UNAIR NEWS – Sulitnya penyembuhan cedera saraf yang selama ini menjadi keresahan dunia medis menemukan titik terang melalui inovasi rekayasa jaringan saraf. Hal tersebut menjadi bagian dari orasi Prof Dr Heri Suroto dr SpOT SubspTLBM MARS saat pengukuhannya sebagai guru besar. Prosesi pengukuhan tersebut berlangsung pada Kamis (22/1/2026) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus MERR-C, Universitas Airlangga (UNAIR).
Guru Besar Bidang Ilmu Soft Tissue and Microsurgical Reconstruction tersebut menuturkan bahwa rekayasa jaringan saraf hadir sebagai jawaban atas tantangan penanganan cedera jaringan saraf utama penggerak lengan atau Pleksus Brakhialis. Menurutnya, cedera Pleksus Brakhialis menjadi permasalahan kompleks yang belum sepenuhnya dapat terselesaikan melalui rekonstruksi bedah mikro.
Hal tersebut terjadi karena cedera Pleksus Brakhialis serta degenerasi progresif jaringan saraf dan otot yang terus berlangsung seiring waktu. Meskipun tindakan bedah telah dilakukan. “Penyebab cedera Pleksus Brakhialis tercatat 76 persen akibat dari kecelakaan sepeda motor. Yang mana dialami oleh dengan rata-rata usia 27 tahun,” ujar Prof Heri.
Inovasi Kesehatan
Lebih lanjut, Prof Heri menjelaskan bahwa pengembangan rekayasa jaringan saraf bertujuan untuk menciptakan lingkungan biologis yang mendukung proses regenerasi saraf. Metode tersebut memanfaatkan kombinasi antara biokomposit selaput amnion dengan sel punca mesenkimal.

Inovasi rekayasa jaringan saraf tersebut, kata Prof Heri, diaplikasikan sebagai augmentasi pada prosedur transfer saraf. Berdasarkan hasil studi eksperimental dan uji klinis awal, penerapan rekayasa jaringan saraf menunjukkan regenerasi saraf yang lebih optimal dan pemulihan fungsi otot yang lebih baik.
“Pendekatan rekayasa jaringan saraf dilakukan dengan penyemaian stem cell mesenchymal dan jaringan lemak pada Amnion Membrane. Hasil yang kami dapatkan adalah stem cell dalam keadaan hidup, dapat melekat dalam Amnion Membrane,” jelas Prof Heri.
Kolaborasi Multidisiplin
Cedera Pleksus Brakhialis memerlukan penanganan yang tepat waktu dan kolaborasi multidisiplin untuk mengoptimalkan peluang pemulihan fungsi. Prof Heri menyebut Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo Surabaya sebagai salah satu rujukan untuk penanganan cedera Pleksus Brakhialis melibatkan kolaborasi multidisiplin ilmu. Yang meliputi dokter spesialis ortopedi, bedah mikro, rehabilitasi medik, dan kedokteran jiwa.
Penemuan inovasi rekayasa jaringan saraf menjadi bagian dari perjalanan akademik dan profesional Prof Heri. Yang ia maknai melalui filosofi HSO Orthopaedic Life Tree. Sebagai refleksi keterpaduan antara pelayanan, pendidikan, dan riset. Bagi Prof Heri, tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, menjadi akar yang kuat hingga mampu menumbuhkan cabang maupun ranting berupa banyaknya tindakan operasi.
“Akhirnya pertumbuhan yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula. Dari publikasi, penulisan buku, hak cipta, dan bahkan produk yang telah terhilirisasi. Buah-buah tersebut kembali dapat memberi manfaat dan dinikmati oleh pasien, akademisi, dan institusi baik RSUD Dr Soetomo maupun Universitas Airlangga Surabaya,” pungkasnya.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Yulia Rohmawati





