UNAIR NEWS – Fakultas Psikologi Universitas Airlangga melaksanakan pengabdian masyarakat di Yogyakarta. Kegiatan yang berjudul Digital Parenting: Mengatasi Potensi Adiksi Internet Anak ini berlangsung pada hari Sabtu, tanggal 16 September 2023. Bekerja sama dengan sebuah komunitas yang bernama Seri Mini Sharing Psikologi (SMSP) Yogyakarta, program pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi kasus-kasus terkait adiksi internet yang ada di kota pelajar.
Yogyakarta merupakan salah satu provinsi dimana hampir 100% sekolahnya memiliki fasilitas internet. Bahkan hasil survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2022, Yogyakarta menjadi provinsi tertinggi dengan jenis fasilitas tambahan kuota internet pada murid-muridnya selama masa pandemi. Dapat dikatakan bahwa anak dan remaja yang ada di kota tersebut memiliki akses yang cukup luas pada internet.
Kolaborasi Keilmuan dan Praktik
Silvie Trisdaryanti, S.Psi., Psikolog, C. Ht., psikolog sekaligus pengelola dari SMSP, memaparkan kasus-kasus yang pernah ditanganinya. Dari level ringan seperti orangtua yang kebingungan mengatur jadwal penggunaan gawai anaknya hingga level berat dimana ada anak yang hampir membunuh ibunya karena gawainya diambil oleh ibu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang Digital Parenting sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan orangtua dalam mendampingi anak-anaknya di era digital ini. Ia juga mencontohkan salah satu aplikasi yang dapat digunakan semua anggota keluarga dalam memonitor penggunaan gawai di kurun waktu tertentu.
Setelah istirahat siang, Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si., Psikolog melanjutkan kegiatan dengan penjelasan tentang teknik safe online behavior and activity yang perlu dicermati orangtua. Diawali dengan risiko-risiko yang mungkin dihadapi anak saat mengakses internet, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tersebut mengajak orangtua untuk berpikir ulang tentang perilaku-perilaku yang selama ini dilakukan seperti memberikan informasi-informasi yang bersifat privasi di internet.
Berikutnya, Mima, panggilannya, menekankan tentang pentingnya komunikasi yang terjadi antara orangtua dan anak dalam menerapkan Digital Parenting. “Strategi apapun tidak akan berhasil bila orangtua tidak dapat mengkomunikasikan pesan-pesannya dengan baik,” tegasnya.
Tindak Lanjut
Kegiatan ini ditutup dengan aktivitas Focused Group Discussion (FGD) dan Role Play. Saat FGD, peserta membahas tentang kasus-kasus yang telah disiapkan oleh abdimas. Hasil akhir dari diskusi diwujudkan dalam sebuah skenario drama pendek yang ditampilkan di akhir kegiatan.
Orangtua yang menjadi peserta sangat antusias selama kegiatan ini. Sebagai feedback akhir, mereka mengidentifikasi upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan setelah mereka meninggalkan lokasi kegiatan tersebut untuk mendampingi anak-anak mereka.
“Pengmas ini diharapkan tidak berhenti di sini saja, namun juga dapat ditindaklanjuti dengan melibatkan orangtua yang lebih banyak lagi, terutama di daerah-daerah yang memiliki tingkat pengguna internet yang tinggi di usia anak dan remaja,” tutup Mima.
Sebagai informasi, pelaksanaan pengabdian masyarakat ini juga melibatkan Kelompok Kajian Pengasuhan dan Pendidikan dalam Keluarga (PPdK) yang merupakan salah satu kelompok kajian di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.





