UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., mendapatkan kehormatan memberikan Keynote Speech dalam forum rektor se-Asia Pasifik. Dalam event yang dihelat pada 20 hingga 21 November 2017 tersebut, Prof. Nasih menyampaikan paparan berjudul Industry 4.0: Roles of Universities in Preparing The 4th Industrial Revolution-Ready Generation. Acara itu secara umum memang membahas tema “Tantangan dan Kesempatan Pendidikan Tinggi dalam Menghadapi Revolusi Industri Keempat”.
Dalam Forum yang dilaksanakan di Asia University International Conference Hall, Taiwan, Prof. Nasih mengatakan, di era Revolusi Industri 4.0, yang muncul sebagai akibat kemajuan teknologi dan perkembangan situasi sosial, kampus-kampus harus makin cakap mencetak generasi berkompeten. Perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, termasuk UNAIR, berupaya keras untuk memahami dan menyikapi kondisi ini secara proporsional.
“Sebab, kualitas sivitas akademika, akan memengaruhi keluaran atau bentuk sumbangsih kampus bagi masyarakat,” jelasnya.
Adanya Revolusi Industri 4.0, tambah Prof. Nasih membuat kebutuhan masyarakat dan para stake holder menjadi serba kompleks. “Maka itu, pihak kampus harus mampu memenangkan tantangan tersebut. Caranya, memersiapkan generasi yang brilian untuk bersaing di era kekinian,” imbuhnya.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah menggariskan kewajiban bagi kampus untuk melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan cara ini, soft skill dan kecakapan akademik sivitas dilatih. Di era kekinian, Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, mesti diarahkan pada target yang benar. Sehingga, kualitas manfaatnya pun tepat dan berbobot. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan para stake holder.
Aspek yang perlu dimiliki sivitas akademika menurut Prof. Nasih adalah kemampuan untuk menguasasi konveregensi Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic.
“UNAIR sudah dan sedang menjalankan itu semua. Konvergensi elemen-elemen berbasis teknologi akan membuat sistem pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. Semua jadi lebih cepat, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan zaman,” urai dia.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan kampus untuk menyiapkan SDM yang sesuai kebutuhan zaman. Di antaranya, terang Prof. Nasih, upaya menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berbasis entrepreneurship di segala bidang atau disiplin ilmu, pengembangan Research Based Learning, serta penguatan pendidikan terintegrasi lintas ranah keilmuan. Misalnya, mahasiswa jurusan manajemen, juga belajar tentang teknologi informasi dan strategi komunikasi.
“Dengan mekanisme ini, kampus dapat memfasilitasi terbentuknya skema pendidikan antar disiplin keilmuan. UNAIR telah melakukan itu, misalnya dengan mendirikan Airlangga Health and Science Institute atau AHSI. Di AHSI, tidak hanya para akademisi bidang kedokteran dan kesehatan yang bergabung, namun juga di bidang manajemen, sosial, dan lain sebagainya,” papar Nasih.
Selanjutnya, Prof. Nasih juga mengatakan bahwa perguruan tinggi juga mesti mewajibkan para dosen maupun mahasiswa untuk melakukan kajian lapangan secara langsung. Sehingga, kebutuhan di setiap level masyarakat dapat diketahui secara pasti. Yang tak kalah penting menurut Prof. Nasih adalah turut berpartisipasi dalam pembelajaran berbasis komunitas.
“Hal ini tentunya dengan tujuan untuk mencari solusi atas persoalan kewilayahan, baik lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Hingga saat ini, UNAIR juga sudah aktif melakukan kajian komprehensif di komunitas hingga level ASEAN dan dunia,” terang Guru Besar FEB UNAIR itu.
Pada akhir, Prof. Nasih kembali menegaskan bahwa kampus harus bersikap terbuka pada informasi. Mesti ada sistem informasi manajemen yang baik. Sehingga tiap unit dapat kompak dan maju bersama. Sebab, sinergitas dan integritas selalu menjadi kunci keberhasilan dalam tiap persaingan.
Kampus, tambah Prof. Nasih juga harus lebih aktif dalam menerjemahkan kebutuhan masyarakat, pasar, dan stake holder. Sehingga, strategi atau arah pendidikan dapat ditetapkan dengan target yang sesuai. Selain itu, menurutnya kampus juga harus peduli dengan kebijakan pemerintah. Maksudnya, perguruan tinggi wajib memiliki peran dalam memberi masukan kongkret bagi eksekutif. Sebagai entitas sosial pendidikan, peran ini merupakan tanggungjawab yang melekat.
“Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan yang signifikan di pasar global. Yang imbasnya menjalar ke segala bidang dalam kehidupan. Termasuk pendidikan,” kata Prof. Nasih.
Oleh sebab itu, tandas Prof. Nasih, perguruan tinggi tidak boleh stagnan dan gampang berpuas diri. Kampus tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan zaman. Para mahasiswa harus dibekali dengan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan para pemangku kepentingan dan masyarakat. Sehingga, kebermanfaatan mereka dapat lebih optimal.
Dalam forum Asia University Higher Education Forum University Rectors and Presidents tersebut , Prof. Nasih bersanding dengan rektor maupun pemimpin institusi dari berbagai negara, di antaranya Chang-Hai Tsai, M.D, Ph.D (Founder & Chairman of the Board Asia University), Dr. Chung-Laung Liu (Academician, Academia Sinica R.O.C), Jong-Tsung Huang (President Higher Education Evaluation & Accreditation Council of Taiwan), Jeffrey J.P. Tsai (President Asia University), Huey-Jen Su (President National Cheng Kung University).
Satyendra Patnaik (Rector/Advisor KiiT University India), Singharajwarapan (Acting President of Chiang Mai University Thailand), dan Yao-Ting Sung (Vice President National Taiwan Normal University). Selain itu, dari Indonesia ada Rektor Universitas Diponegoro Yos Johan dan Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Gunawan. (*)
Penulis : Rio F. Rachman
Editor : Nuri Hermawan





