/kuku berbulunya. D. magna tumbuh di air dengan bahan organik dan mineral tersuspensi, menyaringnya, dan memakan semuanya dalam dua jam pertama. Selain itu, makanan yang ditemukan di kerongkongan seluruhnya terdiri dari partikel organik. Perkembangan D. magna dengan kecukupan pangan akan meningkatkan pertumbuhan. Populasi D. magna akan turun jika makanan langka. Hal ini disebabkan kematian yang disebabkan oleh persaingan. Kandungan nutrisi untuk pakan D. magna mengacu pada kandungan nutrisi phytoplankton yang memiliki nilai protein 4 – 10%, karbohidrat 3 – 5% dan lemak 1 – 3%.

Media budaya penting bagi keberhasilan D. magna. Hal ini karena dipengaruhi oleh berbagai faktor ekologi perairan seperti suhu, oksigen terlarut dan pH. Daphnia sp. dapat beradaptasi dengan baik terhadap perubahan lingkungan. Daphnia sp. tahanan terhadap perubahan suhu harian atau tahunan. Kisaran suhu yang ditoleransi oleh Daphnia sp. tergantung pada usia dan adaptasi terhadap suhu tertentu. Daphnia sp. mampu tumbuh dan berkembang biak pada suhu 24 – 28ºC dan di luar kisaran tersebut Daphnia sp. akan cenderung pada kondisi dorman, selain itu adaptasi pada suhu rendah memungkinkan spesies ini hidup pada suhu 3ºC dibawah nol. Khan dan Khan (2008) juga menjelaskan bahwa ketika suhu naik hingga 6ºC Daphnia sp. menjadi lebih aktif, terjadi peningkatan detak jantung dan pernapasan, serta penyesuaian diri. usia Daphnia sp. bergantung pada suhu lingkungan. Pada suhu 28ºC, 18ºC, 8ºC masing-masing dapat mencapai umur 26, 42, 108 hari. Siklus hidup Daphnia sp. sangat beragam tergantung spesies dan lingkungannya. Temperatur air media yang rendah pada 14–17ºC akan menghasilkan individu jantan, di kadaan tersebut memungkinkan unutk mengubah metabolisme Daphna sehingga bisa mempengaruhi sistem bagian kromosom. Daphnia sp. akan mencapai reproduksi paling tinggi pada suhu 21ºC.

Derajat keasaman ialah gambaran jumlah atau aktifitas ion hidrogen dalam perairan. Secara universal nilai pH menunjukkan seberapa asam atau basa suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan asam, sedangkan pH > 7 dikatakan basa. Daphnia sp. memerlukan pH dengan kondisi sedikit alkalin yaitu antara 6.5-8,5. pH optimum untuk pertumbuhan Daphnia sp. adalah pH 7,0 – 8,2. Nilai pH tinggi secara signifikan dapat menurunkan kelangsungan hidup telur dan kebugaran zooplankton microcrustacean. Lingkungan yang ber-pH antara 6,6–7,4 Daphnia sp. telah menjadi dewasa pada umur 4–5 hari.

Amonia (NH3) merupakan sisa proses metabolisme organisme atau dekomposisi dari sisa pakan atau plankton yang mati. Dekomposisi adalah proses peruraian bahan organik menjadi bagian atau molekul yang lebih sederhana. Sehingga sisa pakan dan kotoran organisme dipecah menjadi nitrogen dalam bentuk amonia. Selain faktor tersebut, hal yang dapat meningkatkan konsentrasi amonia ialah filter yang tidak berfungsi dengan baik, serta pergantian air kolam yang tidak teratur. Konsentrasi NH3 atau amonia dipengaruhi atau ditentukan oleh pH dan suhu. Kandungan NH3 tertinggi dijumpai pada siang hari saat CO2 rendah dan pH tinggi. Hasil ekskresi organisme juga mempengaruhi kandungan amonia dalam air. Ekskresi organisme berasal dari katabolisme protein pakan dan dikeluarkan dalam bentuk amonia. Konsentrasi amonia yang berada dalam batas toleransi D. magna berkisar antara 0,35 hingga 0,61 mg/L.

Daphnia sp. ialah salah satu jenis pakan alami yang dibudidayakan guna memenuhi kebutuhan pembenihan ikan air tawar. Larva ikan merupakan konsumen paling banyak yang memerlukan pakan alami yaitu D. magna, karena sifatnya yang sesuai bagi larva ikan. D. magna merupakan pakan alami larva yang bersifat filter feeder (Ebert. 2013). D. magna digunakan sebagai sumber pakan alami larva ikan karena nlai gizinya, ukuranya yang sesuai bukaan mulut larva ikan, dan dapat dibudidayakan dalalm jumlah banyak.

Penulis: Yudi Cahyoko

Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Airlangga, Mulyorejo Street, Surabaya 60115, Indonesia

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1036/1/012088/meta

Rizky Firdha YuniarH, Yudi Cahyoko and Luthfiana Aprilianita Sari