Universitas Airlangga Official Website

Purifikasi Limbah PLTU Berbasis IoT Bawa Tim UNAIR Raih Penghargaan Product Innovation

Tim Universitas Airlangga (UNAIR) meraih posisi 4th Runner-Up dalam kompetisi American Institute Of Chemical Engineers (AIChe) Process & Scale-Up 2.0 Product Innovation di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Sabtu (15/2/2025) (Foto: Dok. Narasumber)
Tim Universitas Airlangga (UNAIR) meraih posisi 4th Runner-Up dalam kompetisi American Institute Of Chemical Engineers (AIChe) Process & Scale-Up 2.0 Product Innovation di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Sabtu (15/2/2025) (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Tim Universitas Airlangga (UNAIR)  berhasil meraih posisi 4th Runner-Up dalam kompetisi American Institute of Chemical Engineers (AIChe). Kali ini, AIChe bertema Process & Scale-Up 2.0 Product Innovation. Kompetisi ini berlangsung di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Sabtu (15/2/2025). Tim ini beranggotakan Muhammad Kevin Mulki Hakim, Lia Farihatus Sa’diyah dan Ainun Azka Rohmatillah dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Mereka menginisiasi inovasi berupa purifikasi limbah PLTU berbasis IoT berjudul LACATION: Inovasi Teknologi Purifikasi Terintegrasi IoT pada PLTU Leachate Waste Menggunakan Skeletonema Costatum Sebagai Fitoremediator guna Mewujudkan Green Industry.

Pencemaran lingkungan akibat limbah cair dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Regulasi yang belum cukup ketat menyebabkan limbah ini seringkali terbuang ke perairan pesisir tanpa pengolahan yang memadai. Sehingga menyebabkan penurunan kualitas air yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Menyadari permasalahan ini, tim UNAIR mengembangkan LACATION sebagai solusi inovatif yang dapat mengolah air limbah sebelum dibuang ke lingkungan.

Menurut analisis dari Indonesian Center for Environmental Law (ISDEL), sekitar 82 persen dari PLTU di Indonesia berada di pesisir dan sangat rentan mencemari lingkungan. WHO mencatat bahwa buruknya kualitas air akibat pencemaran dapat menyebabkan sekitar 50 persen penyakit di negara berkembang. “Kami melihat urgensi dari masalah ini dan merasa bahwa inovasi berbasis teknologi adalah solusi yang diperlukan,” ujar Ainun mewakili tim.

LACATION adalah teknologi purifikasi air yang mengkombinasikan metode filtrasi, fitoremediasi menggunakan Skeletonema costatum serta teknologi berbasis IoT. Sistem ini terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, pretreatment yang menyaring partikel besar menggunakan teknologi water purifier. Selanjutnya, sterilisasi logam berat menggunakan mikroalga yang mampu mengikat ion berbahaya seperti merkuri, kadmium, dan timbal. Tahapan terakhir berupa purifikasi akhir dengan proses reverse osmosis yang mampu menyaring bakteri hingga ukuran 0,001 mikron. 

“Mikroalga Skeletonema costatum memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap logam berat. Hal tersebut menjadikannya pilihan utama dalam sistem kami,” jelas Ainun. Selain itu, kualitas air hasil purifikasi terpantau secara real-time melalui sensor IoT. Termasuk sensor pH (PJKIT4502C), sensor TDS (DFROBOT), dan sensor suhu (DS18B20), yang mengirimkan data langsung ke smartphone pengguna. Teknologi ini juga menggunakan energi panel surya, menjadikannya lebih ramah lingkungan dan efisien.

Air yang telah dipurifikasi dengan LACATION dapat termanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan. Seperti cadangan air bersih, irigasi pertanian, atau bahkan kebutuhan konsumsi. Dengan teknologi portabel ini, pencemaran akibat limbah cair PLTU dapat terminimalisasi secara berkelanjutan.

Tim berharap inovasi LACATION dapat mereka kembangkan lebih lanjut dengan dukungan instansi terkait. Seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan konsep green industry, mereka ingin memberikan solusi nyata bagi permasalahan limbah PLTU. Sehingga, teknologi ini dapat terimplimentasi secara luas untuk menjaga kelestarian lingkungan. 

“Dukungan dari berbagai pihak akan sangat membantu kami dalam menyempurnakan dan mengembangkan LACATION agar benar-benar bisa diterapkan di industri,” tambah Ainun. Mereka berharap LACATION dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan solusi berkelanjutan bagi masa depan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Namun, dalam proses pengembangannya, tim menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal pendanaan untuk mengikuti kompetisi tersebut. “Kami harus mencari berbagai alternatif pendanaan, bahkan menggunakan dana pribadi untuk memastikan keikutsertaan kami dalam kompetisi ini,” ungkap Ainun. Meskipun demikian, berkat semangat dan kerja sama tim yang kuat, mereka tetap berhasil meraih pencapaian yang membanggakan.

Ainun menyampaikan bahwa partisipasi dalam kompetisi ini memberikan pengalaman berharga. “Kami belajar banyak tentang penerapan teknologi hijau dan tantangan dalam implementasinya. Harapannya, LACATION bisa dikembangkan lebih jauh dan benar-benar diterapkan dalam industri,” ujarnya.

Ainun juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pencemaran lingkungan. “Kami ingin mengajak semua orang untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Dengan inovasi seperti ini, kami bisa bersama-sama menjaga keberlanjutan ekosistem kita,” pungkasnya.

Penulis: Anggun Latifatunisa

Editor Yulia Rohmawati