Universitas Airlangga Official Website

Prof Lilik Kembangkan Obat Antimalaria Baru dan Model Terapi Adjuvant

Foto: Agus Irwanto

UNAIR NEWS – Prof Dr Lilik Maslachah drh MKes resmi dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Farmasi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Rabu (10/8/2022). Dalam pidatonya, Prof Lilik menyampaikan penelitian berjudul Future Prespectives Obat Antimalaria Baru dan Model Terapi Adjuvant.

Dalam masalah kesehatan, total kasus malaria di Indonesia pada 2021 mencapai 94.610 kasus, kata Lilik, Papua menempati provinsi tertinggi, hingga mencapai 86.022 atau (90,9 persen) kasus malaria. Mengatasi hal itu, organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan terapi kombinasi berbasis artemisinin untuk malaria tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Plasmodium Falciparum.

Akan tetapi, dosen senior FKH itu mengatakan faktor internal P. Falciparum dapat mempengaruhi pola ekspresi protein sehingga menyebabkan efek patologi pada penderita. “Hingga kini belum ada vaksin anti malaria, sehingga masih sangat tergantung pada penggunaan obat anti malaria,” terang anggota Persatuan Dokter Hewan Indonesia itu.

Perkembangan Obat Antimalaria Baru

Selain solusi dari WHO, beberapa daerah di Indonesia juga banyak yang telah eksplorasi obat tradisional yang berasal dari bahan alam. Hal ini sebagai kombinasi baru dari formulasi obat antimalaria dan pengembangan formulasi nanopartikel.

“Paparan artemisinin secara in vitro (kultur sel), dapat menyebabkan overekspresi target aksi tryptophan-rich protein oleh promoter P. Falciparum,” papar dosen yang memiliki jurnal terindeks Scopus sejumlah 20 itu.

Ia juga menerangkan penelitian secara in vivo (menggunakan hewan coba) pada rodent, artemisinin dapat menyebabkan perubahan pada leukosit.

Menekan Keparahan Infeksi Malaria

Untuk menurunkan tingkat kematian akibat malaria, ia menyebut beberapa hasil penelitian pada hewan model malaria melalui terapi adjuvant yakni pemberian MMP-inhibitor, deksametason, flavonoid, quercetin, inhibitor kinase, mikronutrien selenium, dan ekstrak tomat.

Selepas terapi tersebutmenunjukkan perbaikan pada infeksi malaria. Selain ekstrak tomat, penggunaan ekstrak juwet dengan kloroquin juga dapat mempercepat mengusir parasit dan  meminimalisir kekambuhan, memperbaiki peredaran darah, dan memperbaiki kerusakan organ hati, ginjal, paru  dan otak pada hewan model malaria.

“Pengembangan formulasi nanopartikel ekstrak buah juwet mampu meningkatkan kemanjuran dan efek terapi. Artinya, penelitian terapi adjuvant masih sangat terbuka dan mempunyai prospek untuk terus dikembangkan,” tegasnya.

Diiringi rasa haru, Prof Lilik mengucapkan terima kasih kepada orang tua, keluarga, civitas akademika UNAIR, dan setiap pihak yang memberikan dukungan, waktu, dan rasa kekeluargaan yang telah dibagikan untuknya.

Sebagai informasi, perempuan kelahiran Lumajang, 31 Maret 1968 tersebut menjadi Guru Besar FKH aktif ke-36, Guru Besar UNAIR Sejak Berdiri ke 550, dan Guru Besar UNAIR PTN-BH 258. Ia pun berkomitmen untuk menjalankan tanggung jawab moral seorang guru besar melalui karya dan pikiran yang bermanfaat bagi institusi, masyarakat, bangsa, dan negara. (*)

Penulis : Viradyah Lulut Santosa

Editor : Binti Q. Masruroh